Dayana, Baylee, dan Chloe terjebak di sebuah dunia yang penuh misteri dan rahasia kelam. Dayana, sebagai pemimpin rela mengorbankan dirinya demi menjaga kedua temannya dari bahaya Di dunia asing ini, banyak keanehan yang mereka temui, namun satu hal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍃🍃🍃
"Manusia sering begitu keras kepala, seolah-olah mampu menanggung segalanya sendiri, padahal kenyataannya, mereka selalu membutuhkan tangan orang lain untuk menopang langkahnya"
Written by Sarah Asiyah
***
Mendengar tawaran itu, Dayana merasakan lonjakan antusiasme. Ia hampir ingin langsung memulai, namun suara Sharlach membuat Rexton dan Dayana menoleh cepat pada sumber suara melihat pria yang berlari menuju tempatnya. Dimana Rexton sudah keluar dari hutan, berdiri dengan Dayana di gendongannya.
"Tuan! Dayana!" panggil Sharlach dengan suara panik, mengentikan langkahnya tepat di hadapan mereka. Ia tertegun sejenak, matanya membesar melihat Rexton dengan lengan besar berotot yang kini terekspos telanjang. Dengan Dayana tampak lemah di gendongannya.
Kekacauan di wajah Sharlach mencerminkan kebingungannya akan situasi yang ia temukan. Dayana bahkan terluka parah, Kaki dan tangan Dayana penuh dengan darah yang sudah mengering, luka-luka besar terlihat jelas. "Tuan, apa yang terjadi pada Dayana?" tanya Sharlach dengan nada cemas, ekspresi paniknya jelas terlihat.
Rexton menyadari tatapan Sharlach yang tertuju pada luka-luka di tubuh Dayana. Meskipun wajahnya tetap tenang, dalam hatinya, ia merasakan ketidaknyamanan yang mendalam. Sharlach terlalu memperhatikan tampilan atas Dayana yang kancing atasnya terlepas, dan Rexton tidak bisa mengabaikan hal itu.
Dengan gerakan yang hampir tanpa disadari, Rexton mengeratkan pelukannya pada tubuh Dayana, seakan ingin melindunginya dari pandangan orang lain. Dayana, yang merasakan perubahan dalam genggaman Rexton, dengan cepat membenarkan kedua tangannya. Ia melilitkan tangannya lebih erat ke leher Rexton, membuat posisi tubuhnya lebih tertutup. Kedua tangannya menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka, sementara kepala Dayana bersandar lemah di bahu Rexton.
"Panggilkan Yiatros," ucap Rexton datar kepada Sharlach, suaranya tetap tenang meskipun ada ketegangan tersembunyi di balik perintah itu.
Sharlach, dengan wajah penuh kekhawatiran, menatap Rexton dan berkata, "Biar saya yang membawa, Tuan." Dia mengulurkan tangannya, siap untuk mengambil alih tanggung jawab, tetapi sebelum Sharlach bisa mendekat, Dayana semakin mengeratkan pelukan di leher Rexton. Wajahnya tegas, penuh determinasi, menatap tajam ke arah Sharlach. Dia tidak boleh kehilangan pria ini sekarang. ia harus mendapatkan jawaban dari Rexton hari ini, Dayana Lelah sudah seminggu lebih ia menekuni di perpustakaan tapi jika jawabannya ada di pria ini. Dayana tidak akan membiarkan siapapun memisahkan mereka sebelum dia mendapatkan apa yang Dayana inginkan.
Rexton menyadari pelukan yang tiba-tiba mengencang di lehernya, dan dia menghela napas panjang, lelah. Dayana langsung berteriak dengan nada mengeluh, "Aww, sakit banget!"
Rasa sakit yang dirasakan Dayana memang nyata. Luka-luka di tubuhnya nyeri dan membuat setiap gerakan terasa seperti siksaan. Namun, teriakannya barusan lebih kepada taktik untuk menghentikan percakapan yang dia anggap tidak diinginkan. Dia tahu bahwa jika dia terus mengeluh kesakitan, Rexton mungkin akan lebih cenderung mengalah daripada memperdebatkan apa pun.