14. Sudut pandang cakraden

14 5 0
                                        

🍃🍃🍃

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🍃🍃🍃

"Banyak cinta yang tumbuh dari benih pertemanan, namun tak jarang pula seseorang terjebak dalam cinta sepihak di tengah persahabatan. Persoalan ini kerap terjadi dalam dunia yang sama. Lalu, bagaimana jika Pertemanan antara dua dunia yang berbeda?"

Written by Sarah Asiyah

***

Vieve, yang berada di sampingnya, melihat gambar tersebut dengan seksama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Vieve, yang berada di sampingnya, melihat gambar tersebut dengan seksama. Ia membaca tulisan yang tertera di bawah gambar planet hijau biru itu. "Bumi," katanya, membaca nama planet tersebut dengan tenang. Vieve lalu menatap Baylee dengan rasa ingin tahu. "Iya, ini planet Bumi. Planetmu besar sekali. Ada berapa dunia di planetmu?" tanya Vieve, matanya menyiratkan rasa penasaran yang mendalam.

Baylee menatap Vieve sejenak sebelum tersenyum kecil. "Di Bumi, kami menyebutnya bukan dunia, tapi negara," jawabnya sambil mengingat kembali kehidupan di Bumi. "Aku tidak tahu persis ada berapa negara, tapi banyak sekali, sampai tak terhitung," lanjutnya dengan wajah bahagia, merasa senang bisa berbagi sedikit tentang dunianya yang jauh di sana.

Vieve mengangguk pelan, merenungkan jawaban Baylee dengan tatapan penuh pemikiran. Matanya kembali beralih ke gambar planet biru dan hijau yang disebut "Bumi". "Dilihat dari besarnya planet ini, tak salah jika terdapat banyak dunia," gumamnya dengan suara lembut, seolah membayangkan bagaimana besar dan kompleksnya planet yang diceritakan Baylee. Baginya, gagasan tentang planet dengan banyak negara dan kehidupan yang begitu beragam terasa asing namun menarik.

Setelah beberapa saat merenung, Vieve mengalihkan pandangannya ke gambar lain di halaman tersebut. Matanya tertuju pada sebuah planet kecil berwarna hijau keabu-abuan. "Ini planet Aris," katanya sambil menunjuk planet itu dengan jarinya. Suaranya lebih tenang kali ini, namun tetap penuh perhatian saat ia mencoba menjelaskan lebih lanjut. "Di sinilah kami tinggal."

Baylee mengangguk perlahan, jari-jarinya dengan hati-hati membalik halaman demi halaman buku itu. Di setiap halaman, gambar planet-planet muncul satu per satu, membangkitkan ingatan samar tentang pengetahuan dasar yang dulu pernah ia pelajari. Mata Baylee terpaku pada tulisan-tulisan yang tak dimengertinya. "Apakah di sini ada petunjuk bagaimana aku bisa pulang?" tanyanya pelan, jari telunjuknya menunjuk pada deretan kata-kata asing di halaman yang terbuka di hadapannya.

Dunia SamaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang