Sepuluh

49 3 0
                                        

Kelvin di buat panik. Tiba-tiba Farra meminta putus darinya. Cowok itu berusaha mencari Farra namun hasilnya nihil. Kelvin sudah khawatir saat tau Farra bolos, di tambah cewek itu tidak pernah sekalipun membolos, tapi hari ini, Farra bolos di jam pelajaran setelah istirahat, bahkan sampai pulang sekolah Kelvin sama sekali tidak melihat tanda-tanda Farra.

Sasti sama khawatirnya, cewek itu sama sekali tidak tau apapun tentang Farra. Kelvin sengaja membawa tas Farra pulang, berharap ia bisa memberinya saat di rumah. Namun alih-alih bertemu ternyata Farra juga belum pulang hingga larut sore. Entah kemana cewek itu pergi. Seingat Kelvin, hubungan keduanya baik-baik saja, bahkan mereka baru berbaikan, tapi kenapa sekarang Farra minta putus darinya.

Orang tua Farra tidak khawatir perihal Farra yang belum pulang. Ternyata cewek itu sudah meminta izin untuk pulang telat dengan alasan ada tugas kelompok. Sejujurnya Kelvin sempat bingung saat mama Farra bilang bahwa cewek itu sedang kerja kelompok, padahal tugas kelompok sama sekali tidak ada di semua pelajaran. Kelvin berusaha bersikap tenang dengan raut wajah yang kentara biasa, sehingga mama Farra benar-benar percaya kalau anaknya sedang kerja kelompok di rumah temannya.

Kelvin berusaha menelpon Farra, namun panggilannya selalu di tolak. Kelvin menggeram kesal namun rasa kesal itu hilang begitu melihat Farra di depan rumahnya. Cewek itu sepertinya baru pulang. Cepat-cepat Kelvin menghampiri Farra, menarik pelan lengan cewek itu agar berhenti sebentar.

Kelvin tersentak, mata Farra terlihat habis menangis, bukan karena bengkak matanya tetapi matanya terlihat berkaca-kaca.

"Lo dari mana aja Far?"

Bukannya menjawab, Farra justru menghempas tangan Kelvin. Cewek itu masih enggan berbicara dengan Kelvin. Namun sebelum masuk ke dalam rumahnya, Kelvin lebih dulu menariknya pergi. Mereka berdua harus bicara tapi tidak di sini, Kelvin tidak mau orang tuanya atau orang tua Farra tau mereka sedang bertengkar.

"Lo kenapa sih Far? Bukannya kemaren kita udah baikan, kenapa sekarang lo jadi kayak gini lagi?"

Jujur, Kelvin lelah dengan sikap Farra seperti ini. Gampang marah, gampang mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya padanya lebih dulu.

"Lo kenapa? Gue nanya sama lo Far!!" bentak Kelvin.

Farra mengalihkan pandangannya, air mata cewek itu kembali keluar. Kelvin yang tadinya kesal, mendadak luluh. Melihat Farra menangis adalah kelemahannya, namun sampai sekarang Kelvin tidak tau kenapa Farra seperti ini.

"Gue mau putus," ujar Farra.

"Kenapa?" tanya Kelvin.

"Harusnya lo udah tau jawabannya tanpa perlu gue jawab," Farra memberanikan diri menatap Kelvin.

Lagi-lagi saat hendak pergi, Kelvin kembali menahan lengan Farra agar cewek itu tidak pergi.

"Jangan pergi dulu, kita belum selesai ngomong."

"Apa lagi yang harus di omongin Vin, semua udah jelas. Gue mau putus dari lo, kita temenan kayak dulu aja, gak usah pacaran, jadi lo bisa pacaran sama yang lain."

"Maksud lo apaan sih Far, ngomong yang jelas, gue tak tau kenapa lo tiba-tiba mau putus," Kelvin berusaha sabar menghadapi sikap Farra sekarang, meskipun sebenarnya ia juga tersulut emosi.

"Lo pacaran kan sama Vera!!! Apa karena kita backstreet jadi lo bisa pacaran sama Vera diem-diem juga!!!" pekik Farra.

"Lo ngomong apaan sih Far, gue beneran gak ngerti. Lo kata siapa gue pacaran sama Vera? Itu cuma rumor Far, gue sama sekali gak pacaran sama Vera."

Farra mendengus, ia mengeluarkan ponselnya dalam satu. Menyetel ulang suara Vera yang sudah di rekam tadi. Kelvin terkejut dengan ucapan Vera di sana. Ini benar-benar sudah kelewatan, Kelvin sama sekali tidak pernah berbicara seperti itu, bahkan sebisa mungkin Kelvin menghindari Vera, tapi kenapa cewek itu berkata hal yang tidak pernah Kelvin ucapkan.

"Puas sekarang?!" sarkas Farra.

"Far, asli gue gak pernah ngomong gitu. Gue gak pernah pacaran sama Vera. Lo percaya sama gue. Ini, lo bisa liat hp gue, bahkan gue aja gak nyimpen kontak dia Far!!!"

"Kalo nyatanya gue percaya gimana? Lagian lo mending pacaran sama Vera kan, dia gak kayak gue manja, nyusahin. Jadi lo bisa lebih bebas sama bahagia."

Kelvin terdiam, kenapa Farra jadi membahas hal seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi dengan cewek itu, rasa-rasanya Farra bicara seperti itu karena ada sebab akibat, tidak mungkin Farra berbicara sesuai instingnya. Farra bukan tipe orang yang berfikir seperti itu jika tidak ada yang terjadi dengan dirinya.

"Lo sendirikan yang bilang kalo gue manja sama nyusahin, karena sekarang lo udah pacaran sama yang lain, jadi mending lo putusin gue, lo gak akan terbebani sama gue yang nyusahin ini."

Farra kembali pergi, namun dengan gerakan cepat Kelvin menahannya, benar-benar memegang lengan cewek itu agar tidak pergi. Farra terus memberontak namun genggaman Kelvin sangat kencang, sehingga hanya akan menyakitkan dirinya jika ia terus memaksa untuk melepas genggaman itu.

"Lo denger gue ngomong gitu kapan?"

Notasi suara Kelvin berubah sekarang, tidak ada unsur membentak, namun rendah tapi dengan sedikit tekanan. Farra merasa takut jika Kelvin sudah seperti ini, sikap tegas Kelvin yang membuat Farra tunduk dan mengalah. Kelvin jarang serius namun ketika cowok itu serius maka Kelvin akan terlihat lebih seram berkali-kali lipat.

"Lo, lo sendiri yang bilang ke Rama. Tujuan lo ngomong gitu tentang gue ke orang apa!!! Lo mau jatohin gue, apa karena lo punya pacar lebih keren dari gue, makanya sekarang lo ngerendahin gue kayak gitu!!!"

"Gak gitu Far, lo kayaknya salah paham sama yang gue bilang."

"Salah paham gimana sih Vin!"

"Lo denger apa yang gue bilang gak sampe abis?!" Kelvin tanpa sengaja meninggikan suaranya. Kesabaran cowok itu benar-benar habis.

"Enggak kan?! Lo langsung pergi aja setelah gue ngomong gitu. Coba lo denger ucapan gue sama Rama sampe abis, besok lo tanya sama Rama gue ngomong apa aja."

Kelvin menghela nafas kasar, cowok itu menjambak rambutnya kasar, melampiaskan kemarahannya. Kelvin kembali sadar sudah menyakiti Farra dengan bentakannya, cewek itu bahkan sampai tidak mau menatap dirinya.

"Mending kita break dulu buat sekarang, introspeksi diri masing-masing. Gue lagi emosi dan lo juga, gak akan selesai masalah kalo kita dalam keadaan emosi gini," ujar Kelvin.

"Kenapa gak sekalian putus, biar lo bisa pacaran bebas sama Vera, lo selama ini juga mau pacaran di publis kan, yaudah kita putus aja dan lo bisa publis hubungan lo sama Vera gak perlu ajak dia backstreet."

"Far, udah gue bilang gue gak pacaran sama dia. Mending sekarang kita pulang udah mau magrib."

Kelvin benar-benar lelah menghadapi sikap keras kepala Farra. Cewek itu benar-benar tidak mempercayai ucapan dirinya. Kelvin sengaja jalan di belakang Farra, memperhatikan cewek itu dari belakang dengan tatapan sendu.

Farra benar-benar mengacuhkan Kelvin. Sejujurnya Farra juga lelah dengan semuanya, ia merasa semakin hari semakin banyak rintangan jika dirinya terus melanjutkan hubungan dengan Kelvin. Permintaan cowok itu tidak terlalu buruk, mungkin sudah saatnya mereka break untuk sementara waktu. Farra akan gunakan waktu sebaik mungkin untuk memutuskan kedepannya bagaimana.

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang