The Day

3 0 0
                                        

Rangkaian acara pernikahan Brina dan juga Sadam sudah dimulai sejak dua hari sebelum pesta utama dimulai. Pesta kecil kecilan yang hanya dihadiri oleh Sadam dan teman-temannya di kediaman Sadam, Rangkaian acara keluarga besar Brina, hingga kumpul keluarga besar untuk melakukan doa bersama di lokasi yang terpisah. 

Selama acara doa bersama dilaksanakan, Brina tak kuasa menahan tangisnya. Ayah kandung dan Bunda sambungnya ikut menangis karena itu. Ia sendiri tak menyangka bahwa ia telah sampai ke tahap akan menjadi istri seseorang. Ayah Brina, juga tak menyangka kalau putrinya kini menginjak dewasa dan telah siap membangun rumah tangga dengan pria pilihannya. Adik-adik Brina pun memeluk erat sang kakak. 

Acara di pihak keluarga Sadam sedikit berbeda. Suasananya lebih tenang. Hanya saja, Edgar dan Suthan yang malah sedikit dibuat pusing. Supir keluarga yang telah mereka percayai untuk membawa mobil pengantin tiba-tiba harus pulang ke rumahnya di desa karena keluarganya ada yang jatuh sakit. Edgar yang awalnya mengajukan diri untuk jadi supir cadangan juga mati-matian dicegah oleh Sadam dan Suthan.

"Daripada enggak ada yang bisa bawa? Enggak mungkin Sadam nyetir mobil pengantin sendiri." Edgar mempertahankan tekadnya.

"Gue bilang jangan, ya jangan. Bukannya malah tambah bebal. Gue telepon orang yang biasa disuruh jadi supir keluarga gue kalau gitu." Suthan menahan Edgar.

Suthan tersenyum lega setelah menelepon orang yang bisa membantunya. Namun, perasaan tak mengenakkan kembali muncul. Suthan sempat dibuat melamun karena terbayang hal yang kurang menyenangkan.

"Kenapa, Than?" Sadam bertanya. Memecah lamunan Suthan.

"Enggak apa-apa, Dam. Gue cuma agak capek. Gue balik duluan ya? Ke hotel deket venue nikahan lo kok." Suthan tersenyum tipis sebelum meninggalkan kediaman Sadam.

"Gue juga, Dam. Selamat ya bro, besok lo udah resmi jadi suami orang."

"Enggak perlu begitu, Gar. Lo juga bentar lagi nyusul. Gue yakin itu."

☆☆☆

Brina bangun sangat pagi karena ia harus mulai berdandan. Busana pertamanya adalah gaun sederhana berwarna putih yang akan digunakannya selama pengikatan janji suci. Gaun lain yang berwarna biru muda telah disiapkan untuk acara di siang hari.

Jantung Brina benar-benar dibuat berdebar. Ia merasakan cemas berlebih di depan adik-adiknya. Ada hal yang mengganjal. Brina memutuskan untuk memendamnya sendiri sementara waktu.

"Kakak rileks aja," peringat Sehan. Ia terlihat paling dewasa saat ini.

"Kita langsung berangkat aja yuk. Mungkin keluarga kak Sadam juga udah siap." Arbani menggandeng tangan Brina keluar dari ruang rias dan berjalan menuju ke mobil yang terparkir di depan.

Brina benar-benar dikawal oleh ketiga adik laki-lakinya hingga tiba di lokasi pengikatan janji suci. Tempat itu nyatanya masih sepi. Bahkan baru ada Suthan yang ternyata membantu mengatur acara hari ini.

"Harusnya sekarang mereka udah di jalan, Brin. Sabar dikit, belum jamnya kok." Suthan berusaha menenangkan sahabatnya.

Kekasih Suthan, Ella, mengambil alih untuk menenangkan Brina. Brina diajak masuk ke ruang tunggu berharap kecemasan. Arbani dan Soka yang terus berusaha memperbarui informasi melalui Suthan.

"Sebentar, Edgar telepon. Gue gedein speakernya ya?" Suthan menerima panggilan dari Edgar dan mengubah pengaturan panggilan.

"Than, lo udah di lokasi?" Edgar terdengar panik.

"Udah, lo kenapa?" jawab Suthan ia khawatir karena Edgar tidak biasanya terdengar panik.

"Sorry, keluarga Sadam baru mau jalan. Ada masalah sama mobilnya makanya harus tuker dulu. Tapi gue juga enggak yakin bakal sampai tepat waktu atau enggak."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 8 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cat LucksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang