Dua Puluh Tiga

46 2 0
                                        

"Kata mama lo, dia Bikin baju couple buat kita. Lo ngasih tau soal hubungan kita dulu?"

Kelvin kembali mengajaknya pulang bersama. Meski ujian kelulusan sudah selesai bukan berarti mereka bisa membolos atau tidak masuk sekolah. Secara dadakan pihak sekolah memberitahu akan di laksanakan acara kelulusan, siswi di wajibkan menggunakan kebaya sementara siswa menggunakan jas hitam. Alhasil selama di sekolah, semua murid kelas dua belas hanya melakukan gradiresik untuk kelulusan nanti.

"Enggak, cuma mama gue emang pernah bilang soal itu. Katanya karena kita udah temenan dari lama."

Kelvin mengangguk faham," gue penasaran respon orang tua kita pas tau dulu kita pernah pacaran."

"Jangan sampe tau."

"Kenapa?" Kelvin mengerutkan keningnya berkat ucapan Farra.

"Gue malu kalo ketauan pernah pacaran. Soalnya mama sama ayah gue gak akan ngira gue ngerti soal pacaran."

Kelvin di buat terkekeh oleh pengakuan Farra.

"Lo kapan di kasih tau mama gue soal baju couple?" tanya Farra pemasaran.

"Tadi pagi, gue gak sengaja berpapasan sama beliau di depan rumah."

Farra mengerti, padahal tadinya ia ingin memberi tahu soal ini nanti setelah acara kelulusannya tapi sayangnya mamanya sudah terlanjur memberitahu.

"Di pakenya pas abis acara kelulusan aja gimana? Siapa tau abis acara kelulusan mau jalan sama yang lain."

"Boleh," jawab Farra kelewat antusias.

Kelvin tersenyum, cowok itu merasa seperti masih memiliki hubungan dengan Farra. Setelah mereka putus tidak ada hal yang berubah sama sekali, meskipun sempat ada konflik saat itu. Bolehkah jika Kelvin tetap menganggap Farra pacarnya sekalipun mereka bukan pacar. Kelvin benar-benar tidak ingin ada yang berubah sampai kapanpun.

"Kita mau jalan ke mana nanti?" tanya Farra.

"Lo maunya ke mana?"

"Gak tau."

"Keliling-keliling aja di daerah sini. Soalnya abis acara kelulusan gue udah bakalan sibuk nyiapin peralatan buat gue ngekost nanti. Gue juga kayaknya mulai jarang di sini."

Farra diam, cewek itu tertegun mendengar kalimat Kelvin. Lagi-lagi rasa itu timbul secara tiba-tiba, rasa di mana ia tidak ingin berjauhan dengan Kelvin. Rasa dimana ia takut Kelvin dekat dengan perempuan lain selain di sana. Takut jika bukan dirinya lagi yang ada di hati cowok itu. Farra akui dirinya sangat egois, tidak ingin Kelvin berpaling namun juga tidak ingin hubungannya kembali terjalin.

"Heh, kok malah bengong?"

Farra tersentak, detik berikutnya terkekeh pelan, seolah tidak ada hal yang terjadi.

"Gak papah, rasanya beneran gak nyangka udah lulus sekolah."

"Oh iya, lo udah mikir mau lanjut kemana?" tanya Kelvin. Cowok itu sedikit berharap Farra ingin melanjutkan kuliah di tempat yang sama dengannya.

"Udah. Gue mutusin gak lanjut kuliah, bukannya gak mau, tapi dari pada kuliah gue lebih milih ikut kursus di banyak bidang, kayak kursus jahit, kursus bahasa Inggris, kursus wirausaha atau yang lainnya. Bukannya gue gak suka lanjut belajar, tapi dari pada gue ngabisin waktu bertahun-tahun lagi buat kuliah di satu bidang, gue lebih tertarik belajar banyak hal dari kursus nanti. Itu sih pemikiran gue," jelas Farra.

Kelvin kecewa dengan jawaban Farra, namun sebisa mungkin cowok itu tersenyum seakan tidak ada hal yang membuat kecewa.

"Apapun itu gue dukung lo."

Farra mengangguk, "ayo jalan, gue udah naik."

Cowok itu mengangguk, kemudian diantara mereka hanya ada keheningan, Kelvin memilih fokus pada jalanan sementara Farra memikirkan hal-hal random selama perjalanan.

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang