Empat Belas

49 2 0
                                        

Farra kembali menghindari Kelvin, sementara cowok itu berusaha kembali dekat dengan Farra. Kelvin tau apa yang Farra rasakan karena ia juga sempat merasakannya, namun setelah di pikir lagi tidak akan ada gunanya jika mereka berjauhan begini, Kelvin tetap ingin menghilangkan kata pertemanan hancur setelah hubungan berakhir, setidaknya untuk Kelvin dan Farra.

Cewek itu terus menghindar bahkan saat berpapasan di kantin. Kalo kalian fikir Kelvin sudah melupakan perasaannya maka jawabannya salah, cowok itu sama seperti Farra yang masih menyimpan perasaan satu sama lain. Kelvin berusaha mendekati Farra bukan karena perasaannya tetapi karena Kelvin mau hubungan pertemanannya tidak hancur, itu saja tidak lebih. Kelvin akan berusaha melupakan Farra sebagai orang yang spesial namun cowok itu tidak bisa melupakan Farra sebagai temannya, mereka teman sedari kecil, tidak sedikit kenangan yang terjadi di antara keduanya. Kenangan yang indah bagi Kelvin dan terlalu sulit untuk di lupakan.

Kelvin tersenyum, cowok itu melihat Farra sedang berjalan bersama Sasti, di sepanjang koridor. Agaknya Farra belum menyadari keberadaannya namun saat tatapan keduanya bertemu, Farra cepat-cepat membalikkan badannya sambil menarik tangan Sasti agar berbalik arah.

Tidak membuang kesempatan, Kelvin mengejar Farra, meraih lengan cewek itu agar menghentikan langkahnya. Mau tak mau Farra berhenti begitu pula dengan Sasti. Merasa paham dengan situasi, Sasti melepas pelan pegangan tangan Farra padanya.

"Lo berdua obrolin sampe tuntas dulu ya masalah kalian. Jangan kucing-kucingan kayak anak kecil ah, lo berduakan udah dewasa, nah bicarain pake kepala dingin, oke. Gue mau pergi dulu, awas pas gue tanya masalah kalian belum selesai," ujar Sasti.

Farra mendengus melihat kepergian Sasti. Niatnya Farra juga ingin pergi namun Kelvin kembali menahan lengan Farra. Cowok itu menarik Farra menuju taman di belakang gedung sekolahnya.

"Far, lo mau sampe kapan ngindarin gue terus?" tanya Kelvin sesampainya mereka di sana.

"Hubungan kita udahan Kelvin!!" sarkas Farra.

"Hubungan sebagai pacar bukan temen kalo lo lupa."

"Hubungan berakhir berarti pertemanan juga berakhir."

"Gak gitu konteks nya Far!"

"Gak gitu gimana, lo tau sendirikan kalimat itu. "

"Iya gue tau dan gue juga sempet ngerasa kayak gitu, tapi gue gak mau Far. Gue mau kita tetep temenan, lagian kita putus juga secara baik-baik," ujar Kelvin.

"Gue yang gak bisa Vin, kalo kita deket terus gimana gue mau move on dari lo."

"Ya udah gak usah putus makanya."

"Ck, ngapain ngomong kayak gitu sih."

"Lo sendiri kan yang bilang bakal susah move on dari gue, terus kenapa malah minta putus?"

"Kita udah pernah bahas ini sebelumnya di pasar malam."

Kelvin menghela nafas berat, "yaudah sekarang mau lo gimana?"

"Jangan anggap gue temen lagi, anggap aja kita gak saling kenal."

"Gue heran kenapa lo tiba-tiba kayak gini, ini kayak bukan Farra yang gue kenal," ucap Kelvin.

"Ya karena Farra yang lo kenal udah berubah!!" Sarkas Farra.

"Oke, lo mau kita kayak gak kenalkan. Inget ucapan gue, mulai hari ini gue gak akan nganggep lo temen atau apapun, anggap kita orang asing yang gak saling kenal."

Kelvin pergi setelahnya, meninggalkan Farra yang kini mulai menangis. Cewek itu memang ingin putus dengan Kelvin tapi bukan berarti putus pertemanannya juga.

Akhir-akhir ini Farra terus memikirkan ancaman yang Vera berikan beberapa hari yang lalu. Ancaman yang juga membuat Farra melakukan hal sejauh ini. Farra paling takut kehilangan Kelvin namun pada akhirnya malah dirinya sendiri yang membuat cowok itu pergi darinya.









Farra izin sebentar di sela-sela menunggu bel pulang bunyi. Ujian terakhir hari ini dan Farra harap hasilnya cukup memuaskan. Cewek itu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, berniat untuk membasuh wajahnya yang kering, namun sesampainya di kamar mandi, Farra malah bertemu Vera di sana. Vera menatap dirinya dari pantulan kaca, sementara Farra bersikap tenang. Vera juga sedang membasuh wajahnya sama seperti hal yang Farra lakukan.

"Lo pacarnya Kelvin kan?"

Spontan Farra menghentikan aktivitasnya, menatap Vera di sebelahnya.

"Maksud lo?" tanya Farra.

"Lo sebenarnya pacarnya Kelvin kan, bukan sekedar temen," ucap Vera.

"Kata siapa, gue temennya."

"Ck, orang lain mungkin bisa lo tipu tapi buat gue gak bisa. Pantes aja dulu gue minta nomer Kelvin gak lo kasih ternyata lo pacarnya."

Farra menatap Vera dalam diam, entah bagaimana caranya Vera bisa tau hubungan mereka, meski nyatanya sekarang Farra dan Kelvin sudah putus.

"Gue suka sama Kelvin jadi gue harap lo putus sama Kelvin. Gue denger lo cemburu karena Kelvin deket sama gue sampe minta putus."

"Kata siapa!"

"Ck, gak penting kata siapanya. Gue minta lo mending putus beneran sama Kelvin terus lo jauhin Kelvin."

"Lo siapa berani nyuruh gue kayak gitu. Kalaupun gue putus gak menutup kemungkinan gue masih deket sama dia, gue temennya kalo lo lupa," ucap Farra.

"Kalo lo gak mau jauh dari Kelvin siap-siap aja kedua orang tua lo di pecat dari tempat kerjanya yang sekarang."

"Maksud lo?"

"Orang tua lo kerja di perusahaan punya ayah gue dan gue bisa aja nyuruh ayah gue pecat kedua orang tua lo dengan sedikit kebohongan cerita yang dimana ayah gue mutusin untuk pecat kedua orang tua lo."

"Ck, sinting lo." Farra pergi dari sana namun langkah terhenti sebentar.

"Ancaman gue gak main-main ya Far, kalo gue liat lo masih berdekatan sama Kelvin, siap-siap liat orang tua lo jadi pengangguran."

Farra tidak menjawab, cewek itu pergi tanpa mempedulikan ucapan Vera. Jujur, Farra takut mendengar ancaman itu, sekalipun kedua orang tuanya sangat sibuk tapi Farra tau kedua orang tuanya sangat mencintai pekerjaannya. Farra tidak tega melihat kedua orang tuanya melepas pekerjaan yang di sukainya hanya gara-gara dirinya, meskipun terkadang Farra ingin orang tuanya menghabiskan waktu bersama tapi tetap saja Farra tidak mau kedua orang tuanya kehilangan pekerjaan yang sudah mereka lakukan selama bertahun-tahun.

"Kayaknya gue bener-bener harus ngejauh dari Kelvin," gumam Farra.











"Far, Farra!!!"

Cewek itu tersentak, cepat-cepat menghapus air matanya.

"Lo nangis?"

"Enggak."

"Gak pinter bohong lo tuh, jelas-jelas gue liat lo nangis tadi. Oh iya Kelvin kemana, tadi gue liat kalian bareng, sekarang kenapa lo doang di sini."

"Kelvin udah duluan tadi. Gue pulang dulu ya," Farra pergi meninggalkan Rama di taman. Sebenarnya cowok itu di suruh oleh Kelvin untuk mengantar Farra pulang. Namun sebelum Rama bilang, Farra malah pulang lebih dulu.








Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang