Sudah dua minggu setelah Farra dan Kelvin break, bahkan ujian sudah selesai dua hari yang lalu. Farra termenung di depan jendela kamarnya. Dinginnya malam tidak pernah gagal membuat pikirannya tenang. Selama dua minggu ini Farra dan Kelvin tidak pernah berinteraksi. Baik dirinya maupun Kelvin selalu mengalihkan pandangan ketika tatapan mereka bertemu. Hubungannya sekarang lebih terlihat seperti benar-benar berakhir. Apa akan seperti ini juga jika hubungan mereka benar-benar berakhir. Farra merasa hubungan ini juga tidak akan bisa di lanjutkan.
Apa sudah saatnya mereka mengakhiri hubungan ini, tapi apa bisa hubungan pertemanan mereka tetap terjalin setelah mereka putus.
Lamunan Farra buyar, ponselnya bergetar di atas nakas, cepat-cepat ia meraihnya. Namun keningnya mengerut begitu melihat nama yang tertera di halaman pesan masuk.
Kelvin mengirim pesan padanya, berkata jika cowok itu ada di depan rumahnya. Ini adalah pesan pertama setelah dua minggu. Tanpa berpikir lama Farra keluar dari kamarnya, memastikan keberadaan cowok itu. Benar saja, cowok itu berdiri di depan rumahnya.
"Kelvin."
Cowok itu menoleh dan tersenyum ke arah Farra, Kelvin memasukan ponselnya ke dalam saku ketika Farra mendekat.
"Ayo ikut gue ke pasar malem, mumpung besok libur."
Farra sempat terdiam sejenak, namun cewek itu cepat-cepat mengangguk sebagai jawabannya.
"Izin dulu ke mama lo," ujar Kelvin.
"Ortu gue belum pulang, nanti jam sepuluh baru pulang. Jalan aja sekarang, takut makin malem."
Kali ini Kelvin yang mengangguk. Selama perjalanan keadaan hening, baik Farra maupun Kelvin sama-sama diam. Kebetulan jarak dari rumah mereka menuju pasar malam tidak terlalu jauh jadi jalan kaki saja bisa.
Situasinya sangat canggung. Ini pertama kali mereka kembali berinteraksi setelah dua minggu bertengkar di malam itu. Farra memang tau di daerah rumahnya ada pasar malam, hanya saja Farra terlalu malas pergi ke sana, bahkan saat Sasti mengajaknya pun Farra merasa malas tapi entah kenapa saat Kelvin yang mengajak, dirinya justru langsung mengiyakan ajakannya tanpa berpikir lama.
"Lo mau apa? Biar gue beliin."
Farra menoleh pada Kelvin. Ah sudah sampai rupanya, selama itukah Farra bengong sampai tak sadar mereka sudah sampai.
"Boba aja," jawab Farra.
"Yaudah gue beliin dulu. Tunggu aja di situ nanti gue samperin."
Farra mengangguk. Cewek itu mulai melangkah duduk di bangku sementara Kelvin membeli minuman yang ia mau.
Lagi-lagi Farra kembali merenungi keinginannya, benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Kelvin. Bukan karena sudah tidak suka tetapi banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan. Sebentar lagi mereka lulus SMA dan semuanya pasti berubah, entah karena salah satunya kuliah atau karena kerja atau bisa saja salah satunya memutuskan pindah, semuanya tidak ada yang tau untuk takdir kedepannya. Farra hanya takut ekspetasinya tidak sesuai dengan realita.
"Ini," Kelvin menyerahkan minuman itu tepat di depan wajah Farra, membuat si empu tersentak kaget.
Kelvin terkekeh pelan, cowok itu ikut duduk di sebelah Farra dengan minuman yang tidak beda jauh darinya.
Lagi-lagi situasi di antara mereka canggung dan hening. Farra dan Kelvin hanya bisa menyedot minuman mereka untuk meredakan rasa canggungnya.
Entahlah, Farra merasa asing dengan kecanggungan ini, mereka terbiasa saling mengejek atau bercanda, jika tiba-tiba diam seperti ini rasanya benar-benar seperti bukan mereka.
"Vin."
"Far."
Keduanya menoleh saat sadar mereka memanggil dengan waktu yang bersamaan. Namun cepat-cepat Farra mengalihkan pandangannya, begitu juga dengan Kelvin, cowok itu langsung menyedot minumannya kembali.
"Lo duluan aja," ujar Kelvin.
Farra mengangguk, kedua tangannya saling menyatu, memainkan jari-jarinya secara random. Farra gugup untuk berbicara agar hubungan berakhir.
"Kenapa?" tanya Kelvin dengan suara lembut. Cowok itu sejak tadi memperhatikan tangan Farra. Kelvin tau Farra sedang gugup saat memainkan jari tangannya secara random.
"Gue beneran mau putus," Farra memberanikan diri menatap Kelvin. Cowok itu terlihat kecewa dengan pernyataannya. Farra bisa melihat raut wajah Kelvin berubah, tidak seperti tadi.
"Kenapa? Padahal gue ngajak lo jalan buat ngomong kalo kita akhirin break ini, gue rasa kita sama-sama udah gak emosi, tapi ternyata gue salah." Kelvin mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Lo masih belum percaya kalo gue sama Vera gak ada hubungan apa-apa?" tanya Kelvin.
"Gue percaya tapi bukan itu alesannya," ujar Farra.
"Terus apa?"
"Kita bentar lagi lulus Vin, belum tentu nanti kita bareng lagi kayak gini. Bisa aja lo kuliah di tempat yang jauh atau sebaliknya, terus bisa aja gue malah milih kerja dari pada kuliah."
"Tapi gak harus putus kan, kenapa lo malah milih putus."
"Gue takut semuanya berubah Kelvin. Lo tolong ngertiin gue ya, gue mau kita udahan."
Cowok itu menghela nafas kasar, tangannya mengusap wajahnya. Sedetik kemudian cowok itu mengangguk, Kelvin kembali tersenyum meskipun kali ini senyumannya terlihat sangat terpaksa.
"Iya, ayo kita akhiri hubungan kita. Mulai malem ini kita bukan lagi pasangan tapi cuma temen biasa."
Farra menangis, matanya spontan mengeluarkan air, menerobos tanpa izin dirinya. Entah kenapa mendengar ucapan Kelvin terasa sangat sesak untuknya, kenapa rasanya sesedih ini, bukannya harusnya ia senang karena hubungannya berakhir seperti keinginannya, tapi kenapa dirinya harus menangis.
"Kenapa jadi nangis, lo cengeng banget sih jadi orang," Kelvin menyeka air mata Farra. Namun sayangnya cewek itu gagal untuk tidak menangis, nyatanya air mata cewek itu keluar lebih deras.
Sejujurnya Kelvin juga sedih, namun sebisa mungkin cowok itu tidak menunjukkan pada Farra. Melihat Farra sehancur ini saja sudah membuatnya sedih apalagi melihat Farra sedih karena melihatnya sedih.
"Ayo pulang udah malem takut orang tua lo udah pulang kerja."
***
Hampir satu bulan Farra dan Kelvin mengakhiri hubungannya, setelah kejadian malam itu keduanya seperti orang asing, mereka hanya diam atau mungkin pergi ketika berpapasan. Farra sendiri sudah menduga ini akan terjadi dan Farra siap jika Kelvin membencinya setelah ini. Farra memang egois meminta hubungannya berakhir di saat Kelvin masih menginginkan hubungannya membaik
"Sasti gue nginep di rumah lo ya."
"Tumben, kenapa lo?"
Sasti tau Farra bukan tipe orang yang suka menginap di rumah temannya bahkan di saat Sasti sudah memaksa. Jika Farra menginginkan menginap berarti cewek itu sedang ada beban pikiran.
"Gak kenapa-napa, orang tua gue pergi lagi keluar kota," jelas Farra.
"Gak nginep di rumah Kelvin, biasanya gitu kalo ortu lo luar kota."
"Lo kan tau gue sama Kelvin udah gak pacaran."
Sasti merotasikan matanya malas, "lo putus hubungan dari segi pacaran tapi hubungan lo sebagai temen belum putus."
"Bukannya kayak gitu spontan ikut putus ya," gumam Farra.
"Terserah lo deh. Dateng aja nanti kalo mau nginep, rumah gue selalu terisi karena gue gak kemana-mana abis pulang sekolah."
"Oke."
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Novela Juvenil"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
