"Farra lo yakin mau ikut olahraga?"
Sasti menahan Farra saat cewek itu hendak keluar dari kelas. Sejak tadi Sasti tau Farra sedang menahan sakit, temannya terus meringis sepanjang pelajaran tadi.
"Sekarang mau praktek basket masa iya gue gak ikut, kosong nanti nilai gue."
"Tapi lo kan lagi sakit, izin juga guru ngerti."
"Sakit pas dateng bulan kan udah biasa, udah ayo kelapangan nanti kalo makin sakit gue izin."
Sasti mengangguk. Hari ini memang hari pertama Farra di masa periode bulanannya. Biasanya Farra tidak merasa sakit sampai seperti ini, tapi hari ini, entah kenapa hari pertama terasa sangat menyakitkan. Jujur, perutnya sejak tadi terasa kaku dan nyeri tapi sebisa mungkin Farra tahan.
Farra masih bisa mengikuti pelajaran, namun setelah beberapa menit Farra tumbang, cewek itu jatuh saat akan pengambilan nilai, membuat suara teriakan terdengar di sepanjang lapangan.
Teman perempuannya spontan berteriak melihat Farra tiba-tiba jatuh, beberapa murid mulai menghampiri Farra. Cewek itu menekan perutnya dengan tangannya, di sertai dengan peluh di keningnya.
Sasti dan Cika si sekertaris kelas, memapah Farra setelah guru menyuruhnya pergi ke UKS. Kegiatan tadi terus terpantau oleh Kelvin, cowok itu khawatir tapi tidak bisa menunjukkan secara langsung rasa khawatirnya.
"Gue bilang juga apa tadi, ngeyel sih," Sasti menyentil kening Farra, membuat si empunya meringis akibat perbuatannya.
"Sakit Sasti!" pekik Farra.
"Lo sih batu banget jadi orang."
Cika menggeleng, cewek itu memutuskan kembali ke lapangan setelah Farra mendapat penanganan dari perawat UKS. Sasti memutuskan untuk di sini beberapa menit sebelum ia kembali ke lapangan.
"Makanya kalo tau lagi haid tuh jaga pola makan. Udah tau punya maag, sengaja banget gak makan dari malem. Enak kan sumbilangen plus maag kambuh," omel Sasti.
Farra memutar matanya malas, jika seperti ini Sasti bawelnya melebihi orang tuanya.
"Bawel lo, sono ke lapangan."
"Ck, anda ngusir."
"Iya, bawel ada lo, kepala gue jadi pusing."
"Ini anak di bantu gak ada terimakasih nya sama sekali."
Penjaga UKS menggeleng mendengar percakapan dua orang itu. Teman akrab memang seperti itu, tidak akan tersinggung meski terkadang ucapannya sedikit berlebihan.
"Gue pergi dulu deh, kelamaan di sini, nanti istirahat gue balik ke sini bawain lo makan."
Farra tersenyum, "baik sekali temen saya ini. Gih pergi, gue mau tidur."
Sasti melangkah keluar, namun baru dua langkah cewek itu kembali ke tempat Farra tiduran, "bentar."
Sasti menjitak kepala Farra kencang, membuat cewek itu berteriak kencang.
"SASTI!!!"
Cewek itu terlalu sambil pergi setelah menjitak Farra. Sementara Farra meringis sambil musap kepalanya. Namun kegiatannya terhenti saat melihat Kelvin masuk ke ruang UKS.
Mata Farra membulat, cewek itu mengubah posisinya menjadi duduk. Kelvin ada di sebelahnya dengan wajah khawatir namun bukan itu yang ada di pikiran Farra.
"Lo ngapain di sini?" tanya Farra, cewek itu terus menatap pintu dan Kelvin bergantian.
"Gue khawatir sama lo makanya ke sini."
"Kalo ada yang ngeliat gimana, mending lo ke lapangan lagi aja."
Kelvin mendengus, lagi-lagi yang di pikirkan cewek itu hanya takut statusnya terungkap. Padahal jelas-jelas Kelvin ke sini karena khawatir pada cewek itu. Toh penjaga UKS juga sedang pergi, jadi siapa yang akan tau.
"Guru udah ngasih gue izin," ujar Kelvin.
"Lo izin ke guru mau nengok gue?!! Terus gimana reaksi yang lain? Mereka pasti mikir lo ada hubungan sama gue. Kelvin lo bisa gak sih berfikir sebelum bertindak. Gimana kalo ada yang tau abis ini," kesal Farra.
"Gue khawatir sama lo dan lo malah mikirin hal itu. Emang kenapa sih lo sampe segitunya takut kalo kita ada hubungan. Lo punya cowok lain, makanya lo takut kalo ketauan ada hubungan sama gue."
Kelvin muak, setiap kali bertemu dengan Farra berdua, cewek itu selalu bersikap berlebihan. Padahal orang-orang juga akan memaklumi dirinya yang datang menjenguk Farra, toh mereka juga sudah tau kalo Farra dan Kelvin berteman sejak kecil dan berfikir hal wajar jika Kelvin khawatir dengan Farra.
"Kenapa jadi bahas cowok. Gue gak pernah punya cowok lain ya selain lo!!"
Farra ikut kesal, sekarang sedang masa periode bulanannya, ia sendiri sedang berada di fase PMS, mood nya sudah berantakan dari pagi dan sekarang Kelvin justru berkata yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Ya terus kalo gak punya kenapa lo setakut itu. Orang juga bakal maklum gue jenguk lo di UKS, mereka juga tau kita temenan dari kecil. Lo tuh bener-bener gak bisa ngehargain orang yang khawatir sama lo ya."
Setelah berucap Kelvin keluar dari UKS, cowok itu sedikit membanting pintu untuk meluapkan kekesalannya pada Farra. Sementara Farra menghela nafas berat. Sifatnya sudah terlalu berlebihan, wajar jika Kelvin marah padanya.
***
"Gue salut sama Kelvin, lo beruntung banget punya temen cowok kayak Kelvin."
Farra menoleh, tiba-tiba Sasti berkata seperti itu, tidak biasanya memuji Kelvin. Sasti tidak pernah tidak pernah memuji Kelvin tapi kenapa sekarang temannya jadi memuji Kelvin.
"Maksud lo?" tanya Farra.
"Pas gue balik dari lapangan dia nanyain lo panik banget, makanya tuh anak minta izin sama guru bentar...." Sasti menggantungkan kalimatnya sejenak, memasukan batagor ke mulutnya.
"...gue maklum sih dia khawatir sama lo, kalian kan temenan dari kecil, Lo udah di anggep sahabatnya banget. Emang sih tuh cowok banyak nyebelinnya, tapi ngeliat dia sekhawatir itu ternyata Kelvin punya sisi dewasanya juga."
Farra diam, ucapan Sasti bagai tamparan untuk dirinya. Farra memaki dirinya dalam hati karena membuat Kelvin marah padanya.
"Lo beruntung punya temen cowok dari kecil sepeduli itu. Gue yang kepengen aja gak keturutan. Kayaknya enak aja gitu punya sahabat dari kecil," ujar Sasti.
Farra menatap ponselnya, berharap ada pesan random dari Kelvin, namun mengingat kejadian di UKS rasanya mustahil mendapat pesan random dari cowok itu sekarang.
Farra mengetik beberapa kata untuk di kirim ke Kelvin, namun belum sempat terkirim Farra malah menghapusnya lagi. Jujur ia bingung sekarang.
Farra tidak terbiasa menghadapi Kelvin yang marah padanya, terlebih karena kesalahannya. Jika Farra yang marah, Kelvin justru punya banyak cara agar membuatnya senyum kembali.
Kelvin jarang sekali marah, apalagi sikap cowok itu memang lembut pada dasarnya, jangankan untuk marah, menaikkan nada suaranya saja Kelvin belum pernah, sesabar dan selembut itu Kelvin aslinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Fiksi Remaja"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
