15. Kencan Berdua

332 31 6
                                        

Seokjin menunggu Yn di depan gerbang sekolah gadis itu. Namun setelah 30 menit berlalu dan yang ditunggu tak kunjung terlihat, pria itu pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, kemudian menghubungi Yn.

Di sisi lain, Yn yang tengah melihat pemandangan dari jendela bus, di kejutkan oleh dering ponselnya. Dimana, tertera nama Seokjin di sana.

Yn lantas memejamkan matanya sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut.

"Halo. Sekarang kau ada dimana? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Seokjin dengan nada khawatir

Mendengar itu, Yn menghembuskan napasnya berat, lalu menjawab. "Aku sudah pulang. Dan aku baik-baik saja. Maaf, karena tidak sempat menghubungimu."

"Benarkah? Kalau begitu, hubungi aku jika kau sudah sampai di rumah."

"Ya." Sahut Yn, kemudian mematikan sambungan telponnya dengan Seokjin

.

Sesampainya Yn di rumah, sudah ada Seokjin yang menunggunya di kamarnya. Melihat raut wajah Seokjin yang tampak mengkhawatirkannya, ia pun tersenyum simpul padanya.

"Aku mengkhawatirkanmu." Ucap Seokjin sembari menarik Yn ke dalam pelukannya

Yn yang heran akan perlakuan Seokjin yang tiba-tiba, hanya terdiam sembari membalas pelukannya.

"Maaf, karena aku kau dibicarakan oleh yang lainnya." Sambung Seokjin, melepaskan pelukannya pada Yn, kemudian menatapnya dengan raut wajah yang amat bersalah

"Maksudmu?" Tanya Yn, bingung. Namun setelahnya, ia akhirnya mengerti bahwa Seokjin mungkin sudah tahu rumor yang menerpanya di sekolah

Yn lantas menggeleng lalu menyentuh wajah Seokjin dengan kedua tangannya. "Aku tak apa. Lagi pula aku sudah biasa dibicarakan oleh yang lainnya. Jadi tak usah meminta maaf padaku. Aku sungguh tak masalah." Jelasnya, mencoba menenangkan Seokjin yang merasa bersalah kepadanya

Seokjin balas menggeleng lalu kembali memeluk Yn dengan erat. Sesudahnya, ia membawa gadis itu untuk duduk di sampingnya - di ranjang gadis itu. "Sebenarnya, ada yang ingin aku beritahukan padamu."

"Apa? Bukan sesuatu yang burukkan?" Tanya Yn, mulai khawatir

Seokjin diam, sebelum menjawab. "Besok aku akan bekerja di perusahaan ayahku, sekaligus pindah ke kediamannya."

"Apa? Lalu bagaimana denganku? Maksudku, hubungan kita akan bagaimana? Apa kau akan memutuskan hubungan kita?" Tanya Yn, risau sebab tak mudah untuk memulai hubungan dengan Seokjin, namun jika pria itu mulai sibuk bekerja di perusahaan ayahnya dan pindah ke sana, hubungan mereka bisa merenggang lagi

Seokjin menggeleng lalu menyentuh pipi Yn dengan kedua tangannya. "Aku tak akan memutuskan hubungan kita, tapi mungkin kita akan jarang bertemu di hari-hari biasanya. Kita bisa saja bertemu, tapi tidak sesering sekarang."

"Benarkah? Tapi kau akan setia padaku kan? Tak akan melirik perempuan lain di sana?" Tanya Yn, memastikan

Lantas, Seokjin pun mengangguk sembari menatap Yn dengan penuh keyakinan.

.

Besok paginya, Seokjin dan Seojun sarapan pagi di rumah Yn untuk terakhir kalinya sebelum mereka pindah dari sana. Dan Yn yang telah mengetahui hal itu, bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan di meja makan.

Selesai sarapan, Seokjin memasukkan koper-kopernya ke dalam bagasi mobilnya, dan sesudah itu, ia mulai pamit pada kedua orang tua Yn yang mengantarnya di depan kediaman mereka.

"Aku pergi dulu. Jangan lupa belajar yang rajin. Kau ingat kan, minggu depan sudah ulangan semester. Jangan permalukan aku." Ucap Seokjin pada Yn yang berdiri di samping Ny. Jung

My First Love Is A WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang