#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kekhawatiran yang tadi Arona rasakan menghilang seketika, menguap entah ke mana. Arona tidak lagi merasa waspada dengan Septian yang berada dalam satu ruangan dengannya. Laki-laki itu membuktikan janjinya sebelum Arona masuk ke dalam kamar hotel. Septian tetap berada di sofa, tidak pernah mendekat ke arah kasur.
Arona yang tengah duduk di kasur dengan punggung bersandar ke kepala ranjang, melirik ke arah Septian yang duduk di sofa. Laki-laki itu sedang fokus dengan tabletnya. Laki-laki itu sudah mandi, dan berganti baju dengan baju tidur. Arona yang menyiapkan bajunya, dia yang mengambilkan baju itu dari koper. Bahkan, celana dalamnya pun, Arona yang mengambilkan. Septian beralasan jika dia lebih suka semuanya di siapkan. Memangnya Arona ini istrinya?
Arona mendengus pelan saat mengingat kembali permintaan Septian yang menyuruhnya mengeluarkan baju yang harus di pakai tadi. Laki-laki itu tidak memiliki malu sama sekali dengan Arona yang memegang celana dalamnya. Katanya, kan bukan celana kotor bekas aku pakai. Oke, Arona paham jika itu bukan celana bekas di pakai, tapi tetap saja rasanya canggung.
Arona mengusap-usap perutnya yang kekenyangan sembari menatap ke arah televisi yang menyala. Sebelum masuk ke kamar mandi tadi, Septian memesan makanan melalui layanan kamar terlebih dahulu. Dan saat Septian selesai mandi, makanan mereka sudah tersaji di dalam kamar. Terlalu banyak makanan yang Septian pesan tadi sampai Arona mengisi perutnya sampai penuh.
“Besok pagi kita berkunjung ke BBCorps dulu.”
Arona menoleh, menatap ke arah Septian yang sudah menaruh tabletnya di atas meja. Ah, iya, tujuan mereka ke sini bukan untuk berlibur, melainkan berkunjung ke kantor yang ada di sini. Saking menikmati hamparan kota Los Angeles dalam perjalanan tadi, dia sampai lupa jika dirinya ke sini untuk bekerja. “Apa ada dokumen yang harus aku siapin?”
Septian menggeleng. “Enggak ada. Aji udah kasih tahu, kan, kalau ini kunjungan biasa aja?”
Arona mengangguk, Aji memang sudah memberitahunya. “Udah.”
Septian bangkit dari duduknya, berjalan mendekati kasur. Laki-laki itu terkekeh ketika melihat Arona yang menatapnya penuh kewaspadaan. “Aku mau ambil bantal aja, Rona. Udah aku tidur di sofa, masa aku enggak boleh pakai bantal juga.” Septian mengambil satu bantal yang ada di atas kasur.
Septian menatap selimut yang kini menyelimuti kaki Arona. “Kalau aku yang pakai selimutnya, kamu mau tidur kedinginan?”
Arona mengatupkan bibirnya. Cuacanya di sini memang dingin, jauh lebih dingin daripada di Indonesia. Meskipun di dalam kamar hotel sudah ada pemanas ruangan, rasanya tetap dingin. “Enggak apa-apa. Kamu pakai selimut aja.” Arona mengambil selimut, dan mengangkatnya ke atas.