"lo benaran Kelvin kayak gitu?"
Farra mengangguk, cewek itu sekarang berada di kamar Sasti. Membaringkan tubuhnya di atas kasur temannya, sementara si pemilik asik dengan masker di wajahnya.
Farra menceritakan hal yang terjadi, mungkin lebih tepatnya sikap Kelvin padanya. Jujur, Farra kepikiran soal sikap datar Kelvin padahal itu yang ia inginkan tapi kenapa rasanya Farra tidak rela Kelvin begitu padanya.
"Lo sih ngada-ngada pengen hubungan pertemanan kalian juga putus," sarkas Sasti.
"Gue dipaksa," lirih Farra.
"Hah!!! Dipaksa!!! Gimana, gimana!!!"
Farra tersentak, ia kira Sasti tidak akan mendengar gumamannya. Ia merasa menggumam dengan suara sangat kecil tapi kenapa Sasti bisa dengar.
"Bukan apa-apa," telak Farra.
"Bukan apa-apa gimana! Gue tau ya itu bukan sekedar ucapan biasa. Lo tuh kalo terpaksa karena desakan pasti ngegumem tapi kalo terpaksa karena diri sendiri lo gak pernah bicara kayak tadi. Cepet cerita sama gue kalo lo nganggep gue temen."
"Ck, apaan kayak gitu. Gak, gue gak kenapa-napa."
"Bohong banget, gue tau ya ada yang lo sembunyiin. Cepat bilang, bukan gue kepo tapi gue gereget juga kalo lo duaan kucing-kucingan gini."
Farra menghela nafas berat, cewek itu mengubah posisinya menjadi duduk, menatap Sasti dari pantulan cermin di depan temannya.
"Gue di ancem sama Vera," ujar Farra.
"Hah!!! Gimana bisa!!" Sasti berteriak sembari menatap dirinya, membuat Farra terkekeh atas tingkahnya.
"Lo tuh ya dari tadi, hah, hah, hah mulu, inget lagi maskeran, wajah lo keriput baru tau rasa."
"Ya salah lo lah yang bikin gue gitu. Udah gak usah ngalihin pembicaraan, buru gue dengerin sambil nunggu masker gue kering."
Farra mengangguk, "Vera ngancem gue, katanya ortu gue kerja di perusahaan punya ortunya Vera, dia ngancem gue kalo gue gak ngejauh dari Kelvin dan masih keliatan deket sama Kelvin, ortu gue bakal di pecat dari tempat kerjanya. Ya pribadi gue emang kesel ortu gue karena terlalu sibuk kerja tapi gue tau ortu gue sesuka itu sama pekerjaannya, gue gak tega kalo ngeliat mereka di keluarin dari pekerjaannya dan gimana pun kan ortu gue kerja buat gue juga , jadi gue takut kalo ortu gue di pecat di tempat kerjanya gara-gara gue," jelas Farra.
"Gila tuh orang. Asli, gue gak ngira sikapnya sebusuk itu, wajah aja good looking and primadona seangkatan, tapi pikirannya, ck."
"Lo jangan kasih tau Kelvin ya."
"Hm."
"Jangan cuma Hm, hm, hm, aja. Awas kalo lo ceritain ke Kelvin."
"Gak janji."
"Apaan!!! Ah nyesel gue cerita ke lo." Farra kembali membaringkan tubuhnya.
"Iya ih tenang aja, gue gak bakal ngomong apa-apa ke Kelvin tapi kalo hubungan kalian makin jauh atau ada apa-apa, gue bakal omongin sama Kelvin."
"Terserah."
"Gue ke kamar mandi dulu, mau bilas wajah. Tuh di rak lemari samping kasur ada cemilan kalo mau makan aja."
Farra tersenyum, moodnya langsung membaik setelah mendengar kata cemilan, "thanks bestie."
"Cemilan aja lo seneng."
***
"Mah, Farra mau tanya."
"Apa, tanyain aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Ficção Adolescente"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
