Helaan nafas terdengar dari Farra, cewek itu masih berada di rumah Kelvin setelah pulang sekolah tadi. Kelvin menyuruh dirinya untuk tetap berada di rumah cowok itu.
Sedari mereka pulang, hujan terus mengguyur kota ini dengan petir sedikit keras. Kelvin tidak mau Farra ketakutan sendirian di rumahnya. Ratna bahkan setuju dengan ucapan Kelvin.
Farra menatap luar jendela dari ruang tamu. Jika di lihat, rasanya hujan masih lama berhenti dan sekarang langit sudah gelap, sudah waktunya matahari tenggelam.
Farra sudah tidak menggunakan seragam sekolah. Cewek itu di pinjami baju dan celana Ratna. Sejujurnya Farra merasa lelah hari ini, tubuhnya sedikit demam namun tidak memberitahu Kelvin. Cewek itu tidak ingin keluarga Kelvin khawatir padanya, rasanya dengan ia di sini saja sudah merepotkan keluarga Kelvin, apalagi jika memberi tahu soal kondisinya, mungkin Farra akan sangat sangat merepotkan keluarga ini.
"Lo gak capek berdiri terus?"
Kelvin menghampiri Farra, berdiri tepat di sebelah Farra.
"Gue mau pulang."
"Iya nanti kalo hujan sama petirnya udah reda. Gue takut lo kenapa-napa kalo sendirian di rumah."
Kelvin memperhatikan wajah Farra, cowok itu melihat wajah Farra pucat dengan matanya yang sayu. Secara spontan tangan Kelvin terangkat, menyentuh kening Farra. Rasa panas menjalar di kulitnya kala tangannya menyentuh kening Farra. Melihat itu Farra cepat-cepat menepis pelan tangan Kelvin.
"Lo demam, kenapa gak bilang?! Gue udah ngeduga lo bakal demam. Lo tuh selalu demam kalo bener-bener lagi ketakutan," omel Kelvin.
"Istirahat di kamar gue, malem ini lo nginep aja di sini, kalo lo pulang gak akan ada yang ngerawat lo."
"Kalo gue tidur di kamar lo, terus lo gimana? Gak, gue pulang aja nanti pas hujan reda."
"Gue bisa tidur di ruang tamu. Tunggu sebentar, gue bilangin ke mama gue dulu, sana istirahat, nanti gue anterin makanan sama obat."
"Kelvin gak usah ih, orang gue gak kenapa-kenapa."
"Gak kenapa-napa gimana, lo demam gini juga. Gue mohon Farra, buat kali ini dengerin permintaan gue."
Farra diam sebentar, "gue gak enak sama orang tua lo Vin," lirih Farra.
"Gak enak gimana? Mereka udah nganggap lo kayak anak mereka, lo gak perlu sungkan atau merasa gak enak. Percaya sama gue, apa yang lo pikirin sama sekali gak terjadi."
***
Tiga hari Farra izin tidak sekolah. Demamnya terus berlanjut setelah ia pulang dari rumah Kelvin hari itu. Kedua orang tuanya pun juga sudah pulang dan mama nya untuk sementara waktu akan ada di rumah.
Jujur, sakit kali ini Farra merasa senang, bukan senang karena Farra sakit, tetapi senang karena ia di rawat oleh mama nya setelah sekian lama. Ini yang Farra rindu, situasi dimana ia merasa mempunyai keluarga.
Hubungan Farra dan kedua orang tuanya baik, sama sekali tidak ada konflik, hanya saja kedua orang tuanya terlalu fokus pada pekerjaan hingga terkadang lupa jika ia masih membutuhkan sosok peran orang tua.
"Udah minum obat belum?"
Farra menoleh, mama nya duduk di sebelahnya. Farra merasa bosan terus berbaring di kamar, akhirnya ia memutuskan untuk duduk di ruang tamu, sesekali memainkan ponselnya sejenak, melihat pesan grup kelasnya.
"Udah."
"Selama mama sama ayah gak di rumah, kamu baik-baik aja kan?"
Farra mengangguk, "iya."
"Mama kapan kerjanya lagi?" tanya Farra. Jujur saja, ia masih ingin mama nya ada di rumah dalam waktu lama.
"Kurang tau, tapi buat seminggu ini mama libur."
"Ayah kenapa gak libur?"
"Ayah kamu ngambil libur setelah mama, jadi setelah mama masuk ayah kamu yang libur. Kita sengaja bergilir biar bisa nemenin kamu di rumah."
Farra tersenyum kecil. Ia cukup terharu dengan pengakuan mama nya. Ternyata kedua orang tuanya masih memikirkan dirinya. Farra fikir karena orang tuanya selalu bekerja, tidak ada di pikirannya kalo ia merasa kesepian di rumah.
"Mama masak dulu, udah sore takut ayah kamu pulang belum ada makanan."
"Iya."
Setelah mama nya pergi, ponselnya bergetar, pesan masuk kedalamnya. Kelvin, cowok itu pelaku yang membuat ponselnya bergetar. Selama sakit Kelvin terus memberi pesan padanya. Cowok itu benar-benar membuatnya terhibur.
KN
|Udah enakan belum?
Udah|
|Besok sekolah?
Iya|
|Berangkat bareng gue
Iya|
|Jangan minta di turunin di tengah jalan!!
Kalo minta?|
|Gue turunin beneran.
Ya gak papah kan gue yang mau.|
|Gue yang gak mau!!
Iya iya, tapi lo yang jawab kalo ada| yang nanya.
|Iya. Dah sekarang istirahat lagi biar besok bisa sekolah. Demen banget bikin mas pacar kangen.
Lo sering dateng ke rumah gue ya,| kangen gimana nya!!
|Wk, bener juga. Pokoknya besok kalo lo sekolah berangkat bareng gue.
Iya ih bawel banget|
|Lo gak bakal nurut soalnya kalo gue gak bawel.
Buat besok gue bakal nurut.|
Farra mematikan data di ponselnya. Menaruh ponselnya di atas nakas. Cewek itu tersenyum setiap mengingat Kelvin. Cara cowok itu menghiburnya selalu membuat Farra senang. Farra harap kedepannya, hubungan mereka seperti ini terus. Jujur saja, terkadang Farra takut jika sesuatu terjadi dan membuat hubungannya renggang. Farra pernah mendengar jika sahabat berpacaran, ketika mereka putus maka persahabatan mereka juga akan putus karena mereka akan merasa canggung satu sama lain dan Farra tidak mau merasakan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet {END}
Fiksi Remaja"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya lagi batal pacaran." "Eh, jangan."
