Hari demi hari berlalu, satu persatu ujian try out sudah terlaksanakan dan ujian kelulusan tinggal menunggu sebentar lagi. Seminggu ini Farra menyibukkan diri untuk belajar begitu juga dengan Sasti, meski terkadang mereka masih sering main.
Farra dan Kelvin benar-benar seperti orang asing bahkan saat mereka berpapasan di depan rumah, Kelvin langsung pergi atau memalingkan wajahnya. Farra sebenarnya sedikit tidak enak pada orang tua Kelvin, bagaimana pun juga mereka sangat baik padanya, tetapi saat di depan orang tua Kelvin, Farra bertingkah seakan tidak terjadi apapun padanya.
Seharusnya Farra senang bukan Kelvin menjauh, tapi tidak. Farra benar-benar tidak menyukainya, ia merasa ada yang hilang. Sosok teman yang selalu ada untuknya kini hilang dan Farra merasa kehampaan. Kelvin memang sepengaruh itu untuk hari-harinya yang sepi ini. Andai Vera tidak pernah mengancamnya, mungkin hingga saat ini Farra masih berteman dengan Kelvin, sekalipun mereka sudah tidak menjalin hubungan.
Berita Kelvin dan Vera semakin hari semakin menjadi. Jika dulu Kelvin terang-terangan menunjukkan tidak ada hubungan apapun dengan Vera tapi kali ini tidak, cowok itu memilih diam tanpa melakukan aksi apapun, sehingga orang-orang menganggap mereka pacaran, atau mungkin pacaran sesungguhnya, entahlah Farra tidak tau, rasanya hal seperti itu sudah tidak bisa ia tanyakan lagi pada Kelvin.
"Lo mau ikut gue ke kantin gak?" tanya Sasti.
Hampir seminggu ini Farra sama sekali tidak pergi ke kantin, Sasti sudah tau hubungan Farra dan Kelvin berakhir dan sebenarnya Sasti agak menyayangkan hubungan keduanya kandas tapi Sasti sendiri tidak bisa memaksa Farra, selagi Farra merasa benar dan terbaik, Sasti mendukung itu.
Di balik Sasti yang tau hubungan Farra dan Kelvin berakhir, Farra memang sudah menceritakan semua yang ia rasa, tapi untuk ancaman Vera, Farra tidak berani menceritakannya pada Sasti. Farra tidak ingin ada keributan gara-gara dirinya, di tambah Sasti orangnya emosian, Farra hanya takut Sasti bertengkar jika tau alasan lain Farra menghindari Kevin.
"Ikut," jawab Farra.
"Syukur deh lo udah mau ke kantin. Ayo buruan takut keramean kalo di tunda."
Farra mengangguk, cewek itu bangkit dari tempat duduknya. Farra merasa rindu dengan jajanan kantin.
Sesampainya di kantin, ekor matanya menangkap sosok Kelvin sedang makan di meja yang sama dengan Vera. Cowok itu terlihat santai dan menikmati kebersamaannya dengan Vera. Jujur, sedikit menyesakan bagi Farra tapi sebisa mungkin dirinya bersikap biasa bahkan di saat tatapan mereka bertemu.
"Beli apa?" tanya Sasti.
"Gue bakso sama air mineral aja tapi makannya di kelas aja ya," ujar Farra.
"Kenapa?"
"Gak papah pengen di tempat sepi, kantin pasti rame nanti, males gue."
"Yaudah, gue ke sana dulu nanti kalo udah selesai kesini lagi aja. Gue mau ikut lo makan di kelas nanti."
"Oke."
***
"Far!! Farra!!" pekik Sasti.
Merasa namanya di panggil, Farra mendongak, kening cewek itu mengerut, Sasti tampak kelelahan dengan deru nafasnya, bahkan peluh membasahi seluruh wajahnya.
"Kenapa lo?" tanya Farra.
"Kelvin!! Dia, dia...."
"Dia kenapa?" tanya Farra yang bingung dengan maksud ucapan Sasti.
"Kelvin berantem sama anak kelas sebelah di kantin!!!" pekik Sasti.
"Hah!! Gimana bisa?!!"
Farra bangkit, melupakan novel di tangannya. Cewek itu berlari menuju kantin, di ikuti oleh Sasti. Farra pikir istirahat keduanya akan terasa tenang tapi ternyata tidak, pikiran Farra kalut, terakhir kali Kelvin berantem saat kelas delapan dan saat itu Kelvin memang sedang nakal-nakalnya dan selama ini sikap nakalnya hilang dan entah kenapa sekarang Kelvin kembali berantem?
Farra berhenti begitu pula Sasti, keduanya saling pandang melihat keadaan tenang di kantin. Sasti menggeleng kencang saat tau maksud tatapan Farra.
"Far, gue serius ngeliat mereka berantem di sini tadi. Apa mungkin udah ada yang misahin kali ya," ujar Sasti.
"Bisa jadi. Lo tadi mau jajan kan? Gue tinggal ya, gue mau ngeliat ke ruang BP."
"Lo gak mau sekalian jajan aja dulu mumpung di sini?" tanya Sasti.
Farra menggeleng, "gak dulu."
"Oke."
Farra dan Sasti berpisah. Farra melangkah menuju ruang BP, ruang dimana murid akan di sidang setelah kena kasus dalam dunia persekolahan.
Cewek itu menatap gusar pada pintu yang tertutup rapat di depannya. Sejujurnya ia tidak yakin Kelvin ada di dalamnya namun setelah menunggu beberapa menit pintu itu terbuka, menampakan Kelvin dan murid yang lain. Farra tebak, orang itu yang berantem dengan Kelvin.
Namun alih-alih menghampiri Farra, Kelvin justru pergi begitu saja, mengacuhkan keberadaan Farra, bahkan cowok itu tidak melirik kearahnya.
"Kelvin tunggu!" Farra mencegah Kelvin. Menahan lengan cowok itu agar tidak pergi begitu saja.
Kelvin menatapnya datar, membuat Farra sungkan untuk menanyakan keadaannya. Ini pertama kali bagi Farra melihat raut wajahnya sedatar ini.
"Lo kenapa bisa berantem sih?"
Kelvin mendengus, cowok itu menghempas pelan tangan Farra di lengannya,"bukan urusan lo."
"Iya gue tau bukan urusan gue tapi lo bikin gue khawatir tau gak!"
"Ck, orang asing bukannya gak sedeket itu buat khawatir."
Farra diam menatap Kelvin pergi. Cowok itu benar, jika dirinya menganggap sebagai orang asing tidak seharusnya ia khawatir, tapi kenapa tidak bisa. Farra benar-benar tidak bisa untuk tidak khawatir pada Kelvin, apalagi di wajahnya ada memar yang harus di obati.
Farra menghela nafas, lebih baik sekarang ia ke kantin, menyusul Sasti di sana. Siapa tau temannya masih ada di sana.
***
Kelvin meringis ketika obat merah mengenai lukanya. Setelah bertemu Farra, Kelvin memutuskan pergi ke UKS untuk mengobati luka di wajahnya. Kelvin tersenyum kecil ketika mengingat wajah Farra yang khawatir padanya, beruntung dirinya bisa menahan ekspresi wajahnya tadi. Sejujurnya Kelvin sangat senang tau Farra tidak benar-benar menganggapnya asing, tapi demi menjada image nya, Kelvin memasang wajah datarnya.
"Udah selesai, besok-besok kalo berantem gak bakal gue obatin lo," gerutu Sasti.
Yaps, cewek itu yang mengobati Kelvin. Secara tiba-tiba Sasti di kirimi pesan oleh Kelvin untuk mengobati lukanya dengan alesan tidak ada penjaga UKS. Niatnya yang tadi ingin makan harus ia tunda dan pergi ke UKS.
"Traktir gue seperti kesepakatan tadi," ucap Sasti.
"Iya, asal jangan ngasih tau Farra kalo lo yang ngobatin gue."
"Tenang, dah gue mau balik ke kelas takut Farra nyariin gue."
Kelvin mengangguk. Cowok itu membaringkan tubuhnya di atas brankar, menatap langit-langit ruang UKS. Pikirannya kembali melayang pada saat Kelvin berantem. Cowok itu benar-benar tidak tau dan merasa tidak kenal dengan orang itu namun secara tiba-tiba orang itu memukulnya di kantin.
Bukk!!!
"Maksud lo apa deketin cewek gue!!!"
Kelvin mengelap darah di bibirnya, "maksud lo apaan!!"
"Ck, pura-pura bodoh lo jadi cowok."
Orang itu kembali memukul Kelvin. Tidak tinggal diam Kelvin ikut membalas orang itu. Keduanya mulai adu jatos dimana orang tidak ada yang mau memisahkan mereka. Namun tidak berlangsung lama, dua guru datang memisahkan mereka.
"Kalian apa-apaan sih!!!! Udah dewasa masih berantem kayak anak kecil. Kalian ikut ke ruang BP!!"
Kelvin mendengus, cowok itu mau tak mau mengikuti ucapan gurunya. Ini adalah catatan buruk pertama kali baginya di masa SMA, semoga saja tidak terlalu ribet urusannya.
"Cewek dia? Kenal aja enggak. Agh, gak tau lah pusing gue mikirinnya!!" pekik Kelvin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Fiksi Remaja"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
