[ADYA]
"After careful consideration, we regret to inform you that we have decided to move forward with another candidate who more closely aligns with the qualifications we were seeking. However, we will keep your resume on file and may reach out should another opportunity arise that fits your skills and experience."
Adya menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Biarpun ini bukan email penolakan pertama dari perusahaan yang ia coba lamar, tapi tetap saja rasanya membuat kakinya lemas.
Adya bahkan belum sempat interview dengan user, dan waktu interview dengan HRD pun sebenarnya lancar-lancar aja, cuma satu masalahnya...
www.HiSnobiety.com
Adya tahu banget, kalo HRD bilang akan melakukan social media check, tamat sudahlah harapan dan cita-cita Adya untuk diterima di company tersebut.
Aduh, HiSnob jadi kasihan deh sama Little A. Lupa banget sama fakta kalo yang HiSnob rujak tuh rakyat jelata kaya kita-kita, maklum aja ya...selama ini HiSnob ngerujak the Elites yang masalah utamanya ya cuma bingung mau makan siang di restoran apa. But thats what you get when you bite more than you can chew, a little note for the jelata's who wants to date an elite, it's not always the glitz and glamour that you'll get, but you also have to prepare for the nyinyiran keluarga besar ya shay.
Sebenarnya sih Adya gak ada masalah apa-apa sama kantornya yang sekarang, pekerjaan yang dia lakukan udah Business as Usual, yang berarti gak begitu banyak pressure, kalopun ada issue she knows how to handle it, koleganya juga baik-baik aja, tapi kalo untuk merubah nasib alias kenaikan gaji, lumayan sulit. Itulah alasan Adya mulai menyebar benih CVnya ke perusahaan-perusahaan lain.
Aduh Little A, mending gak usah repot deh mau ngubah nasib segala, bersyukur aja biarpun nama kamu udah tercoreng di social media, perusahaan kamu sekarang tutup mata dan gak komen apa-apa.
"Ya, udah ngopi belum? Ngopi yuk, lagi ada buy one get one nih, " Adya segera menutup laman e-mailnya begitu koleganya — Jevin — menghampirinya, namun melihat mata Jevin yang sekarang sedikit membesar membuat Adya menghela nafas, he must've seen the email, "Lo gak mau kemana-mana kan, Ya?"
Adya menggeleng, "Mau kemana juga? Semua perusahaan nolak gue juga," Bisik Adya lirih, "Yaudah yuk, ngopi aja kebawah. Gue juga kosong nih, baru ada meeting nanti siang."
"Tapi kalo ada yang nerima, mau pindah, Ya?" Tanya Jevin begitu keduanya sudah berada di lift, tentunya Jevin berani tanya kaya gini karena isinya cuma mereka berdua — coba kalo rame, bisa jadi gossip lintas divisi Adya mau resign
"Kalo lebih baik, masa iya gue tolak sih, Jev?"
"Emang disini gak baik?"
"Susah naiknya." Adya memang cukup akrab dengan Jevin, jadi dia bisa menjawab alasan keinginan ia ingin pindah dengan apa adanya, "Gue udah ngomong sama bu Boss dari enam bulan yang lalu pas lagi 1on1, katanya diusahain...cuma gue gak yakin dia bakal lakuin itu sih."
Jevin hanya mengangguk, mendengarkan keluh kesah Adya yang terus berlanjut. Mulai dari kebutuhan di rumah yang mulai ada-ada aja, alias banyak pengeluaran tak terduga ya shay. Bisa-bisanya tiba-tiba plafond bocor, belum lagi ricecooker rusak. Sebenarnya sih Adya gak harus berjuang sendirian, karena kedua adiknya pun sudah mulai kerja, cuma sebagai anak pertama Adya merasa ada tanggung jawab yang lebih dari mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Snobiety!
ChickLitWelcome to the one and only source of Jakarta's Elite. If u find anything interesting about them - please let us know : updates@hisnobiety.com
