Sudah berjam-jam Kelvin duduk di meja belajarnya tanpa membuka buku. Cowok itu terus termenung entah memikirkan apa, di tambah hujan turun membuat cowok itu benar-benar merasa kehampaan.
Kelvin merasa Farra banyak membuatnya berubah. Cowok itu dulunya nakal dan setelah berpacaran dengan Farra, Kelvin selalu berusaha menjadi baik dan meninggalkan kebiasaan buruknya. Kelvin memang sudah kenal dengan Farra sedari kecil namun saat itu ia merasa Farra hanya sekedar teman biasa namun setelah menjalin hubungan hampir tiga tahun, Kelvin benar-benar mengenal sisi Farra yang bahkan belum pernah cewek itu perlihatkan.
Jujur, Kelvin merasa kehilangan Farra setelah hubungannya berakhir. Kelvin merasa sangat egois dengan menghindari Farra padahal ia sendiri masih berharap Farra menimbang ulang keputusan ini. Kelvin tau hubungan mereka baru sekedar pacaran bukan menikah, tapi Kelvin memang seberat itu melepas Farra dari ikatan yang di sebut pacar.
"Pantes aja gak nyaut lagi bengong ternyata. Mikirin apa sih?"
Cowok itu tersentak begitu pundaknya ada yang menyentuh. Seakan tak terjadi apapun, Kelvin tersenyum manis di depan mamanya.
"Gak mikirin apa-apa, cuma mikir bentar lagi lulus mau lanjut kuliah apa kerja," jawab Kelvin.
Wanita paruh baya itu mengangguk lantas duduk di pinggir kasur Kelvin, "mama perhatiin kamu udah jarang bareng Farra, rumah dia di depan kita loh masa gak mau ngajak sekalian bareng."
"Gak papah, lagian kalo ngajak kadang Farra juga suka nolak katanya mau bareng temennya aja."
Bohong, Kelvin memang sudah tidak pernah mengajak Farra sejak hubungan keduanya kandas. Kelvin takut suasananya canggung di antara mereka, toh selama ini Farra juga memang sering bersama Sasti baik berangkat maupun pulang sekolah. Kelvin selalu melihat Farra ikut dengan motor Sasti setiap harinya.
"Kalian gak lagi berantem kan?"
"Enggak kok, emang lagi fokus ujian aja dulu masing-masing, apalagi bulan depan juga udah mulai ujian kelulusan."
"Farra mau lanjut kemana? Kamu udah nanya belum?"
"Belum, kita di sekolah juga udah jarang ngobrol."
Wanita di belakang Kelvin semakin bingung dengan jawaban anaknya. Jarang ngobrol di kelas? Setahu wanita itu, Kelvin dan Farra sangat dekat sehingga setiap hari selalu ada topik yang di obrolkan, bahkan hal terkecil sekalipun.
"Mama curiga kamu lagi marahan sama Farra."
"Enggak mah," Kelvin berbalik, memutar bangku yang sedang ia duduki menghadap mamanya.
"Terus kenapa bisa jarang ngobrol?" tanya wanita itu.
"Ya kan kita sama-sama sibuk sama temen sendiri-sendiri kalo di kelas," ujar Kelvin.
"Mama gak tau kamu ngomong jujur apa enggak. Mama cuma mau kamu bersikap dewasa, jangan karena hal sepele kalian berantem bahkan sampe diem-dieman, kamu sama Farra udah kenal dari kecil banget dan mama juga secara gak langsung udah nganggep Farra kayak anak sendiri. Jangan pernah bikin Farra sedih, dia selalu cerita kalo sama kamu dia bisa ceria. Farra lebih sering di tinggal keluarganya kerja jadi dia sering ngerasa kesepian..."
Wanita paruh baya itu bangkit, menepuk pelan pundak Kelvin, "keluar makan, mama liat dari pulang sekolah sampe sekarang kamu belum makan."
"Farra kapan cerita ke mama kalo dia sering ceria kalo sama aku?"
Pertanyaan Kelvin membuat mamanya menunda langkahnya, "udah lama mama sampe lupa kapannya tapi mama masih inget dulu Farra pernah bilang gitu. Keluar sekarang, makan!"
"Iya, mama duluan nanti Kelvin keluar."
Cowok itu menghela nafas pelan, tubuhnya di senderkan pada bangku. Apa bisa pertemanan tetap terjalin jika mereka sudah menjadi mantan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Ficção Adolescente"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
