[NARENDRA]
"Lagi apa nak?"
Narendra yang sedang santai di kasur sambil memainkan kotak kecil berwarna champang tersentak begitu mendengar suara sang ayah yang kini sudah bersandar di pintu kamarnya.
"Ayah boleh masuk gak?"
"Boleh dong." Jawabnya sambil bergeser, memberikan space untuk ayahnya duduk disebelahnya, "Ada apa, yah?"
"Gapapa, pengen ngobrol aja. Udah lama gak liat kamar ini ada penghuninya semenjak kamu balikan sama Astrid, lebih sering stay di apart kan?" Ledek Ariyo — seolah tahu apa yang dilakukan pasangan muda ini kalau udah bawa-bawa apartment. "Masih aman kan, Ren?"
"Yah!"
"Hahaha bercanda ah. Gimana segala urusan kerjaan? Under control?"
"Itu juga salah satu alasan aku stay di apart. Lagi sibuk, banyak yang harus aku review lagi – kalo stay disini kan banyak adhoc ibu minta cicipin dessert, anterin arisan, temenin belanja, dan lain-lain. Padahal ada Candrika dan Wardana — tetep aja aku lagi yang kena."
"Yaa...puas-puasin aja, sebentar lagi juga bukan ibu yang kamu anterin atau temenin. Kapan rencananya?" Tanya Ariyo, merujuk ke jewelry box dengan tulisan BVLGARI yang sejak tadi dipegang oleh Narendra.
"Baru juga balikan, Yah. Masa udah propose aja? Lagian ini long-time ago purchase kok, aku baru inget aku simpen di nakas aku."
"Kok bisa long time?" Ariyo mengambil kotak dari putra sulungnya dan membukanya, "Astrid banget sih cincin ini : sederhana, classic, but elegant. Keliatan mahal."
Sebentar om Ariyo — maaf banget nih HiSnob harus jump in ke moment ayah dan anak yang lagi hangat banget ini. Cincin tunangan Bvlgari emang ada yang kelihatan murah? Hadeeeh capek deh HiSnob dengerin percakapan para elites ini.
"Aku udah kebayang banget gimana Astrid nanti pakai cincin ini." Jawabnya, "Tadinya aku mau propose waktu anniversary kita kemarin, yang dia gak jadi pulang. Terus yaa...malah ada insiden lain."
"Kamu udah yakin belum sama dia?"
Narendra mengangguk, "Hari-hari tanpa Astrid gak enak, Yah."
"Yaudah, buruan dong. Kamu tunggu apa lagi, Ren? Emang sih kalian baru balikan, tapi rasa sayang kalian kan gak baru. Kamu udah yakin, dan ayah yakin Astrid juga sama. Mending diseriusin aja, daripada kalian berdua terus nambahin dosa mending dibuat jadi pahala."
"Ayah daritadi bahasnya ke arah apa sih..."
"Loh? Dalam agama kan pacaran itu gak dibolehkan, Ren. Menikah malah bagus, jadi pahala. Otakmu ini loh yang mikirnya kemana-mana." Balas Ariyo sambil menyentil pelipis sang anak, "Udah ah, minta tolong temen-temenmu sana. Suruh arrange dinner atau apa kek — atau berdua aja juga gak apa-apa." Lanjutnya sambil bangkit dari tempat tidur Narendra.
"Aku takut ditolak sih, yah. Takut Astrid bilang masih kecepetan."
"Kalian baru tunangan, masih ada beberapa bulan sampai ke pernikahan. Yang penting sudah jelas arah hubunganmu kemana, udah lebih serius. Oh iya, satu lagi...belum ada sejarahnya laki-laki Jayanegara itu ditolak, kamu tenang aja." Ariyo menepuk bahu anaknya, kemudian berjalan keluar dari kamar Narendra.
"Satu lagi..."
"Kok jadi banyak?"
"Ada cincin yang lebih mahal, minta tuh sama ibu."
Narendra tersenyum, kalau sudah ada titah kalau cincin turun-temurun milik Jayanegara yang harus disematkan di jari manis Astrid Moestar — yaaa...Bvlgari dan Cartier bisa apa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Snobiety!
Chick-LitWelcome to the one and only source of Jakarta's Elite. If u find anything interesting about them - please let us know : updates@hisnobiety.com
