Dua puluh empat

43 3 0
                                        

Hari yang di tunggu tiba. Hari dimana perayaan kelulusan angkatan mereka. Banyak murid yang menunggu moment ini datang, meski sebagian rasa sedih juga hinggap di antara mereka. Kelulusan berarti akhir dari status mereka sebagai pelajar, akan ada banyak jalan ke depannya untuk mereka melanjutkan karirnya maupun impiannya, tergantung orang dan kemauan mereka sendiri.

Farra terus menatap dirinya dari pantulan cermin. Ia merasa gugup, itu sebabnya sudah lima belas menit Farra berdiam diri di kamar mandi sekolah hanya untuk menetralisir rasa gugupnya.

Tampil dengan make up dan kebaya benar-benar bukan gayanya tapi ia tetap harus melakukan itu sebagai siswi di sekolah ini. Padahal dari pada kebaya, Farra lebih percaya diri menggunakan jas tapi sayang jas hanya di pakai untuk laki-laki di saat acara seperti ini.

Ponsel di tasnya berdering cukup kencang di saat keheningan melanda. Farra cepat-cepat merogoh ponselnya di dalam tas.

"Lo dimana sih!!! Acara mau mulai woy!!!"

Farra melototkan matanya. Benar, sudah jam setengah sembilan dan acara hampir di mulai. Agh, ini pasti gara-gara ia kelamaan di sini.

"Iya sebentar lagi gue ke sana."

"Lo dimana sih emang?"

"Kamar mandi."

"Ck, ada panggilan alam lo. Cepet buruan, gue tutup dulu telponnya."

"Iya."

Sambungan telfon terputus, cepat-cepat Farra keluar dari sini. Rasa gugupnya seketika hilang berganti menjadi panik. Ia akan merasa malu jika datang di saat acara sudah mulai, bisa-bisa dirinya nanti menjadi pusat perhatian.

Farra menghela nafas lega, acaranya belum di mulai meskipun sebentar lagi akan di mulai. Farra menghampiri Sasti, duduk di sebelah temannya. Farra terkesima, Sasti terlihat sangat cantik dengan polesan make up di wajahnya. Sasti hampir sama seperti dirinya, tidak terlalu suka dengan make up. Jika Sasti terlihat cocok dengan make up di wajahnya, apakah ia juga sama? Tiba-tiba Farra menjadi insecure, jangan-jangan dirinya terlihat aneh dengan make up di wajahnya.

"Heh lo lari ke sini?" tanya Sasti.

Farra tersentak, lamunannya buyar berkat pertanyaan Sasti barusan.

"Apa?? Lo nanya apa barusan. Sorry gue bengong barusan."

"Lo lari ke sini?" tanya Sasti lagi.

"Iya, kenapa emang?"

"Make up lo luntur sama keringet."

Farra melotot, ia meraih ponselnya, membuka kamera untuk melihat wajahnya. Benar, make up nya luntur. Agh, kenapa harus sekarang, mana dirinya lupa membawa make up, padahal mamanya sudah mengingatkan dirinya untuk membawa beberapa alat make-up untuk keadaan genting, salah satunya ini.

"Gimana nih. Lo bawa make up gak?" tanya Farra pada Sasti.

"Enggak."

"Aduh gimana nih."

"Ini...."

Farra dan Sasti menoleh, Kelvin menyerahkan dompet kecil berisikan alat make-up. Tentu saja Farra langsung mengenali dompet itu karena dompet itu milik mamanya dan itu make up yang pagi di pakaikan mamanya untuk dirinya.

"Kenapa bisa ada di lo?" Farra menerima dompet itu dari Kelvin.

"Mama lo nitip ke gue katanya suruh kasih ke lo, takut make up lo luntur."

Farra mengangguk. Mamanya benar-benar penolong baginya.

"Cepet benerin make up nya, sepuluh menit lagi mulai acaranya. Sasti, lo make up pin tuh Farra, lo bisa kan?"

Backstreet {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang