17. Dancing With the Devil

2K 217 145
                                        

[SADIRA]

"Stop crying for God sakes! Gue udah muter-muter 5 kali cuma buat nungguin lo berhenti nangis dan tunjukkin jalan ke rumah lo!" Adya yang sejak tadi menangis itu sekarang langsung diam waktu dibentak oleh Sadira, "Serius deh, Ya...nangis itu gak akan kasih lo solusi, gak akan menyelsaikan masalah. Mau lo tuh apa sih?"

"Gue...gue...gue gak tahu, Dir." Jawab Adya sambil terisak, "Gue tuh salah apa sih, Dir? Gue salah apa sama Oma sampe dia kayanya benci banget sama gue? Ngobrol aja belom, Dir. Huhuhu."

"You're not one of us, that's why."

"And i'll never be one." Adya menghela nafas, "Terus gue harus putus sama Cipta, Dir? Gue bener-bener sayang banget sama dia."

"Lo mau kemana?"

"Huh?"

"Gue daritadi udah pusing muter-muter, capek nyetir. Mending lo tunjukin jalan pulang ke rumah lo, daritadi gue tanya lo cuma bilang gak mau pulang mulu."

"Emang gue gak mau. Kasihan nyokap gue kalo liat gue kaya gini, pasti dia jadi kepikiran banget. Nyokap gue tuh juga udah sayang banget sama Cipta."

"Yaudah, terus lo mau kemana? Ke rumah temen lo?"

"Gue gak tau, Dir. Gue gak mau pulang, gue gak mau putus sama Cipta. Gue gak tau bakal jadi apa kalo gue putus sama Cipta. Huhuhu."

Sadira hanya bisa menghela nafas, percuma juga ngomong sama Adya sekarang — pikirannya cuma tentang Cipta doang.

"My suite is always open for the broken-hearted."

Sadira sekarang jadi bingung sendiri, masa iya dia harus ajak Adya ke salah satu suitenya? Akrab banget?

"Lo...ehm...lo mau ke tempat gue dulu aja?"

"Gue gak mau putus sama Cipta, Dir. Huhuhu. Kenap sih Oma benci gue?"

Dengan Adya yang gak berhenti menangis, dan sama sekali gak nyambung menjawab pertanyaan Sadira — mau gak mau Sadira akhirnya mengambil arah menuju Kemang, menuju Hotel Monopoli. Sadira capek muter-muter dan capek nyetir, lagian emang itu salah satu kegunaan suitenya kan?

Menampung orang-orang yang patah hati.

***

"Lo duduk dulu aja. Gue mau ganti baju bentar." Sadira membuka dua kancing atas kemeja batiknya, kemudian masuk ke kamar — sedangkan Adya sekarang hanya duduk di living room, sesekali masih meneteskan air mata.

Sadira udah coba hubungin teman-temannya, tapi gak ada yang bales chat atau angkat telefon — pasti sekarang semuanya lagi di rumah sakit. Sadira sekarang hanya bisa berdoa semoga oma baik-baik saja, dan semoga wanita yang ada di living room ini berhenti menangis dan menyusahkan dirinya.

Setelah berganti kaos, Sadira melangkah keluar dari kamar dan langsung menuju mini bar. Menuangkan segelas Malibu untuk dirinya,  dan sebotol Equil untuk Adya — biasanya kalau teman-temannya patah hati dia pasti akan memberikannya minuman-minuman beralkohol, tapi melihat keadaan Adya saat ini kayanya kalau dikasih alkohol malah bisa makin parah, nanti nangisnya malah gak selesai-selesai.

"Udah stop nangis, minum dulu." Katanya sambil mendorong gelas yang berisi air putih itu kearah Adya

"Air putih banget? Kayanya gue butuh sesuatu yang lebih bisa bikin gue tenang deh daripada ini."

Sadira memutar bola matanya, "Gak usah sok-sokan gitu deh, kalo gue kasih lo alcohol, lo cuma bakalan ngerepotin gue doang. Lagian lo belum makan kan?Lo laper gak? Mau gue pesenin?"

Hi Snobiety!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang