Sembilan

51 3 0
                                        

"Suka?"

Farra mengangguk, mereka duduk di pinggir jalan sambil menikmati kerak telor di tangannya masing-masing. Keduanya tidak malu duduk di pinggir jalan begini karena memang banyak orang yang juga melakukannya dan sudah hampir dua jam mereka jalan-jalan. Diam-diam Kelvin tersenyum, cowok itu merasa Farra tidak sedatar tadi.

"Far," panggil Kelvin.

"Hm," Farra bergumam dengan makanan di dalam mulutnya.

"Gue minta maaf, gue sama sekali gak ada apa-apa sama Vera."

Farra terdiam, ia sudah melupakan hal itu tadi tapi sekarang Kelvin justru kembali mengingatkannya, tetapi karena sudah tidak sekesal tadi akhirnya Farra mengangguk sebagai jawaban untuk ucapan Kelvin.

"Jangan suka ngindar lagi gue gak suka, kita udah dari kecil sering bareng kalo tiba-tiba lo ngehindar gara-gara hal kayak kemaren gue bingung, gue gak biasa ada di situasi lo ngejauh," ungkap Kelvin sejujur-jujurnya.

"Gue juga minta maaf karena udah ngehindarin lo. Jujur, gue terlalu takut lo pindah hati karena Vera terlalu perfect and good looking, beda sama gue kemana-mana. Gue insecure kalo ngeliat lo berduaan sama Vera, gue jadi makin merasa gak pantes jadi pacar lo."

Farra mengalihkan pandangannya. Jujur, butuh keberanian besar mengungkapkan isi hatinya pada Kelvin, Farra takut setelah ini Kelvin akan menganggapnya aneh atau semacamnya. Namun alih-alih mendapat respon tak menyenangkan, Farra justru mendapat respon baik atas pengakuannya. Terbukti sekarang Kelvin mengelus puncak kepalanya. Meskipun mereka seangkatan tapi percayalah mereka beda umur. Kelvin lebih tua satu tahun dari Farra. Alasan mereka bisa satu angkatan karena dulu saat kecil, Kelvin sengaja di sekolahkan satu tahun lebih telat. Jika biasa orang akan memulai SD umur enam tahun tapi Kelvin tidak, cowok itu baru sekolah saat umurnya tujuh tahun, berbeda dengan Farra yang memang sekolah di umur enam tahun.

"Jangan suka insecure gue gak suka. Gue udah kenal lo dari kecil begitu pula lo, kita tumbuh di lingkungan yang sama dari kecil, jadi apapun tentang lo, gue suka gak peduli orang-orang mikir jelek tentang lo. Mereka cuma ngeliat lo pas di sekolah sementara gue liat lo bahkan di rumah, jadi jangan dengerin omongan orang yang ngeliat lo cuma dari sekolah."

Farra mengangguk kecil, "pulang yuk udah mau adzan nanti di cariin."

"Ayo."

***

Kelvin jengah, makin hari makin banyak rumor yang bilang dirinya pacaran dengan Vera. Hubungannya dengan Farra baru membaik, Kelvin tidak ingin cewek itu marah kembali. Mendengar pengakuan Farra kemarin membuat Kelvin sadar, kalau Farra jadi merasa kurang percaya dengan dirinya sendiri. Sedari dulu Kelvin selalu berusaha agar Farra tidak minder dengan dirinya bahkan di saat mereka belum pacaran. Ikatan pertemanan mereka terlalu kuat di tambah keduanya sama-sama menyimpan perasaan satu sama lain.

"Lo beneran pacaran gak sih sama Vera?"

Rama menatap teman di depannya, cowok yang asik dengan ponsel di tangannya dan minuman di mejanya.

"Enggak."

"Kenapa banyak yang bilang gitu?" tanya Rama lagi.

"Mana gue tau."

"Lo gak takut Farra marah lagi?"

Okey, sebagai informasi. Rama sudah mengetahui kalau Kelvin berpacaran dengan Farra. Bukan karena cowok itu yang bilang, tetapi karena Rama sendiri yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Farra dan Sasti waktu itu. Saat percakapan itu, sepertinya Farra dan Sasti tidak menyadari keberadaannya, alhasil Rama mendengar semua percakapan dua orang itu dan karena kelewat penasaran akhirnya Rama memutuskan untuk bertanya langsung pada Kelvin. Awalnya Kelvin juga kaget tapi setelah mendengar ucapan Rama barulah Kelvin mengiyakan pertanyaannya. Jika Farra memberitahu Sasti tentang hubungannya berarti tidak ada salahnya jika Rama juga tau, toh Rama juga teman dekat Kelvin sama seperti Sasti, teman dekat Farra.

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang