Bastard

513 40 0
                                        

Chapter 29. Bastard

Arona tetap masuk bekerja meskipun Septian tidak ada di kantor

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Arona tetap masuk bekerja meskipun Septian tidak ada di kantor. Perempuan itu harus menjalani tugasnya layaknya seorang sekretaris, dan mengerjakan segala pekerjaan yang sudah Aji tinggalkan kepadanya. Arona datang ke kantor seperti jam biasanya dia bekerja, dan memfokuskan dirinya untuk mengerjakan pekerjaannya.

Saat pertama kali dia sampai di kantor, hal pertama yang Arona lakukan adalah memasuki ruangan Septian untuk mencari dokumen yang Septian minta kepadanya. Laki-laki itu mengirimkan pesan kepadanya lewat tengah malam. Apa laki-laki itu tidak tahu jika saat itu di Indonesia sudah malam, dan Arona sudah tidur?

Arona menatap meja Septian yang terdapat begitu banyak dokumen. Dia kebingungan dengan dokumen mana yang Septian minta fotokan kepadanya. Arona mengecek dokumen itu satu-satu, rata-rata, dokumen yang ada di atas meja Septian tidak berhubungan dengan perusahaan di Los Angeles. Merasa bingung, Arona memfotokan kondisi meja Septian, biarkan laki-laki itu menunjuk dokumennya.

Arona
Mohon maaf, Pak. Saya baru membalas pesan dari Anda sebab Saya  baru datang ke kantor.
Untuk dokumen yang Anda minta kalau boleh tahu dokumen yang mana, Pak?
*Send a picture”

Baru saja Arona mengirimkan pesan itu, Septian langsung membacanya. Beberapa detik kemudian, ponsel Arona berdering, sebuah panggilan video masuk dari Septian. Arona berdecak sebal, dia menolak panggilan video itu, dan mengetikkan jarinya di atas keyboard ponselnya. Arona mengetikkan pesan untuk melarang Septian melakukan panggilan video, dan membalasnya via chat saja. Tapi, Arona mengurungkan niatnya untuk mengirimkan pesan itu saat Septian terlebih dahulu mengirimkan pesan baru.

Septian
Angkat VC-nya, Rona. Kalau dari foto aja aku enggak tahu yang mana dokumennya.

Arona berdecak. Dia malas jika harus melihat wajah Septian. Panggilan video dari Septian kembali masuk, terpaksa Arona harus mengangkatnya. Saat panggilan video itu terhubung, Arona langsung menekan kamera belakang sehingga yang bisa Septian lihat hanya meja kerjanya.

“Dokumennya yang mana, Pak?” tanya Arona, semakin mendekatkan ponselnya ke meja Septian, memfokuskan kamera ke tumpukan dokumen di atas meja kerja laki-laki itu. Di layar ponselnya, Arona bisa melihat jika Septian tengah duduk bersandar di sofa dengan rambut setengah basah.

Septian berdecak. “Aku mau lihat wajah kamu, Rona.”

“Saya mengangkat video call Anda untuk menemukan dokumen yang Anda minta, Pak,” ucap Arona tegas. Dia sudah curiga jika meminta dokumen hanya alasan Septian agar bisa menghubunginya.

Septian mengatupkan bibirnya, siasatnya itu tidak berjalan dengan lancar. Arona sudah mengetahui alibinya. “Aku mau lihat wajah kamu bentar aja, Rona. Aku mohon.” Septian memasang wajah memohon. Tidak ada dokumen yang dia butuhkan. Dia hanya membutuhkan Arona, mendengar suara perempuan itu, dan melihat wajahnya.

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang