Dua Puluh Satu

41 1 0
                                        

"parah banget temennya gak di kasih tau. Lo niat kayak gue ya backstreet gitu."

"Enggaklah, ngapain backstreet nanti cowok gue di ambil orang gara-gara ngiranya gak punya cewek."

Farra terkekeh, mendengar ucapan Sasti rasanya sangat lucu. Cewek itu tidak pernah membahas tentang perasaan atau ketertarikan pada lawan jenis, tapi secara tiba-tiba Farra di kejutkan dengan Sasti yang pacaran.

"Aneh kalo lo yang ngomong. Btw kapan lo suka sama Rama?"

"Baru-baru ini sih pas dia ngasih semangat buat gue pas vidio itu viral. Asli gue kira selama ini Rama orangnya cuek sama gak peduli sekitar tapi ternyata gue salah, Rama gak kayak gitu."

"Ck, lo mode bucin gini bikin gue merinding."

Sasti mendengus, "Ck, iri aja lo. Balikan lagi sono sama Kelvin biar bisa ngedate bareng."

Kali ini Farra yang mendengus, "gak dulu makasih."

Sasti tertawa, "eh Far, lo sama Kelvin dulu kalo ngobrol pake bahasa gue lo apa aku kamu?"

"Gue lo. Kenapa emang?"

"Alesannya apa?" tanya Sasti.

"Ya gak ada alesannya. Dulu gue sama Kelvin rencana pake aku kamuan, pas lagi berdua tapi pas gue sama Kelvin coba kok rada geli jadi yaudah kita mutusin buat ngomong pake bahasa apa aja yang bikin nyaman."

"Gue sama Rama juga gitu, maunya pake aku kamuan tapi pas di coba kok rada gimana gitu."

"Yaudah sih pake gue lo aja. Baru pacaran ini kecuali udah nikah baru di usahain pake aku kamu, "ujar Farra.

"Jangan ah, gak enak kalo pacaran pake gue lo, kayaknya gue sama Rama harus biasain pake aku kamuan."

"Terserah lo Sas."

Sasti terkekeh melihat wajah Farra bete, namun hanya sebentar sampai akhirnya Farra melontarkan kalimat yang membuatnya kesal.

"Kasian cowok yang deket koperasi," ledek Farra.

Sasti mendengus, sudah lama sekali ada siswa yang menyukai Sasti dan kelas cowok itu ada di dekat koperasi. Alesan. Sasti tidak menyukai orang itu karena pendekatan orang itu selalu membuatnya kesal, ketimbang Rama yang mendekati Sasti dengan cara motivasi, orang itu justru sering menjahili Sasti, sehingga rasanya Sasti selalu kesal di dekat orang itu.

"Gak usah reseh deh, gue bilangin Rama nih."

Farra bergidik ngeri, meskipun ia tau Sasti hanya bercanda tapi ucapan temannya sungguh membuatnya merinding.

"Apaan sih lo, geli gue."

Sasti tertawa, "lagian lo duluan. Sana lanjut lagi bacanya, gue gak akan ganggu lagi."

Farra mengangguk, kembali membuka buku, membaca sedikit materi yang akan keluar nanti di ujian. Namun fokusnya buyar begitu ponselnya berdering. Mau tak mau Farra meninggalkan aktivitas bacanya. Cewek itu tersenyum, kecil setelah melihat layar ponselnya. Pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya mampu membuatnya semangat. Kalimat singkat namun juga bermakna baginya sekarang.

Kelvin

|Semangat ujiannya...



Sebagai informasi, Farra sudah mengganti nama kontak Kelvin di ponselnya dengan nama asli cowok itu. Jika dulu ia menggunakan nama inisial kali ini Farra menggunakan nama aslinya. Toh hubungan mereka justru juga sudah kandas jadi lebih baik ia menggunakan nama asli cowok itu.


Makasih. Lo juga semangat.|

Setelah selesai membalas, Farra kembali fokus pada bukunya. Sementara Sasti sudah pergi ke ruangan ujiannya sendiri. Mereka berbeda ruangan ujian di karenakan inisial nama mereka yang jauh. Farra berawalan huruf F sementara Sasti berawal huruf S. Untuk Kelvin, sebenernya cowok itu sekelas dengannya dan entah kenapa Kelvin malah mengiriminya pesan dari pada berbicara langsung, tapi apa pun itu Farra sangat menyukai yang Kelvin lakukan.

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang