40. Kita Menikah

446 31 31
                                        

Hari pernikahan pun tiba. Mentari pagi bersinar lembut, seolah ikut memberkati kisah cinta Seokjin dan Yn yang akan segera diresmikan dalam ikatan suci.

Udara terasa hangat, langit tampak cerah - sebuah pertanda baik bagi hari yang dinanti-nantikan.

Gedung pernikahan yang telah didekorasi penuh bunga putih dan sentuhan warna krem keemasan tampak megah namun tetap hangat.

Tirai tipis bergelombang tertiup angin, sementara cahaya matahari menyelinap dari sela-sela jendela tinggi, menyinari altar dengan tenang. Musik klasik mengalun lembut dari orkestra kecil di sudut ruangan.

Seokjin berdiri tegap di depan altar, mengenakan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Wajahnya tampak tegang namun bahagia. Di sampingnya, Seojun berdiri mengenakan jas kecil serupa, sesekali menarik-narik lengan ayahnya, membuat pria itu tersenyum.

Para tamu mulai memenuhi kursi-kursi yang disusun rapi. Di barisan depan, tampak kedua orang tua Seokjin dan orang tua Yn duduk berdampingan, mata mereka berkaca-kaca penuh haru.

Lalu musik berubah. Semua mata tertuju pada pintu utama yang terbuka perlahan.

Yn melangkah masuk dengan gaun putih panjangnya, menggandeng lengan sang ayah. Wajahnya berseri, senyumnya tenang, namun sorot matanya menunjukkan haru yang dalam. Kerudung tipis menutupi wajahnya, bergetar halus seiring langkah perlahan menuju altar.

Begitu sampai di depan Seokjin, sang ayah menyerahkan tangan Yn pada pria itu. Seokjin menerima tangan gadisnya dengan penuh kelembutan, menatap mata Yn seolah tak percaya momen itu benar-benar nyata.

Upacara pun dimulai. Janji-janji suci diucapkan dengan suara mantap dan tulus. Seokjin sempat tercekat saat berucap, dan Yn menggenggam tangannya erat, menguatkan.

Saat pendeta mempersilakan mereka bertukar cincin, Seokjin mengambil kotak kecil yang sudah disiapkan Seojun. Ia menyelipkan cincin itu ke jari manis Yn dengan penuh harap.

"Dengan cincin ini, aku berjanji akan mencintaimu, menjagamu, dan bersamamu dalam segala keadaan. Selamanya."

Yn pun membalas dengan kata-kata yang tak kalah dalam.

Kemudian, "Dengan ini, aku nyatakan kalian sebagai suami dan istri. Seokjin, kau boleh mencium pengantinmu."

Tanpa ragu, Seokjin mengangkat kerudung Yn dan mengecup bibirnya dengan lembut. Sorak sorai dan tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Seojun tersenyum lebar, menatap ayahnya dan wanita yang kini resmi menjadi ibunya.

Hari itu menjadi awal dari lembaran baru dalam kehidupan mereka. Sebuah kisah cinta yang telah melewati waktu, rintangan, dan akhirnya bermuara pada sebuah kebahagiaan yang utuh.

.

Resepsi pernikahan digelar pada malam harinya di gedung yang sama, yang kini berubah menjadi ruangan penuh cahaya dan kehangatan.

Lampu gantung kristal memantulkan kilauan lembut ke seluruh sudut ruangan. Meja-meja dihias elegan dengan bunga mawar putih dan ungu muda, serta lilin-lilin kecil yang menyala tenang.

Musik lembut mengalun, dan para tamu berbaur dalam canda dan tawa. Di tengah ruangan, Seokjin dan Yn berdiri berdampingan, menyambut tamu-tamu yang ingin memberi ucapan selamat.

Di antara kerumunan, seorang lelaki berjas hitam dengan rambut hitam berkilau berjalan mendekat. Di sampingnya, seorang gadis berambut panjang dengan senyum cerah turut melangkah.

"Selamat untuk kalian berdua." Ucap Jungkook sambil menyodorkan tangannya ke arah Seokjin, lalu menatap Yn dengan mata teduh. "Kau terlihat sangat bahagia, dan aku senang melihatnya."

My First Love Is A WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang