Sudah hampir seminggu ujian kelulusan berlangsung, selama itu Kelvin terus mengiriminya pesan semangat setiap pagi. Ini adalah hari terakhir ujian. Niatnya setelah ujian Kelvin dan Rama ingin mengajak Farra dan Sasti main, bukan untuk date, melainkan hanya main biasa seperti jalan terakhir sebelum mereka lulus menjadi pelajar.
Sebenarnya Kelvin dan Rama juga melakukan hal yang sama dengan teman-temannya dan mereka akan melakukannya lusa, jadi setelah di fikir-fikir tidak ada salahnya Farra dan Sasti menerima ajakan mereka.
Namun kenyataan tidak sesuai apa yang ia inginkan. Farra pikir mereka benar-benar bermain berempat, tapi nyatanya sasti meninggalkannya hanya karena ingin jalan berdua dengan Rama, alhasil sekarang Farra hanya bersama Kelvin di sepanjang jalan. Ini sebenarnya jalan berempat apa berdua-berdua.
"Kenapa?" tanya Kelvin.
Cewek itu menggeleng, "ini kenapa Sasti sama Rama malah misah sih?"
"Kenapa emang? Namanya juga orang baru pacaran, mungkin maunya berduaan mulu. Lo gak suka jalan berdua doang sama gue?"
Farra menggeleng cepat, "bukan itu, tadi bilangnya jalan berempat tapi kenapa sekarang kita berdua doang."
"Iya sih, udahlah mending sekarang nikamatin aja jalan bareng gue. Besok-besok udah gak bakal bisa."
Farra menghentikan langkahnya, menatap Kelvin bingung, "maksudnya besok-besok udah gak bisa?"
"Gue ngambil kuliah gak di sini, masih di sini tapi bukan di deket rumah, rencananya setelah lulus gue bakal ngekost di deket tempat kuliah. Rada jauh juga kalo bolak-balik, butuh waktu enam jam man, makanya gue sama ortu gue sepakat selama kuliah bakal ngekost."
Farra mengangguk faham. Sejujurnya ada perasaan tidak rela ia berjauhan dengan Kelvin. Meskipun mereka bukan pacar tapi Farra masih tidak rela jika Kelvin dekat dengan cewek lain di sana. Egois sekali dirinya. Ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Kelvin tetapi tidak suka jika cowok itu nantinya dekat dengan yang lain. Tidak menutup kemungkinankan Kelvin dekat dengan perempuan di tempat kuliahnya.
"Lo sendiri mau kuliah di mana?" tanya Kelvin.
Farra sadar dari lamunannya, cewek itu cepat-cepat menatap Kelvin di sebelahnya, "belum tau, belum kepikiran juga kalo kuliah mau ngambil jurusan apa."
"Gak kerasanya bentar lagi udah bukan anak SMA."
Farra setuju, ia merasa tidak rela lepas dari statusnya sekarang, "iya, rasanya gak mau lulus mau jadi murid aja. Apalagi kenangan di sekolah banyak banget."
"Termasuk kenangan pas kita pacarankan?"
"Itu salah satu di antara kenangan yang lain."
"Perasaan gue masih sama Far ke lo."
Cewek itu tersentak, Farra tidak mengira Kelvin akan bicara seperti itu. Sekarang ia bingung harus menjawab apa, di tambah situasi di antara keduanya seketika langsung hening dan canggung.
"Gue tau kita udah gak ada hubungan tapi perasaan gue masih belum berubah. Bohong kalo gue bilang gue udah move on dari lo meskipun udah berbulan-bulan," ungkap Kelvin.
"Kalo lo gimana? Lo udah bisa move on?"
Farra masih memilih diam, namun cewek itu menatap ke arah Kelvin. Mereka sekarang bertatap-tatapan di antara orang-orang yang sedang berjalan. Orang-orang yang lewat tidak memperhatikan sehingga Kelvin tenang membahas hal ini di depan umum, bahkan di saat mereka sedang berjalan.
"Gue gak tau," jawab Farra.
"Gak tau atau lo sendiri yang ngelak."
Farra menghela nafas pelan, "gue juga masih suka sama lo tapi tetep pada keputusan yang udah gue ambil. Kita jalanin sebagai temen dulu, jodoh gak ada yang tau Vin. Gue gak mau terlalu jatuh hati sama lo terlalu dalem di saat nantinya ternyata kita bukan jodoh. Gue gak mau ngerasain rasa sakit itu, di tambah lo bilang lo mau kuliah jauhkan dari rumah, itu artinya makin banyak celah buat kita gak ketemu. Gue takut kalo tetep pacaran sama lo dan ternyata lo pindah hati sama orang baru yang lo temuin di sana."
Kelvin mengangguk, "gue kira kita bakal bisa balikan di saat gue tau lo juga belum bisa move on. Egois banget ya gue kalo tetep maksa kita balikan di saat gue udah tau alesan lo gak mau balikan."
"Maaf," Farra menunduk, ia benar-benar tidak berani sekedar menatap Kelvin. Farra akui ia juga sama-sama egois dengan rasa takut jika Kelvin dekat dengan orang lain di saat mereka tidak ada hubungan.
Kelvin tertawa pelan, "lo gak salah gue yang salah malah bahas kayak gini. Maaf bikin suasana jadi canggung. Ayok jajan lo gak laper emang."
Setelah mendengar ucapan Kelvin, Farra memberanikan diri menatap cowok itu. Alih-alih mendapat tatapan datar, Farra justru mendapat tepukan lembut di kepalanya.
"Ucapan gue gak usah di pikirin ya, anggep aja kita gak bahas soal tadi. Lo pasti gak nyaman kan. Sebagai permintaan maaf gue bakal traktir lo beli es krim."
Seketika Farra tersenyum mendengar kata es krim. Siapa yang menolak traktiran, di tambah es krim yang jadi traktirannya, makanan super lembut yang meleleh ketika masuk kedalam mulut.
"Ayok."
Kelvin tersenyum, segampang itu mood Farra berubah. Kelvin memang tidak bisa janji soal perasaannya tapi sebisa mungkin Kelvin tetap menjaga hatinya untuk Farra. Bagaimana pun Kelvin tetap ingin yang menjadi pasangannya kelak Farra, meski perasaan cewek itu juga mungkin bisa berubah suatu hari nanti. Kelvin tidak bisa memaksa perasaan Farra ke depannya tapi Kelvin tetap akan menjaganya.
***
"Ini kita ada acara kelulusan gak sih?" tanya Sasti.
Mereka berempat akhirnya kembali kumpul untuk makan. Bukan di tempat mewah, hanya warung pinggir jalan yang makanannya juga tidak kalah enak. Terkadang Sasti dan Farra memilih makan di pinggir jalan seperti ini dari pada cafe atau restoran. Makanan di tempat seperti ini juga tidak kalah enak, bahkan harganya lebih terjangkau dan murah. Bayanhkan, jika di sini es teh manis harganya hanya lima ribu rupiah di cafe atau restoran mungkin lebih mahal dari itu.
"Gak tau gue, pihak sekolah belum ada omongan."
"Gue gak sabar pengen lulus deh, biar bisa kerja," ujar Sasti lagi.
"Lo gak kuliah?" tanya Farra.
"Pengennya kuliah tapi lo tau sendiri bayarannya semahal apa. Gue pengen bisa kuliah tapi pake uang sendiri. Apa gue kuliah sambil kerja aja ya."
"Kerja sambil kuliah itu berat loh, kamu yakin?" tanya Rama pada Sasti.
"Enggak juga sih, aku juga tau berat pasti. Kamu malu gak punya pacar yang gak kuliah?"
"Enggak, kenapa mesti malu. Kalo itu mau kamu ya aku cuma bisa dukung, kan yang jalanin kamu bukan aku."
Farra memperhatikan cara bicara Rama dan Sasti. Spontan ia tersenyum, rasanya sedikit menggelikan mendengar ucapan mereka, padahal Sasti bukan tipe cewek yang bicara lembut.
"Orang tua lo kaya deh perasaan, kenapa gak lanjut kuliah aja kan ada ortu lo yang bisa biayain," ujar Kelvin.
"Gue mau mandiri aja. Gak semua urusan harus ngelibatin orang tua. Lo pada mau ngelanjut ke mana nanti?"
"Gue lanjut kuliah tapi bukan dearah sini, paling gue kost nanti," jawab Kelvin.
"Kalo lo Far?" kali ini Rama yang bertanya.
"Gue juga sepemikiran kayak Sasti."
"Lo mau kerja?" tanya Sasti.
"Gak tau. Cuma gue belum kepikiran kuliah."
Mereka bertiga mengangguk. Hari semakin gelap, mereka berempat cepat-cepat menghabiskan makanan. Di saat seperti ini lah momen yang sulit Farra lupakan, moment yang ia dapat, sederhana namun terkesan. Farra harap setelah lulus nanti, momen seperti ini dapat terjadi lagi, meski ia sendiri tidak tau bisa apa tidaknya. Farra hanya ingin merasakan hal seperti ini di kemudian hari, tidak perlu ramai-ramai, cukup dengan orang-orang yang dekat dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Teen Fiction"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
