32. Masih Menyukaimu

226 28 4
                                        

Seokjin menekan saklar lampu, hingga kamar yang tadinya gelap berubah menjadi terang. Tak berselang lama, Seojun tiba-tiba saja berdiri di belakang Seokjin dan mengagetkannya yang tengah berdiam diri di sana.

"Ayah!" Panggil Seojun, menyadarkan Seokjin dari ketermenungannya

"Ya. Ada apa Seojun?" Tanya Seokjin sembari menunduk, melihat ke sang anak yang telah berpindah tempat di hadapannya

"Karena ayah sudah kembali, bagaimana jika kita menemui keluarga Jung. Aku merindukan mereka ayah." Ajak Seojun

Sontak, Seokjin pun mengangguk sembari mengusap surai Seojun. "Baiklah. Akhir pekan ini kita ke rumah keluarga Jung. Ayah juga sudah lama tidak bertemu dengan mereka."

.

Yn menutup pintu kamarnya semasuknya ia dalam sana. Kemudian bersandar di balik pintu dengan jantung yang berdebar-debar. "Apa dia masih menyukaiku?" Gumamnya, mengingat kejadian di kantin perusahaan tadi - saat Seokjin menariknya dari dekapan Jimin

"Jika tidak. Dia tidak akan mungkin melakukan itu." Sambungnya tersenyum tipis, lalu melangkah menuju ranjangnya dan meletakkan tas bahunya di sana

"Tapi maaf Kim Seokjin. Aku tidak akan semudah dulu lagi. Aku akan bersikap mahal padamu, dengan begitu kau tidak akan menganggapku mudah seperti dulu." Jelasnya, duduk di depan meja riasnya sembari menghapus riasannya

.

Seokjin mengernyit bingung kala melihat sekelilingnya yang nampak sangat familiar untuknya, yaitu pemandangan taman di dekat sungai Han.

"Kim Seokjin!" Panggil sebuah suara yang sudah lama tak Seokjin dengar

Lantas karena merasa kenal akan suara itu, Seokjin pun membalikkan badannya hingga sosok wanita yang berdiri jauh di depan sana, membuatnya terkejut sekaligus bahagia. "Hana."

"Ya. Ini aku, Hana istrimu." Ucapnya yang ternyata Hana, wanita yang pernah Seokjin cintai, beberapa tahun yang lalu

"Hana, bagaimana bisa kau - "

"Aku merindukanmu, karena itu aku datang kemari untuk menemuimu." Sela Hana, berjalan menghampiri Seokjin, kemudian memeluknya dengan erat kala sudah sampai di hadapannya

Bukannya bahagia seperti sebelumnya, raut wajah Seokjin berubah dingin. Apalagi saat ia teringat bahwa wanita yang memeluknya saat ini sudah meninggal 9 tahun yang lalu.

"Maafkan aku karena baru menemuimu sekarang, Kim Seokjin." Ucap Hana sembari melepaskan pelukannya pada Seokjin, kemudian mundur 2 langkah darinya

"Kenapa kau baru datang sekarang? Di saat aku sudah - "

"Mencintai gadis lain, maksudmu kan? Aku datang kemari karena itu juga. Aku ingin mengatakan padamu untuk melupakan janji kita dulu, dengan artian, berhentilah menepati janji itu, Kim Seokjin." Sela Hana yang lantas membuat Seokjin mengernyit bingung

"Maksudmu apa, Lee Hana?" Tanya Seokjin, meminta penjelasan pada wanita di depannya itu

Hana lantas tersenyum simpul sebelum buka suara kembali. "Maksudku adalah, kau bebas untuk menyukai gadis itu. Kau boleh menyukainya dan menikah dengannya jika kau mau. Sebab itu, lupakanlah janjimu padaku karena sekarang aku sudah bahagia di atas sana kala melihatmu dan juga Seojun, bahagia."

"Hana, aku - "

"Sepertinya waktuku sudah habis, jadi selamat tinggal Kim Seokjin." Sela Hana, memudar dan menghilang dari hadapan Seokjin

Alhasil, Seokjin yang belum mengatakan apapun pada Hana, sontak berteriak lalu tersentak dari tidurnya dengan terengah-engah. "Apa yang tadi itu mimpi? Jika iya, apa Hana sungguh datang ke dalam mimpiku hanya untuk menyuruhku melupakan janjiku padanya dulu? Jika benar begitu, terima kasih Lee Hana. Terima kasih karena sudah melepaskan beban yang amat berat di hatiku ini."

My First Love Is A WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang