Delapan

51 3 0
                                        

"lo gak berangkat bareng Kelvin?" tanya Sasti dan di jawab gelengan oleh Farra. Cewek itu berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindar dari Kelvin, Farra yakin cowok itu pasti datang kerumahnya untuk mengajak berangkat bersama.

Beruntung hari ini Sasti pun berangkat pagi jadi Farra tidak terlalu kesepian di kelas yang masih kosong ini. Sasti memberi lihat tugasnya pada Farra, meskipun Farra sebenarnya hampir selesai. Kedua orang itu terkadang sering membagi hasil tugas rumahnya, dengan catatan tidak semua tugasnya di lihat, mungkin hanya beberapa saja.

"Far gue mau ngomong tapi lo jangan marah atau tersinggung," ujar Sasti.

Farra menghentikan kegiatannya sejenak, menatap Sasti dengan bingung, "apa?"

"Gue ngerasa lo cemburu ngeliat Kelvin sama Vera kemaren. Maksud gue, lo lebih ke cemburu sebagai pasangan dari pada cemburu karena temen. Mulut lo bisa bilang lo kesel karena hal lain tapi mata lo gak bisa bohong, lo lebih keliatan kayak kecewa kemaren, kurang lebih kayak lo nyiduk cowok lo jalan sama cewek lain. Di tambah si Kelvin juga kayak kaget banget pas ngeliat lo."

Farra tersentak, ucapan Sasti seratus persen tepat, membuatnya kalah telak. Apa begitu kentara sikapnya kemaren atau Sasti yang terlalu peka? Ah tidak tau.

"Lo ada hubungan ya sama Kelvin?" tanya Sasti.

"Iya. Gue aslinya pacaran sama Kelvin tapi gue minta dia jangan ngasih tau siapapun. Lo tau sendiri gimana orang-orang yang suka sama Kelvin, gue minder kalo soal itu. Apalagi Vera, selebgram yang di sukain banyak orang dan pastinya bakal yang setuju kalo Kelvin sama Vera pacaran. Tapi perihal hubungan gue sama Kelvin jangan ada yang tau ya, biar lo aja karena gue percaya lo gak akan ngerendahin gue kalo pacaran sama Kelvin."

Sasti memukul lengan Farra pelan, "Heh sejak kapan gue ngerendahin lo. Gue malah seneng ternyata lo sama Kelvin ada hubungan. Gue emang suka sama couple Vera Kelvin tapi gue lebih suka lagi kalo lo yang pacarnya Kelvin. Lo tuh hobinya berantem mulu kalo sama Kelvin makanya gue mikir bakalan lucu kali kalo kalian pacaran dan ternyata dugaan gue bener. Btw dari kapan lo pacaran?"

"Udah lama gue juga lupa, mungkin Kelvin juga lupa. Interaksi kita lebih condong ke temen dari pada pasangan."

"Emang, gue yang liat aja gerem kalo lo duaan lagi adu mulut eh di balik itu semua ternyata ada hubungan. Fix gue orang pertama yang bakalan nentang hubungan Kelvin sama Vera."

Farra tertawa pelan, cewek itu kembali melanjutkan menuliskannya, mengingat sebentar lagi selesai.

"Lo jangan minder gitu ah Far, gimana pun orang yang suka sama Kelvin, meskipun orangnya perfect, good looking, tapi tetep lo pemenangnya."

Farra mengangguk di tengah aktivitasnya, mengiyakan ucapan Sasti.

Satu persatu murid berdatangan, kelas yang tadinya sepi kini mulai ramai. Tatapan Farra bertemu dengan Kelvin saat cowok itu masuk ke dalam kelas, namun cepat-cepat Farra sudahi, ia tidak mau kalau ada orang yang melihat lalu berfikir yang tidak tidak.

"Lo lagi marahan sama Kelvin?" tanya Sasti dengan suara berbisik-bisik.

"Gue yang marah sebenarnya, dah lah kenapa lo jadi kepoan gini sih," gerutu Farra.

Sasti terbahak meski dengan suara sedikit pelan, "penasaran aja sama jalan kisah cinta temen gue yang galak."

"Ck, kepoan lo, gak asik. Nih buku lo thanks ya."

"Sama-sama."

Farra bangkit dari duduk, menimbulkan pertanyaan bagi Sasti. Masih ada beberapa menit lagi sebelum bel masuk jadi Farra berniat membeli roti sebentar, entah kenapa tiba-tiba ia ingin sekali makan roti.

"Mau kemana lo?" tanya Sasti.

"Koperasi, nyari roti," jawab Farra.

"Kenapa gak di kantin?"

"Lo lupa di kantin gak ada roti."

"Oh iya gue lupa. Gue ikut deh sekalian mau jajan juga."

"Ayo."

***

Kelvin menghela nafas, ia tau Farra masih menghindarinya, bahkan saat ada kesempatan, Kelvin berusaha menghampiri Farra, namun cewek itu terus menghindarinya. Kelvin tidak marah pada Farra, karena menurutnya memang wajar Farra marah padanya, jika ia yang berada di posisi Farra mungkin Kelvin juga akan marah.

Bel pulang sudah berbunyi. Hari ini Farra kebagian piket, itu artinya Farra akan pulang telat di banding murid lainnya. Kelvin harap usahanya kali ini tidak gagal. Ia benar-benar ingin masalah ini cepat selesai dan Farra tidak lagi marah dengannya.

Kelvin memutuskan untuk menunggu cewek itu di luar kelas. Di dalam sana masih ada beberapa murid lagi selain Farra jadi Kelvin harap Farra tidak menghindarinya, cowok itu yakin Farra tidak akan menghindarinya jika ada murid lain, karena orang-orang taunya Farra akan pulang bersama Kelvin, mengingat setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang bareng.

"Hai Kelvin, belum pulang?"

Cowok itu menoleh, mendapati Vera di sebelahnya. Jujur, untuk kali ini Kelvin berharap tidak terjadi apapun lagi dengan keberadaan Vera, namun semua itu hanya sekedar angan semata.

"Lo mau anterin gue pulang gak? Gue gak ada temen pulang soalnya."

Detik itu juga Farra keluar kelas, mendengar permintaan Vera. Kelvin terkejut, ia melihat raut wajah Farra yang datar, namun yang membuatnya kembali panik saat Farra pergi begitu saja. Cewek itu meninggalkan Kelvin dengan Vera di depan kelas.

"Maaf gue gak bisa, gue duluan ya Ver."

Kelvin mengejar Farra, membuat Vera mendengus kesal. Vera sedikit menaruh kecurigaan mengenai mereka berdua, tidak mungkin Kelvin sampai terlihat takut seperti itu tadi.

"Far!!! Farra!!!"

Kelvin menahan lengan Farra, cewek itu mau tak mau harus berhenti. Matanya masih melihatkan kekecewaan pada Kelvin.

Jujur, Farra bukan hanya marah pada Kelvin tetapi juga marah pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa mengendalikan rasa cemburu dan insecurenya. Farra semakin merasa tidak pantas menjadi pasangan Kelvin jika melihat Vera yang terlalu sempurna baginya.

"Lo kenapa ninggalin gue?!"

"Lo mau nganterin Vera kan, ngapain gue harus nungguin," ujar Farra.

"Kata siapa, lo tuh kebiasaan suka ngambil kesimpulan sendiri. Ayo pulang bareng, gue dari tadi udah nungguin lo."

Kelvin menarik tangan Farra agar menuju motornya namun ucapan cewek itu membuatnya kembali diam.

"Gue belum mau pulang, lo pulang duluan aja."

"Mau kemana?" tanya Kelvin.

Farra diam sejenak, haruskah ia memberitahu Kelvin. Farra tidak bohong perihal ia belum mau pulang.

"Gue mau jalan-jalan dulu sebentar, lo bisa duluan, gue mau jalan sampe magrib soalnya."

"Kemana? Sama siapa?"

"Sendiri."

"Gue temenin."

Farra mengangguk. Ini adalah cara Farra meredam emosi, jalan-jalan melihat sekitar dan kulineran jajanan yang ada di pinggir jalan apapun yang menggunggah seleranya.

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang