24. LIMA TAHUN KEPERGIANNYA
Kenan, berada dalam kamar Sagara. Laki-laki dengan postur tubuh atletis itu sengaja menemani Sagara malam ini. Tidak ada yang ia inginkan, selain menjaga Sagara. Laki-laki yang bernotabe masih sulit mengendalikan dirinya. Tiba-tiba ingatan Kenan terputar, pada pembicaraan siang lalu bersama teman-temannya.
"Oke, gue mau cerita," kata Aileen membuka percakapan. "Gue ngerasa ada yang janggal disini."
Kenan menaikkan satu kakinya ke atas meja. "Apaan?"
Aileen mengatur napasnya perlahan. Menyiapkan dirinya untuk bercerita. "Gue gak tahu, kalau Sagara tahu hal ini, respon dia bakal gimana."
Kenan menatap Aileen penuh tanya. Hal apa yang akan diceritakan?
"Gue sama Nathan kemarin lihat Alethea," kata Aileen.
Deg!
Kenan membulatkan matanya bersamaan. Berbeda dengan Maudy, Zeline dan Gaby, mereka tampak biasa saja. Atau mereka sudah tahu?
"Maksud lo?" tanya Kenan. "Gak ngerti gue."
"Awalnya gue kira halusinasi, tapi pas Zeline dan Gaby cerita kalau dia juga lihat Alethea, terus gue sadar, kalau memang cewek yang gue lihat waktu di pom bensin memang Alethea," jelas Aileen.
"Lo lihat juga?" tanya Kenan pada Zeline dan Gaby.
Zeline mengangguk. "Gaby yang lihat, gue enggak. Kita lihat dia di pasar kemarin."
"Gue udah sempat ngejar," sahut Gaby. "Tapi tiba-tiba dia ilang."
Kenan mulai terdiam. Entah perasaan apa yang menghantuinya. Kini pergerakan dan pemikirannya mulai tak sejalan. Sagara. Hanya nama itu yang Kenan takutkan sekarang.
"Lo semua gak bercanda nih?" tanya Kenan lagi. "Bener Alethea?"
"Sumpah, Ken," kata Aileen. "Mirip banget sama Alethea. Gue sama Nathan aja sampe shock banget kemarin."
"Jangan ada yang beri tahu Sagara soal ini lebih dulu," kata Kenan tegas. "Biarin gue yang atur. Kita bicarain di waktu yang pas."
Mereka mengangguk bersamaan. Perihal Alethea masih terbilang sakral untuk diterima oleh Sagara. Mereka hanya tidak ingin merusak kebahagiaan Sagara bersama perempuan barunya sekarang. Bagaimanapun juga, ada perasaan Laura yang harus dijaga.
"Besok tepat lima tahun kepergian Alethea kan?" tanya Maudy tiba-tiba. "Kita ke makam Alethea aja gimana? Siapa tahu, Alethea bermunculan juga karena ingin dijenguk."
"Gue setuju," sahut Nathan. "Ken, lo ajak Sagara juga."
Pikiran Kenan mulai sakit. Banyak hal tidak bisa dicerna dengan baik sekarang. Permasalahan yang terjadi pada perkumpulannya, selalu laki-laki itu yang turut andil. Sikap dewasa dan mampu mengontrol emosi pada Kenan selalu dapat diandalkan.
"Gar, ke makam Alethea, yuk?" ajak Kenan mulai mengajak ngobrol Sagara yang sedang merapikan baju toga wisudanya. "Besok tepat lima tahun kepergiannya. Kita udah lama gak ke makam dia."
Sagara mengangguk setuju. Laki-laki itu juga tidak menerbitkan ekspresi yang berlebihan. "Oke, gue ajak Laura juga ya."
Kenan mulai lega. Ternyata topik yang ia angkat tidak merusak mood Sagara. Bahkan Kenan cukup terkejut, saat nama Laura disebut dengan lantang oleh Sagara. Selayaknya manusia yang kembali jatuh cinta.
"Lo oke kan?" tanya Kenan memastikan. "Soalnya kan, lo lusa wisuda, Gar."
"Aman, lagian besok kosong gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA ASIA
Teen Fiction"Ikuti alur semesta ya? Aku pamit." - Alethea Ratu Dareen Kisah ini tentang sebuah kehidupan yang terus berjalan walaupun telah dibanting beribu kali. Jiwa, fisik, raga, hati melebur bersama. Banyak fase yang kita hadapi setelah menghadapi kehilan...
