[CIPTA]
Cipta merenggangkan otot-ototnya yang pegal karena sudah hampir empat hari harus tidur di sofa bed rumah sakit yang ternyata keras dan gak nyaman — biarpun rumah sakit ini termasuk salah satu rumah sakit yang elite dan mewah di Jakarta.
Belakangan ini Cipta dan teman-temannya emang lebih sering di jumpai di rumah sakit dibandingkan di mall, restoran, ataupun club hits di daerah Senopati dan sekitarnya. Menjaga Oma sekaligus menemani Cipta yang gak enak banget sama keluarga besarnya karena sudah membuat Oma kena serangan jantung ringan — untungnya Oma baik-baik saja, tapi Dokter menyarankan Oma untuk di opname dulu agar benar-benar pulih dan kondisinya kembali stabil.
"Kok diluar, Cip? Oma ada yang jagain?" Sapa Kirana yang baru saja datang sambil menenteng paperbag dari 71st Omakase.
"Ada bokap gue, dan Om Alrino. Lo sendirian, Ki? Adit mana?"
Kirana mengangguk sambil duduk disebelah Cipta, "Adit lagi ada meeting, mungkin nanti nyusul sekalian jemput gue. By the way, gue bawain lo makanan nih — Wagy Fried Rice, your favorite right?" Lanjutnya sambil menyerahkan paperbagnya ke Cipta, "Awas lo ya kalo ditolak dengan alasan gak laper karena pusing mikirin Oma!"
"Thanks Ki, tapi emang gue lagi gak laper..."
Kirana yang maksudnya hanya bercanda dan ingin temannya makan yang benar itu langsung jadi gak enak begitu mendengar nada bicara Cipta yang lelah dan menunjukkan kalau dia putus asa.
"Cipta, is everything okay?"
Cipta mengangkat bahu, "I dont know, K. Oma barusan ngobrol sama gue soal Adya. She wants me to break up with her."
Kirana mengusap punggung Cipta dengan lembut — berharap bisa menenangkan dan juga menyemangati Cipta yang sekarang terjebak dalam dua pilihan ; keluarganya — atau lebih tepatnya Oma Meity — atau Adya.
"Gue gak bisa jawab apa-apa, Ki. Tapi gue juga gak mungkin kan gak nurut sama Oma — bisa bener-bener dicoret gue dari kartu keluarga." Sambung Cipta, "Gue masih sayang banget sama Adya, biarpun belakangan ini gue jarang kabarin dia...tapi dia ngerti, gak marah-marah, gak nuntut apa-apa dari gue. She's always been that understanding, K."
"I just realized something, C..." Ucap Kirana sambil menyenderkan kepalanya di bahu Cipta, "Kadang lucu kalo denger orang-orang mau jadi kita, bilang hidup kita enak dan sempurna — well maybe, for some people like A and N, it is perfect — tapi buat gue, atau buat lo...i dont think we have the perfect story like them. Kita gak punya kebebasan untuk memilih, we cant fall in love with random people who we met at the club, concert, or any other events — once we do, all that matters is not how much we love each other, it's their last names — their family."
"Lo sama Adit kan smooth aja, Ki? Kenapa mikir kaya gini?"
"I've told you that i met Aditya at the Charity Brunch, right?" Cipta mengangguk, dan Kirana tertawa kecil mengingat pertemuan pertamanya dengan Aditya di event itu, "Gue lupa udah pernah cerita ke lo atau mungkin lo pernah denger dari S, N, or A — he wasn't the guest that day, he was the event photographer."
"What!?" Cipta cukup shock mendengar "pengakuan" dari Kirana, "How did you end up with him? Well no offense, but you're Sekaratrie Kirana — gue kira selama ini you're still looking for THE perfect guy."
"Haha, Perfect apaan. Sometimes perfection is boring, C." Tawa Kirana, "I wasn't looking for someone perfect, i was looking for someone who would give me the thrills and the chills, yang bisa kasih gue adrenaline rush."
"And Adit is the one..."
Kirana mengangguk, "Tapi...gue lebih beruntung aja daripada lo, turns out he's one of the Hadiputro's, anaknya yang punya HD Group juga. Kalo dia bukan siapa-siapa juga ribet, Puri aja kemarin bawel banget ketemu dia. Anyway, gue gak tahu sih lo notice ini apa enggak, but Adit rarely uses his last name ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Snobiety!
أدب نسائيWelcome to the one and only source of Jakarta's Elite. If u find anything interesting about them - please let us know : updates@hisnobiety.com
