15. MENYEMBUHKAN LUKA
"Ngapain lo?" tanya Aileen. "Kurang kerjaan?"
Dafa membuka helm full face nya. Laki-laki itu kemudian mendekat pada posisi Aileen berdiri. "Leen, gue mau minta maaf sama lo," katanya. "Gue tahu gue salah. Gak apa-apa kalau Sagara sama yang lainnya benci sama gue, asal jangan lo, Leen."
Aileen tersenyum licik. "Lo ngajarin gue untuk berkhianat kayak lo?" tanyanya. "Sejak kapan sih, Daf? Otak lo isinya kebancian semua?"
"Gue tahu gue salah, Leen. Tapi gue lakuin ini semua buat Sagara," jelas Dafa. "Sagara layak buat dapat yang lebih baik kan? Yang setara dengan Alethea."
"STOP, ANJING!" sentak Zeline. "STOP MENYAMAKAN PEREMPUAN SAMPAH ITU DENGAN ALMARHUM KETUA GUE!! BANGSAT LO, DAF!!"
Dafa tak mempedulikan ucapan Zeline. Laki-laki itu memilih mendekati Aileen. "Leen, please. Lo pasti paham maksud gue."
"Gue paham, Daf. Gue paham banget," kata Aileen. "Tapi lo egois! Lo gak biarin Sagara buat milih bahagianya! Salah Laura apa sih? Dia perempuan baik, Daf."
Dafa menoleh ke arah Laura, melihat aksi itu, Laura mundur. Perempuan itu masih tidak ingin ditatap oleh Dafa. Dafa masih menjadi sumber trauma nya."Dia gak salah, tapi dia gak seharusnya bersama Sagara," kata Dafa. "Seharusnya bukan dia yang menggantikan Alethea!"
Plakkk
Tamparan keras berhasil mendarat dengan sempurna di pipi Dafa. "SADAR, ANJING!!" sentak Aileen. "OTAK LO MASIH BERFUNGSI KAN, DAF?! BISA TOLONG JANGAN EGOIS GAK?!"
Aileen berusaha mengatur napasnya. Perempuan itu benar-benar tidak ingin menangis sekarang. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Dafa yang telah menyakiti dia. "Pergi, Daf," kata Aileen. "Jangan tampakkan diri lo lagi di depan gue. Permintaan maaf lo tidak gue terima."
"Leen-"
"Gue bilang pergi," kata Aileen memotong pembicaraan Dafa. "Bahkan jika lo kembali dengan versi terbaik lo aja gue udah gak mau, Daf. Sayang gue tulus, begitu juga dengan kepergian lo, gue ikhlas."
"Semesta selalu punya cara untuk mempertemukan tiap manusia yang hidup di bumi, namun jika gue bisa memilih, disetiap manusia yang gue temukan, lo adalah pertemuan yang paling gue sesali."
"Suatu saat, entah itu sore ataupun malam. Disaat segala aktifitas lo berakhir, lo akan menatap langit-langit kamar. Lalu, lo mulai sadar telah kehilangan bagian kecil dari hidup lo," kata Aileen tegas. "Percayalah, Daf. Bagian kecil yang hilang itu adalah gue."
Gaby dan Zeline saling menatap. Tak percaya bahwa Aileen dapat mengungkapkan seluruh kalimat itu dengan tegas. Suaranya tidak parau, perempuan itu benar-benar tidak mengeluarkan air matanya sekarang. Aileen sangat nampak tegar di hadapan orang yang telah menyakitinya.
Aileen menuju mobil terlebih dahulu, mengisyaratkan teman-temannya untuk ikut. Laura juga tetap mengambil posisi sopir. Mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan Dafa di tepi jalan dengan rasa diamnya, mungkin juga rasa sesalnya.
"Leen?" panggil Gaby. "Are you okay?"
Aileen mengusap pipinya. Tangis perempuan itu tidak dapat terbendung lagi. Kenyataannya, berusaha kuat itu tidak bertahan lama. Perempuan itu kembali menunjukkan sisi sedihnya.
"Kita balik aja, yuk?" ajak Laura. "Kasihan Aileen."
"Lanjut aja, Lau," kata Aileen. "Gue gak apa-apa."
"Yakin?" tanya Laura memastikan dan mendapat anggukan dari lawan bicaranya. Laura pun tetap melajukan mobilnya untuk menuju suatu tempat yang memang menjadi tujuan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA ASIA
Novela Juvenil"Ikuti alur semesta ya? Aku pamit." - Alethea Ratu Dareen Kisah ini tentang sebuah kehidupan yang terus berjalan walaupun telah dibanting beribu kali. Jiwa, fisik, raga, hati melebur bersama. Banyak fase yang kita hadapi setelah menghadapi kehilan...
