#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Junior lo yang tadi." Septian menjeda ucapannya, menoleh ke arah Bima yang duduk di sebelah kursi kemudi. Bima juga menatap ke arah Septian. "Yang namanya Arona."
"Kenapa? Naksir lo?" tebak Bima. Kalau sudah bertanya seperti itu, tidak ada dugaan lain selain Septian naksir dengan Arona. Laki-laki itu tidak mungkin menanyakan perihal orang lain tanpa ada maksud dan tujuan tertentu.
Septian tidak langsung menjawab, laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke jalanan. Mereka baru meninggalkan kafe beberapa menit yang lalu, dan harus mengusaikan pembicaraan dengan perkenalan antara Septian dengan kedua junior Bima.
"Dia lagi nyari kerja, ya?" tanya Septian mengalihkan pembicaraan.
Bima mengangguk. "Iya. Lo lagi nyari karyawan enggak? Kalau nyari, gue kabarin dia."
"Gue nyari sekretaris."
Bima mengerutkan keningnya. "Gila lo?! Aji lo apain?! Dia udah jadi sekretaris lo dari lama, ya! Lo mau pecat dia?!"
Aji adalah sekretaris Septian, masih teman dekat mereka juga. Aji sudah menjabat sebagai sekretaris Septian semenjak laki-laki itu menempati kursi sebagai pemimpin di perusahaan pertambangan minyak dan gas milik keluarganya. PT. Bara Bumi, Tbk. Itulah nama perusahaan yang Septian pimpin saat ini. Ada sekitar 4 tahun dia menjabat di posisi CEO.
"Enggak, anjing! Aji tetap jadi sekretaris gue. Arona juga jadi sekretaris gue kalau dia mau kerja sama gue." Suara Septian merendah ketika menyebutkan nama Arona.
Bima menatap Septian menyelidik, seperti mencari sesuatu yang tengah Septian sembunyikan. "Lo benaran naksir dia?" Tanyanya, memastikan.
Septian mengangguk tanpa ragu. "Dia beda dari cewek lain."
Septian terkekeh. "Ini, nih, yang bikin gue malas bilang ke lo kalau gue lagi naksir seseorang. Lo langsung nuduh gue buaya."
"Ya, apalagi kalau bukan buaya. Secara seorang Septian gitu, yakin lo enggak niat main-main doang?" Bima masih belum yakin dengan kesungguhan Septian yang mengaku naksir dengan Arona. Secara, mereka baru saja bertemu beberapa menit yang lalu untuk pertama kalinya, dan tidak mungkin dia langsung menyukai Arona.
"Bantu gue aja, sih, Bim. Bilang ke dia, gue lagi nyari sekretaris gitu."
"Gue kurang yakin, sih, dia mau lamar kalau jadi sekretaris."
Septian mengernyit, menoleh ke arah Bima. "Kenapa emangnya?"
"Dia junior gue, Sep. Lo tahu, kan, gue kuliah dulu ambil jurusan Ilmu Tanah. Gila aja lo, lulusan Ilmu Tanah lamar jadi sekretaris. Arona pasti mikir juga sebelum kirim lamaran ke perusahaan lo."