28. Thicker Than Blood

1.8K 210 98
                                        

[SADIRA]

Sadira melangkah masuk ke Roosevelt Lounge — salah satu bar yang sering dikunjungi bersama
Narendra saat Astrid masih cuek dan suka bolak-balik ke luar negeri, dan Cipta masih stay di Belanda. Terakhir kali kesini, Narendra lagi kangen banget sama Astrid kemudian beberapa hari kemudian scandalicious di Leon deh.

"Ck, ngapain ada dia sih!?"

Sadira yang lagi asik bernostalgia dengan pikirannya sendiri itu tersentak begitu mendengar suara sahabat kesayanganya itu ; Cipta Moestar.

"Narendra yang minta gue untuk kesini." Jawab Sadira cuek, berjalan kearah meja dimana Narendra dan Cipta duduk. Hari ini sepertinya Narendra sengaja booking satu lounge, karena udah jam 10 malam — dan gak ada pengunjung atau pun live band yang tampil.

Jangan heran ya netizen, orang kaya kalau booking restaurant emang gak tanggung-tanggung.

"Ngapain sih, Ren? Gue kira lo cuma mau ngobrol sama gue doang."

"Ck, bentar dulu. Sadira baru dateng, let the guy have his glass of whiskey first." Balas Narendra, yang baru saja menuangkan Glenlivet 18 ke gelas yang sudah disediakan, lalu memberikannya ke Sadira.

"Lo harusnya jadi orang yang paling tahu kalau gue lagi males banget berurusan sama orang ini."

Sadira tetap saja tidak menggubris Cipta, ia tahu ia salah, ia tahu ia telah mengkhianati sahabatnya. Tapi menurut Sadira, daritadi Cipta bacot banget, Sadira juga gak bakalan dateng kalau gak disuruh sama Narendra.

"Emang, makanya gue minta lo berdua kesini." Ucap Narendra enteng, "Tiga hari lagi gue akan menikah, sama cewek yang gue cinta mati banget dari kecil — kalian sendiri lah yang tau secinta apa gue sama Astrid."

Cipta dan Sadira hanya mengangguk, menunggu Narendra untuk melanjutkan.

"Dan karena tiga hari lagi akan menjadi hari terpenting dalam hidup gue, gue mau egois. Gue gak peduli dengan apa yang terjadi diantara kalian, gue mau lo berdua dateng ke nikahan gue dan ikut berbahagia — gak usah ada drama-drama gak jelas."

Cipta mendecih, "Gak jelas apaan sih, Ren—"

"Gue gak peduli, Cip. Lo sadar gak sih? Secara gak langsung you always stole mine and A's thunder?" Narendra yang biasanya selalu menjadi penegah diantara mereka, yang paling tenang, dan jarang sekali terlibat konflik dengan siapapun — bisa dibilang sekarang berubah 180 derajat, bisa dibilang dia kaya tiba-tiba kesurupan Sadira, "Lo ribut sama oma di acara lamaran gue, lo berantem sama Sadira di bachelor party gue, terus selanjutnya mau apa lagi di pernikahan gue? I know that the two of you adore Adya so much, but frankly speaking...gue gak rela kalau kecantikan istri gue pas hari H nanti dilupain sama orang-orang cuma karena lo berdua sibuk ngeributin cewek yang gue gak tahu asal-usulnya, tiba-tiba masuk ke dunia kita dan bikin gaduh."

Hats off to Narendra! HiSnob bener-bener gak bisa komentar apa-apalagi deh denger omongan our prince charming! Biarpun muka Cipta dan Sadira langsung berubah jadi asem — tapi emang bener, udah cukup yah spotlightnya Adya, mending dua-duanya say bye aja terus cari wong sugih yang selevel dan cucok menyandang nama belakang Harjadi atau Moestar.

"Ren—"

"Alasan kenapa gue book Roosevelt hari ini, ya biar kalian bisa dengan leluasa menyelesaikan masalah kalian. Gue gak peduli gimana caranya, yang gue peduli cuma nikahan gue lancar tanpa ada drama dari lo berdua, ataupun Adya. The place is all yours."

Berbeda dengan Cipta yang sekarang sedang membela diri, Sadira justru setuju dengan apa yang diucapkan Narendra. Permintaanya sebenernya juga simple, untuk melupakan masalah pribadi sebentar dan fokus ke Astrid dan Narendra, lagian emang seharusnya mereka yang jadi spotlight ; Cipta, Adya — dan pada akhirnya dirinya sendiri lah yang kurang ajar dan menganggu acara A dan N.

Hi Snobiety!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang