Dua Puluh Tujuh

62 3 0
                                        

"Farra tolong kasih ini ke rumah Kelvin!!"

Farra menghela nafas berat. Cewek itu menghampiri mamanya di dapur. Di depannya tertera rantang makanan dengan berbagai isi.

"Kamu anter ke rumah Kelvin. Kasian dia sakit sendirian di rumah, orang tuanya lagi gak di sini."

"Kelvin sakit? Kata siapa? Perasaan kemaren Kelvin datengin Farra ke tempat kursus masih sehat aja."

"Mama gak tau tapi tadi mama liat dia abis dari apotek, wajahnya pucet banget, pas mama tanya kenapa dia yang beli obat, katanya orang tuanya lagi pergi ke rumah sodaranya."

"Biasanya kalo Kelvin sakit gak pernah di tinggal kemana-mana," ucap Farra.

"Orang tuanya gak tau Kelvin sakit makanya tetep pergi, mungkin kalo tau juga pasti ngebatalin."

Farra mengangguk, meski ia keberatan dengan permintaan mamanya namun tidak menutup kemungkinan Farra juga khawatir pada Kelvin, di tambah cowok itu jarang sakit sebenarnya.

"Kelvin buka pintunya!!! Ini gue Farra!!!"

Farra terpaksa berteriak. Kelvin belum muncul dari balik pintu meski ia sudah mengetuknya beberapa kali.

"Kelvin!!!"

Farra kembali mengetuk pintu rumah Kelvin. Cewek itu tersenyum kecil ketika mendengar suara seseorang membuka pintunya.

Benar ucapan mamanya, wajah Kelvin sangat pucat. Melihat keberadaan Farra membuat Kelvin bingung dan senang secara bersamaan. Secara spontan Kelvin menjatuhkan kepalanya di bahu Farra, membuat cewek itu diam di tempat karena merasa gugup. Kelvin tidak pernah seperti ini sebelumnya pada Farra namun rasa gugup itu hilang begitu ia merasakan hawa panas dari tubuh Kelvin.

Farra berusaha mengangkat kepala Kelvin dari bahunya, tangan cewek itu spontan memegang kening Kelvin. Benar, hawa panas langsung mengenai kulitnya, "lo udah minum obat?"

Kelvin menggeleng.

"Kenapa belum sih?!! Badan lo panas gini juga!!"

Kelvin tersenyum, "gue seneng lo udah cerewet lagi sama gue."

"Gak usah ngalihin ucapan. Lo kenapa belum minum obat?"

"Karena gak ada lo."

"Serius Kelvin!!"

Cowok itu terkekeh pelan, "gue gak bisa masak, badan gue aja lemes. Lo tau kan orang minum obat harus makan dulu."

Bohong, Kelvin bisa masak sebenarnya. Cowok itu hanya membual soal dirinya yang tidak bisa masak agar Farra di sini lebih lama.

"Ini gue bawain makanan. Mama gue yang masak, lo makan abis itu minum obat."

"Temenin."

"Ck, gak usah ngaco."

"Gue serius, temenin."

"Di rumah lo gak ada siapa-siapa Kelvin."

"Pintunya gue buka Farra, lagian cuma di ruang tamu ini. Pintu gue buka lebar banget biar lo tenang. Temenin gue ya, gue lemes banget gak punya tenaga," ucap Kelvin.

Sebenarnya Farra masih ingin mengindari Kelvin namun melihat kondisi cowok itu akhirnya Farra mengangguk. Terlihat jelas kalau cowok itu tersenyum tipis di wajahnya.

Farra merapihkan makanan yang ia bawa lalu memberikan pada Kelvin. Farra juga sudah menyiapkan obat harus Kelvin minum. Cowok itu makan dengan pelan dan tangan gemetar. Melihat kesulitan Kelvin, Farra langsung merebut sendok dari tangan cowok itu. Farra menyuapin Kelvin dengan pelan.

Kelvin tersentak dengan perlakuan Farra, hatinya terasa hangat dengan perbuat kecil yang Farra lakukan. Dalam hati, Kelvin membatin, ia mengaku bodoh sudah mengabaikan cewek di depannya berbulan-bulan, padahal Kelvin tau Farra sering mengiriminya pesan, sekedar menanyakan kabar dan hari-hari cowok itu. Bodohnya Kelvin malah mengabaikan cewek itu hanya karena sempat tertarik pada Novi.

"Gue minta maaf Far," ucap Kelvin di tengah keheningan.

Farra tidak menjawab, cewek itu fokus pada makanan di tangannya dan terus menyuapi Kelvin. Farra hanya ingin cepat pulang setelah Kelvin menghabiskan makanannya.

Kelvin meraih tangan Farra, membuat pergerakan cewek itu terhenti, mau tak mau Farra menatap Kelvin.

"Berhenti minta maaf, lo gak salah apapun sama gue. Cepet abisin makanannya, gue bentar lagi mau pulang."

"Dengerin gue dulu sebentar."

Farra menghela nafas kemudian cewek itu mengangguk.

"Jadi waktu itu...."

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang