[SADIRA]
Sadira berjalan memasuki rumah mewah di kawasan Dharmawangsa itu dengan percaya diri — biarpun dia belum tahu pasti apa teman-temannya sudah sampai atau belum, tapi dia sudah cukup familiar dengan tamu-tamu undangan yang datang.
And plus disaat-saat sepi seperti ini biasanya Sadira gunakan untuk olahraga mata ; alias jelalatan! Udah jadi rahasia umum kalau Sadira itu belum bisa dan belum mau berkomitmen, makanya sekarang dia lebih pilih untuk have fun dulu aja — dan lagipula...cewek mana sih yang bakalan nolak Sadira?
"Cucu oma yang ini kemana aja sih! Gak pernah ada kabarnya lagi sejak temennya ke Belanda." Tapi bukan gadis yang didapat, malah Oma Meity yang menghampiri dan memeluknya, "Kamu apa kabar? Makin ganteng aja sih, Dir."
"Goede avond, Oma." Sadira ini emang salah satu cowok yang bisa menarik hati semua kalangan — beda dengan prince charming kita yang emang udah dicap baik-baik, Sadira ini tipikal cowok yang tengil — tapi selalu disenengin. "Hoe gaat het met u?"
Buktinya sekarang, dia udah bisa bikin Oma Meity Moestar bahagia dengan cara diajak ngobrol pakai bahasa Belanda.
"Goed, en met jij ook toch?" Jawab Oma Meity dengan senyum lebarnya, "Cipta tuh gak pernah mau diajak ngobrol bahasa Belanda sama omanya. Kan kadang oma suka kangen, untung kamu lancar dan selalu mau ajak oma Nederlands spreken, Dir."
"Tenang aja, Oma. Habis ini juga bakalan ada yang ajak oma ngobrol Bahasa Belanda terus kok."
"Oh iya? Siapa? Pacar kamu?"
"Pacarnya Cipta, Oma. Emang Cipta belum sempet kabarin oma kalau hari ini dia ajak pacarnya?"
"Cipta sekarang punya pacar? Ketemu di Belanda juga? Bukan bule kan, Dir?"
"Bukan, Oma. Orang sini kok."
"Cucunya Lestari kayanya ada yang di Belanda juga deh, Dir. Itu bukan?"
"Andari Mangkunegara maksud Oma? Bukan, dia udah tunangan, oma. Kan waktu itu kita diundang."
"Terus kalo pacarnya Cipta siapa? Yang di Belanda kan cuma Mangkunegara sama Sudibjo, Dir. Keluarga Soeharsono kan gak punya anak cewek."
"Waktu itu Cipta sempet sih sebutin namanya, tapi Sadira lupa. Tapi yang jelas, kayanya namanya gak ada yang tadi oma sebutin deh."
Uh oh, daritadi menyimak percakapan oma Meity dan Sadira — HiSnob sampai gak sadar kalau ternyata Sadira punya maksud dan tujuan tertentu. Kenapa sih Dir, gak dikasih kesempatan dulu si Mystery Girl — siapa tahu kalo ngobrol sama Oma pake bahasa belanda kan jadi ada kesempatan buat disetujuin.
Melihat oma Meity yang sekarang rautnya menjadi bingung dan kecewa, Sadira langsung pamit untuk menemui temannya — Astrid dan Narendra yang sudah berdiri dekat tangga dengan segelas champange di masing-masing tangannya.
"Hello you two, glad to see you're talking to each other again now." Sapanya, mengambil segelas champange yang baru saja ditawarkan oleh caterer, "Its going to be a fun night. Isn't it?"
"I know that look. It's the look whenever you planned something bad and it's working." Jawab Astrid, membuat Sadira tertawa, "Lo gak bilang apa-apa ke Oma soal gue dan Narendra kan? Dia belum tau, dan jangan sampai juga."
"Wow, easy there tiger. Tonight's spotlight is not on you and Narendra, udah bosen sebulan denger berita lo berdua mulu — i need something new."
"Serius, Dir...lo ngapain kali ini?"
"Nothing. Whatever happens, it's not going to be about you two. Lo berdua untuk malam ini aman, tapi kalau mau saran daripada harus bohong-bohong depan, Oma. Sekalian aja balikan beneran, mau gue cariin kamar kosong?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Snobiety!
Genç Kız EdebiyatıWelcome to the one and only source of Jakarta's Elite. If u find anything interesting about them - please let us know : updates@hisnobiety.com
