Tiga

77 3 0
                                        

Sudah lebih dari dua puluh empat jam Kelvin mendiaminya. Pesan dari Farra saja tidak di balas oleh cowok itu, sepertinya kali ini Kelvin benar-benar marah padanya. Sepanjang pelajaran, diam-diam Farra menatap bangku Kelvin. Cowok itu juga berada di kelas hanya saat jam pelajaran, selebih dari itu Kelvin akan pergi.

Semalam Farra mengirim permintaan maaf lewat pesan tapi tidak ada balasan apapun dari Kelvin sehingga membuat Farra kecewa. Bagaimana jika hubungannya putus?

Farra menggeleng, tidak boleh, masa mereka putus hanya karena perdebatan kemarin, lagian setiap hari mereka juga sering berdebat tapi tidak sampai putus. Tapi jika sekarang benaran putus bagaimana?

"Di minum, gue minta bikinin sama mama pagi ini."

Farra tersentak, lamunannya buyar begitu suara Kelvin masuk ke indra pendengarannya. Mata Farra menelusuri sekitar, dimana kelas kosong hanya ada dirinya seorang dan juga Kelvin. Apa sekarang sudah istirahat?

Kelvin pergi setelah menyerahkan sebotol minuman yang entah apa isinya.

"Maaf soal perkataan gue kemaren."

Farra bangkit dari duduknya, berusaha meminta maaf secara sungguh-sungguh. Perkataan Farra sukses membuat Kelvin berhenti, cowok itu diam tanpa membalikan tubuhnya.

"Gue yang salah, gak usah minta maaf," ujar Kelvin sambil kembali melangkah.

"Lo marah sama gue kan?!" Farra sedikit berteriak, namun tidak terlalu kencang.

Farra bisa mendengar Kelvin menghela nafas. Detik berikutnya Kelvin berbalik, mendekat ke tempat Farra berdiri. Mereka saling berhadapan dengan Farra yang sedikit mendongak, tinggi badan mereka cukup beda sehingga mengharuskan Farra mendongak untuk melihat wajah Kelvin.

"Gue gak marah," ucap Kelvin.

"Lo pikir gue anak kecil yang percaya sama ucapan kayak gitu. Kalo marah ngomong aja tapi jangan ngehindar, gue ngerasa lo bakal mutusin gue kalo lo ngehindarin kayak gitu."

Kelvin diam, berusaha memadamkan amarah dalam dirinya. Sementara Farra menatap cowok itu dalam diam. 

Kelvin tersenyum, mengelus puncak kepala Farra lembut. Amarahnya perlahan memudar, Kelvin memang tidak pernah bisa marah pada Farra terlalu lama, cewek itu seakan mempunyai magnet yang selalu menarik dirinya untuk jatuh pada pesonanya.

"Tadinya mau gitu, tapi gak jadi. Kasian nanti nangis, gue gak punya stok permen soalnya."

Buggg

Kelvin meringis dan terkekeh secara bersamaan. Farra memukul bahu kanannya keras, sehingga menciptakan suara di antara heningnya keadaan.

"Gue serius!!"

"Nah kan tukang marahnya kumat. Lo kurang-kurangin hobi marah, darah tinggi baru tau rasa."

"Jangan ngalihin ucapan. Lo benerkan mau mutusin gue. Ck, yaudah putus aja, paling gue langsung pacaran sama yang lain."

"Yakin mau putus, tadi kayak ketakutan gitu," goda Kelvin. Cowok itu sudah tidak ada rasa kesal lagi pada Farra, sehingga mulai menggoda cewek itu lagi.

"Kelvin!!"

Cowok itu tertawa setelah berhasil membuat Farra kesal, "tuh minum, gue udah susah-susah minta mama gue buatin pagi-pagi."

Farra mengambil botol pemberian Kelvin, "ini apaan?"

"Air kunyit, kemaren lo sakit karena periode bulanankan sama maag, gue denger kunyit bagus buat kayak gitu."

"Apaan, gue gak suka. Nih lo aja yang minum."

"Ngapain gue, emang gue dateng bulan. Lo lah yang minum, lagian itu bukan cuma kunyit tapi di kasih madu juga biar ada manisnya," jelas Kelvin.

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang