"Vera bisa ngobrol berdua gak?"
Cewek itu menoleh, mengangguk dengan antusias dan senyum di wajahnya. Kelvin tidak sejahat itu menanyakan maksud ucapan Vera di depan teman-temannya sekalipun Kelvin marah dengan cewek itu, Kelvin tetap tidak ingin mempermalukan Vera di depan teman-temannya.
Sementara teman-teman Vera justru heboh sendiri di meja kantin. Farra menyaksikan itu, namun sebisa mungkin ia tidak peduli. Sasti sendiri memilih diam tanpa mau ikut campur. Bagi Sasti, Farra dan Kelvin sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalahnya, mereka bukan anak SD atau SMP yang tau cinta monyet, tapi mereka sudah kelas dua belas, yang artinya mereka sudah sama-sama dewasa.
"Ada apa Vin?" tanya Vera.
"Lo nyebarin apa tentang kita berdua?" bukannya menjawab, Kelvin justru melontarkan kalimat pertanyaan. Vera terlihat panik namun tetap berusaha tersenyum.
"Nyebarin apa Kelvin? Gue gak ngerti apa yang lo bahas."
"Gue tau apa yang lo omongin ke temen-temen lo. Ver gue minta sama lo jangan pernah nyebarin sesuatu yang gak pernah terjadi, apalagi sampe bilang kita pacaran. Gara-gara perbuatan lo, hubungan gue sama pacar gue hampir berakhir," ucap Kelvin.
"Pacar? Lo udah punya pacar? Siapa Vin?"
"Iya gue udah punya pacar dan gara-gara lo bilang kita pacaran, pacar gue marah."
"Siapa pacar lo? Temen-temen gue? Gue cuma ngasih tau temen-temen gue perkara ini?" Cara bicara Vera semakin mendesak Kelvin, beruntung cowok itu berhati-hati dalam menuturkan kalimat.
"Intinya pacar gue sempet denger lo bilang kita pacaran sama temen lo. Sekarang terserah lo, mau lo yang bilang kita gak pacaran atau gue sendiri yang bilang kita gak pernah pacaran."
Kelvin pergi dari sana, meninggalkan Vera yang sedang cemas perkara ancaman Kelvin. Cowok itu memang berkata dengan nada biasa tanpa ada notasi nada kemarahan tapi dari cara berkalimat saja Vera sudah tau kalau Kelvin benar-benar marah padanya.
***
"Lo beneran mau putus sama Kelvin? Pikirin lagi deh, lo udah pacaran lama kan sama dia?"
Farra mengangguk. Keduanya memang menjalin hubungan dari awal kelas sepuluh, saat itu mereka sedang pulang bersama setelah setengah hari melakukan masa MPLS. Secara random Kelvin menembaknya, secara spontan Farra tersenyum, ingatan saat itu benar-benar lucu menurutnya. Kelvin adalah cowok yang paling gak niat mengajaknya pacaran saat itu, rasanya Farra ingin kembali ke masa itu.
"Apa lo gak takut hubungan pertemanan kalian juga akan ancur kalo lo putus."
Ucapan Sasti membuat sadar. Temannya benar, jika Farra putus dengan Kelvin bisa menjadi kemungkinan pertemanan mereka juga hancur. Jujur, Farra menyesal menerima Kelvin saat itu, Farra tidak memikirkan kedepannya. Jika pertemanan dengan Kelvin hancur, lebih baik Farra memilih tidak pernah berpacaran dengan Kelvin.
Cowok itu sudah masuk ke dalam list orang yang Farra sayang. Farra akan takut jika Kelvin justru menjauhi dirinya setelah hubungan mereka berakhir. Kehilangan teman seperti Kelvin adalah hal terburuk yang ia rasakan. Jaman sekarang susah mencari teman seperti Kelvin.
"Pikirin lagi deh Far kata gue mah. Lo cuma emosi sesaat, paling seminggu kemudian lo udah baikan lagi sama Kelvin," ujar Sasti.
"Tapi kalo enggak? Gimana kalo Kelvin sebenarnya emang gak suka sama gue, dia aslinya kebebanan karena ada gue?"
Farra masih memikirkan ucapan Kelvin saat itu, meskipun cowok itu bilang ia salah paham dengan maksudnya.
"Gini deh, coba lo tanya Rama soal yang mereka bilang. Katanya lo denger dari Kelvin pas lagi ngobrol sama Rama, nah sekarang buat mastiin lo tanya langsung sama Rama."
Sasti memang tau perkara itu. Farra sudah menceritakan semuanya pada temannya itu. Farra bercerita karena percaya dengan Sasti bukan karena alasan yang lain.
Sejujurnya Sasti sempat emosi pada Kelvin setelah mendengar cerita Farra. Bisa-bisanya cowok itu berfikir begitu tentang temannya, namun setelah Farra bilang Kelvin menyuruhnya untuk bertanya pada Rama, dari sana Sasti percaya, pasti ada kesalahpahaman antara dua orang itu.
"Tapi gak papah deh gue break dulu sama Kelvin, minggu depan kita udah ujian, mungkin Kelvin ngajuin itu buat fokus sama ujian dulu."
"Terserahlah lo deh, apapun itu, gue bakal dukung lo buat yang terbaik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Fiksi Remaja"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
