Ayo, melangkah lebih maju

555 34 0
                                        

Chapter 24. Ayo, melangkah lebih maju

Arona tersenyum kala menemukan Septian yang sudah menunggunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Arona tersenyum kala menemukan Septian yang sudah menunggunya. Laki-laki itu duduk di kap mobil dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Laki-laki itu memakai kemeja berwarna senada dengan Arona. Sehari sebelumnya, Septian menanyakan kepada Arona warna baju yang akan Arona pakai untuk makan malam nanti, dan ternyata ini tujuan Septian menanyakannya.

Saat Arona sudah dekat dengannya, Septian menarik Arona ke dalam pelukannya. Dia bisa menghirup aroma parfum yang sering Arona gunakan, wangi favoritnya semenjak mengenal Arona. “Udah kangen aku.”

Arona terkekeh geli. “Kita baru ketemu kemarin, Sep.”

Septian merenggangkan pelukannya, menatap Arona dengan sebuah senyuman yang selalu tercipta untuk Arona. “Enggak lihat kamu sedetik aja udah bikin aku rindu.” Ini bukan hanya kalimat rayuan, melainkan benar adanya. Septian merindukan Arona bahkan ketika mereka baru saja bertemu. “Kamu hebat, ya, bisa bikin aku mau dekat sama kamu terus. Kamu kasih aku apa, sih?”

Arona tersenyum. Tangannya terangkat ke atas, merapikan rambut Septian yang memang sudah rapi. “Terus merasa rindu, ya, Sep? Aku takut kalau nanti kamu udah enggak pernah merindukan aku lagi.”

Rindu yang Septian rasakan, Arona ingin itu bertahan lama di hati laki-laki itu. Hanya dengan rindu, perasaan Septian selalu ada untuknya, akan tetap terjaga, karena rindu bagaikan pengingat jika orang yang kita rindukan masih bertakhta di hati kita.

Always, Rona. Tanpa kamu minta, tanpa aku gerakkan, hati aku tertuju ke kamu, Rona, dan dia menciptakan sendiri ruang rindunya di dalam sana.”

Arona tersenyum lagi. Semoga saja, ruang rindu itu tidak pernah lenyap di hati Septian. “Maaf aku turunnya agak lama. Pas kamu datang aku belum kelar dandan.” Arona perlu waktu lebih lama untuk menyelesaikan riasannya karena terlalu sibuk dengan lamunan, serta obrolannya bersama Salma.

Septian mengedikkan bahu. “Enggak apa-apa. Nunggu beberapa menit enggak akan bikin aku mati, Rona. Kecuali aku di suruh enggak bertemu kamu selama berhari-hari, baru aku bisa mati.”

Arona terkekeh kecil. “Mau di coba enggak?” tanyanya.

Septian belum menjawab, laki-laki itu menghela tubuh Arona untuk masuk ke dalam mobil. Pintu mobil sudah Septian bukakan, dan tangannya selaku siaga di atas kepala perempuan itu, menjaga agar tidak terbentur. Setelah Arona duduk dengan nyaman, Septian memakaikan seatbelt untuk perempuan itu.

Dengan wajah yang berdekatan, Septian menatap Arona. “Jangan pernah di coba, ya? Aku belum siap kalau harus berjauhan sama kamu, Rona. Aku masih mau terus di dekat kamu, lihat kamu tersenyum, dan dengar suara kamu secara langsung. Aku masih mau merasakan itu dalam waktu lama.” Septian menggelengkan kepalanya dengan cepat, merasa ucapannya sedikit salah. “Aku mau sama kamu selamanya, Rona.”

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang