Tidak pernah merasa tidak adil.

834 53 3
                                        

Chapter 4. Tidak pernah merasa tidak adil.

Baca fake chat di Instagram dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Baca fake chat di Instagram dulu

Baca fake chat di Instagram dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebelum meninggalkan kantor PT. Bara Bumi, Tbk., Arona menghabiskan waktunya kurang lebih satu jam bersama Aji. Arona mendapatkan penjelasan dari Aji terkait pekerjaan yang mereka lakukan selama menjadi sekretaris Septian. Aji orangnya juga ramah, membuat Arona merasa santai berada di dekat laki-laki itu. Aji tidak memperlihatkan sifat senioritas kepadanya, dia mengayomi Arona yang memang belum memiliki pengalaman sama sekali.

Aji tidak kaku saat berbicara dengannya, terkesan santai. Arona juga tahu jika umur Aji 30 tahun sepantaran dengan Septian, begitu yang Aji beritahu kepadanya tadi. Aji juga menjelaskan jika tugas Arona setiap pagi menyiapkan kopi untuk Septian. Sementara Aji, dia lebih mengurus dokumen dan urusan yang berkaitan dengan pekerjaan. Berbeda dengan Arona yang menjadi asisten pribadi. Tapi, Arona tetap akan membantu Aji mengurus dokumen.

"Keringatan banget, Ron," ucap Salma, menaruh segelas minuman untuk Arona. Sahabatnya itu mendatangi kafenya setelah menyelesaikan urusannya di kantor Bara Bumi.

Arona menghela napas pelan, menatap ke arah Salma yang duduk di depannya. "Lo belum lihat gimana kondisi gue tadi pagi. Jauh lebih basah dari ini. Enggak tahu, deh, apa yang di pikirin Septian tentang gue." Arona tidak bisa membayangkan aroma apa yang tubuhnya keluarkan tadi ketika berdekatan dengan Septian. Arona tahu dirinya bersimbah keringat, dan bau keringat melekat dengan kental di tubuhnya.

"Ngapain ngurusin apa yang dia pikirin, Ron. Lo, kan, enggak niat gebet dia. Kalau niat gebet dia, mah, baru harus tampil cantik dan wangi di depan dia." Salma sudah di ceritakan oleh Arona jika teman Bima yang menawarkan pekerjaan kepadanya adalah Septian.

Arona mendengus kasar. Dia beralih meneguk minumannya. "Tetap aja, gue jadi asisten pribadinya, Sal. Walaupun gue enggak niat gebet dia, tetap harus wangi dan tampil rapi."

Salma memperhatikan penampilan Arona. "Rapi kok, Ron. Minusnya sedikit lepek aja. Lagian lo enggak mengeluarkan bau aneh kalau itu yang lo takutin." Salma melipat kedua tangannya di atas meja. "Dia naksir lo enggak, sih?"

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang