22. MASA YANG BERAKHIR
Malam ini, Sagara Asia bersama dengan Nathan sibuk bermain game di ruang tamu. Selama di Surabaya, Sagara tinggal di rumah laki-laki yang sempat menyandang status sebagai wakil ketuanya. Kedatangan Sagara tidak membuat Nathan terganggu, karena jika tidak demikian persahabatan mereka akan tak lama.
Tokk..tokk..
Suara ketuk pintu menghentikan keseruan mereka. Nathan cukup heran, tak biasanya ada tamu yang datang ke rumahnya. Laki-laki itu lalu bangkit dan membukakan pintu. "Bang?" kata Nathan kaget. Ternyata orang yang bertamu malam ini di rumah Nathan adalah Reksa. "Ada apa, Bang?"
"Sagara disini, ya?" tanyanya yang dibalas anggukan Nathan. "Gue mau ngomong sama Sagara bentar."
Nathan mengangguk, lalu mempersilakan Reksa untuk masuk. Kedatangan Reksa juga ternyata membuat Sagara tersentak kaget. Laki-laki itu dengan cepat mematikan HP di tangannya. "Ada apa, Bang?" tanya Sagara. "Tumben banget kesini gak bilang-bilang."
"Lo kapan balik ke Bandung?" tanya Reksa membuat Sagara menyatukan kedua alisnya. "Cewek lo dalam bahaya."
Sagara dibuat semakin bingung. "Bahaya gimana, Bang?"
"Kemarin ada geng motor yang ngikutin dia," jelas Reksa. "Untung gue dateng tepat waktu."
"Disana gak ada Zeline sama Gaby?" tanya Sagara lagi.
"Ada," kata Reksa. "Tapi mereka tidak menjamin keselamatan Laura, Gar. Lebih baik lo balik ke Bandung sekarang."
Nathan mengangguk, laki-laki itu juga mendadak cemas akan keselamatan Laura. "Gue setuju Bang Reksa, Gar," katanya. "Lagipula, keselamatan Laura dalam bahaya itu juga karena dia dekat sama lo."
***
"lo daftar wisuda yang sesi 1 aja, gue nyusul," kata Laura. "Gue masih gak mood buat lanjutin skripsi gue."
"Kok gitu?!" kesal Elina. "Ya nggak lah, kita ngerjain skripsi bareng, wisuda juga harus bareng dong."
"Gue gak bisa ikut yang sesi 1, El," kata Laura lagi. "Skripsi gue belum selesai."
"Yaudah, gue daftar sesi 2 aja, nunggu lo," kata Elina penuh percaya diri.
Perdebatan keduanya meramaikan koridor kampus yang cukup sepi. Elina baru saja mendapat persetujuan dari dosen pembimbing nya untuk melakukan wisuda. Skripsi perempuan itu telah selesai. Berbeda dengan Laura, ia memilih untuk tidak melanjutkan dulu bab terakhir bagian skripsinya, entah apa yang menjadi alasannya.
"Gak usah gila deh," kata Laura. "Wisuda duluan aja gak apa-apa."
"GAK!" bantah Elina cepat. "GUE NUNGGU LO!"
"El gue-" belum selesai perempuan itu berbicara, tiba-tiba tangannya ditarik pelan oleh laki-laki yang saat ini menggunakan jaket kulit hitam tanpa menoleh ke arahnya. Pergerakan ini membuat Laura sedikit tersentak melepaskan tangannya kasar. "APAAN SIH LO! KURANG AJAR BANGET!"
Elina yang merasa geram juga ikut bersuara. "GAK PUNYA OTAK YA LO?! LAURA UDAH PUNYA!! PACARNYA GANTENG, MAIN GANDENG-GANDENG AJA LO!!"
Laki-laki itu tak kunjung menoleh. Sudut bibirnya terangkat naik. Ada perasaan luar biasa yang dirasakannya. Gue tau kalau gue ganteng.
"Lo siapa sih?" tanya Laura heran. "Kenapa lo tiba-tiba narik tangan gue? Sopan kayak gitu?"
Laura benar-benar geram saat laki-laki itu tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Akhirnya, perempuan itu memutuskan untuk membalik paksa laki-laki di hadapannya supaya ia bisa melihat wajahnya. "Gar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA ASIA
Teen Fiction"Ikuti alur semesta ya? Aku pamit." - Alethea Ratu Dareen Kisah ini tentang sebuah kehidupan yang terus berjalan walaupun telah dibanting beribu kali. Jiwa, fisik, raga, hati melebur bersama. Banyak fase yang kita hadapi setelah menghadapi kehilan...
