3. Kemarahan sang pemilik kekuatan

15 7 11
                                        

🍃🍃🍃

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🍃🍃🍃

~ Tabiat manusia tak pernah lepas dari kemarahan yang mengalir dalam dirinya. Namun, yang membedakan jiwa-jiwa itu bukanlah kemarahan itu sendiri, melainkan bagaimana mereka mengekspresikannya. Sebab di balik setiap kemarahan, tersembunyi kekuatan untuk membangun atau menghancurkan. ~

Written by Sarah Asiyah

***

Baylee menoleh ke belakang dengan cemas, hanya untuk mendapati bahwa orang orang yang sebelumnya mengejar mereka tiba-tiba menghilang dari pandangan. Saat ia kembali memandang ke depan, cahaya yang sempat menyorot mereka juga tiba-tiba menghilang, digantikan oleh suara dentuman keras yang menggema di lorong.

Dentuman itu begitu mengejutkan dan memekakkan telinga sehingga ketiga wanita muda tersebut terlonjak kaget, menghentikan langkah mereka dalam sekejap. Suara itu memecah kegelapan dan menambah rasa takut yang melanda mereka.

Dengan napas tersenggal-senggal akibat kelelahan, mereka berhenti dan memegangi lutut mereka untuk mendapatkan keseimbangan. Chloe, yang sudah kehabisan tenaga, memegang dadanya dengan tangan gemetar dan akhirnya terduduk ambruk di lantai lorong, wajahnya tampak sangat kelelahan dan ketakutan.

Ketiga wanita itu terengah-engah di tengah lorong yang gelap, dikelilingi oleh kegelapan yang menekan dan sunyi yang mengendap-endap. Napas mereka memburu, saling bergantian memegangi lutut dan menenangkan diri setelah lari yang melelahkan. Kegelapan seolah menyusut, hanya untuk digantikan oleh keheningan yang mendalam.

Tiba-tiba, dentuman keras terdengar lagi, mengejutkan mereka dan membuat mereka menoleh dengan cepat. Bersamaan dengan dentuman itu, salah satu pintu ruangan di samping kanan mereka terbuka dengan gemuruh. Cahaya yang menyilaukan kembali menyorot ke arah mereka, kali ini datang dari arah belakang. Namun, cahaya tersebut bukan berasal dari arah yang diharapkan.

Di belakang mereka, tiga pria yang mengejar mereka sebelumnya kini terlihat jelas. Penampilan yang familiar yang dilihatnya saat dipasar dengan dua tanduk dikepalannya dengan mata tajam seperti serigala sama dengan pria yang memakan hewan hidup hidup. mereka bertiga memegang lampu yang sering dipakai pada zaman dulu namun bentuk lampunya berbentuk bulat sempurna dengan cahaya yang sangat terang. Lampu-lampu itu menyebar cahaya kuat yang menembus kegelapan, menyoroti lorong dengan cahaya terang yang memantulkan bayangan panjang di dinding.

Cahaya lampu bulat itu menambah ketegangan saat para pria tersebut mendekat, memegang lampu dengan wajah-wajah serius dan penuh tekad. Ketiga wanita itu, kini dengan wajah pucat dan mata terbelalak, kembali merasakan ketegangan yang meningkat saat mereka menyadari situasi mereka yang semakin terjepit di lorong yang gelap dan tidak berujung.

Chloe, dengan napas yang masih tersengal, memandang ke arah pintu yang tadi terbuka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dan kekhawatiran.

"Dya, Ay," gumamnya dengan suara yang bergetar, menunjuk ke arah pintu.

Dunia SamaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang