38. Restu

231 20 18
                                        

Keesokan paginya, mentari menyapa lembut dari balik jendela kamar Yn. Gadis itu membuka mata perlahan, masih mengingat jelas momen hangat makan malam semalam.

Senyum tipis merekah di wajahnya saat teringat Seojun yang dengan polosnya memegang tangannya di akhir makan malam, seolah sudah menganggapnya seperti ibu sendiri. Bahkan Seokjin, dengan pandangan teduhnya, tampak begitu bahagia malam itu.

.

Di kantor, suasana tampak biasa saja di mata semua orang. Tapi bagi Seokjin dan Yn, ada nuansa berbeda yang tidak terucap. Setiap pandangan mata mereka, senyum kecil yang dilemparkan, mengandung lebih banyak makna.

.

Siangnya, di kantin kantor. Suasana ramai dengan suara percakapan dan denting alat makan.

Yn duduk bersama Jimin, Soyoon dan dua rekan kerjanya yang lain. Tak lama, perhatiannya melayang ke arah meja lain-tempat Seokjin tengah makan bersama ayahnya, Tn. Kim.

Yn sempat mencuri pandang beberapa kali, dan tanpa disadari, Seokjin pun melakukan hal yang sama. Tatapan mereka saling bertemu sebentar, lalu keduanya buru-buru mengalihkan pandangan masing-masing. Namun momen itu tak luput dari perhatian Tn. Kim.

Setelah selesai makan, Tn. Kim menyeka tangannya dengan serbet lalu berkata tenang, "Setelah ini, temui Appa di ruanganku."

Seokjin menoleh cepat. "Ada yang penting?"

"Cukup penting," Jawab Tn. Kim sambil tersenyum kecil, sebelum beranjak pergi dari sana

.

Di ruang kerja Tn. Kim yang elegan dan penuh atmosfer otoritas, Seokjin berdiri tegak di depan ayahnya. Ada sedikit rasa gugup yang ia sembunyikan.

"Ayah mau bicara soal Yn." Ucap Tn. Kim, langsung pada intinya. "Kalian sedang berkencan, bukan?"

Seokjin membeku sejenak. "Ayah sudah tahu?"

Tn. Kim mengangguk pelan. "Kau pikir Ayah tidak bisa melihat cara kalian saling pandang di kantin tadi?"

Seokjin menarik napas dalam-dalam, lalu duduk. "Kalau Ayah tahu, apakah ayah akan menentang hubungan kami?"

Tn. Kim diam sejenak, menatap anak lelakinya sebelum menggeleng. "Tidak." Jawabnya tenang. "Kali ini tidak."

Seokjin membulatkan matanya, tak menyangka. "Benarkah?"

"Dulu ayah menentang hubunganmu dengan Hana bukan karena siapa dia, tapi karena saat itu kau masih terlalu muda, belum stabil secara finansial, dan tidak siap jadi suami apalagi ayah. Tapi ketika tahu dia mengandung Seojun, ayah tak punya pilihan." Jelas Tn. Kim, sedangkan Seokjin menunduk pelan

"Tapi kau berbeda sekarang." Lanjut Tn. Kim. "Dan asal kau tahu... dulu, saat ayah tahu kau menjalin hubungan dengan Yn yang masih kuliah, ayah mengirim mu ke Jepang bukan untuk memisahkan kalian. Tapi agar kau tumbuh jadi seseorang yang bisa ayah percaya untuk membangun keluarga dengan penuh tanggung jawab."

Seokjin terdiam. Penjelasan ayahnya mengendap perlahan, menyadarkan betapa dalam perhatian sang ayah selama ini, meski seringkali tidak terlihat seperti kasih sayang.

"Kalau sekarang kau bilang ingin menikah dengan Yn, ayah tidak akan menentangnya. Selama kau tahu apa yang kau lakukan dan bisa menjaganya serta Seojun dengan baik." Ucap Tn. Kim, lagi

Alhasil, sebuah senyum penuh kelegaan merekah di wajah Seokjin. "Terima kasih, ayah. Aku pasti tak akan mengecewakanmu."

.

Seokjin keluar dari ruangan ayahnya dengan langkah ringan. Meski wajahnya tetap tenang, tapi ada senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Percakapannya barusan dengan Tn. Kim masih terngiang di benaknya, mengendap sebagai kelegaan yang hangat.

My First Love Is A WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang