7. Menginap

439 41 45
                                        

"Yn." Panggil Seokjin yang tengah menyetir, tanpa menoleh ke sampingnya, sebab pandangannya harus fokus ke depan

Yn yang tadinya menunduk diam, sontak menoleh ke arah Seokjin dengan raut wajah bingungnya. "Ya, kenapa?"

"Ucapan temanmu tadi, jangan terlalu kau pikirkan. Dia hanya-"

"Aku tahu." Sela Yn pada Seokjin, lalu melihat ke luar mobil dengan raut wajah sedihnya. "Walau begitu, aku tetap merasa bersalah padanya. Andai aku tahu lebih dulu jika dia menyukai Jungkook, aku pasti akan menghindarinya dan dengan begitu Lini tidak akan sekesal tadi padaku."

Seokjin menghela napas lembut sembari mengangguk. "Memang benar apa yang kau katakan, tapi temanmu tak seharusnya melimpahkan kekesalannya padamu. Kau tak berhak mendapatkan ucapan semenyakitkan itu darinya." Jelasnya yang sontak membuat Yn tersenyum simpul mendengarnya

.

"Ayaaaaaaah." Teriak Seojun saat melihat mobil sang ayah tiba dan terparkir di depan pagar rumah Yn

Seojun yang tadinya tengah menemani ny. Jung menyiram tanaman, sontak berlari untuk menyambut Seokjin yang turun dari mobilnya.

Seokjin tersenyum simpul melihat Seojun berlari ke arahnya, kemudian ia berjongkok untuk menyamai tinggi badan sang anak yang sudah tiba dihadapannya.

Sedangkan Yn yang baru turun dari mobil Seokjin, hanya diam sembari menyaksikan kedekatan ayah dan anak tersebut.

"Seojun hari ini pintar kan? Tidak menyusahkan bibi Jung kan?" Tanya Seokjin lalu mengangkat Seojun ke gendongannya dan berdiri dari jongkoknya tadi

Seojun menggeleng. "Tidak ayah. Seojun hari ini, pintar seperti biasanya. Oh iya yah, kata bibi, malam ini Seojun bisa menginap di sini. Jadi boleh kan Seojun menginap di sini?"

"Menginap di sini? Lalu bagaimana dengan ayah? Masa Seojun rela meninggalkan ayah di rumah sendirian." Sahut Seokjin lalu memajukan bibirnya, berniat menggoda sang anak yang ingin menginap di rumah ny. Jung

Seojun menggeleng lalu memikirkan opsi terbaik untuk dirinya dan sang ayah. "Kalau begitu, ayah menginap di sini juga.

"Apa?"

.

Benar saja. Malamnya, Yn merapikan kamar tamu di rumahnya nya untuk digunakan oleh Seokjin dan anaknya, Seojun.

Tok tok tok. Seokjin mengetuk pintu kamar tamu, kemudian masuk dan membantu Yn merapikan seprai ranjang di kamar tersebut.

Gugup, Yn sesekali melirik ke arah Seokjin yang tengah menarik ujung seprainya agar tidak tertarik ke arahnya.

Begitu juga dengan Seokjin. Pria itu ikut melirik ke arah Yn, yang alhasil pandangan mereka pun bertemu dan mengakibatkan kecanggungan di antara mereka.

Bagaimana tak canggung? Keduanya berada di kamar yang sama sembari merapikan seprai ranjang. Melihat ranjang di depan mereka, pikiran-pikiran dewasa pun muncul dan bisikan-bisikan setan pun ikut meramaikan keheningan di antara mereka.

"Ayah." Panggil Seojun, berdiri di ambang pintu dan memecahkan keheningan di ruangan tersebut

"Ya, kenapa Seojun?" Tanya Seokjin, menoleh dengan cepat ke arah sang anak berada

"Kata bibi, makanannya sudah siap." Jawab Seojun, menghampiri sang ayah yang terlihat canggung di tempatnya

"Benarkah? Kalau begitu ayo, aku juga sudah lapar." Sahut Yn dengan cepat, kemudian berlalu keluar dari kamar tamu, terlebih dahulu - meninggalkan Seokjin dan Seojun di sana

.

Di meja makan, baik Yn dan Seokjin, keduanya makan dalam diam hingga lirikan curiga Hoseok memecahkan suasana. Bagaimana tidak, lelaki itu tertawa geli hingga semua orang yang ada di sana, melirik bingung ke arahnya.

My First Love Is A WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang