#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mendekati secara ugal-ugalan. Ungkapan itu sedikit membuat Arona ketar-ketir, sebab, Septian orangnya sedikit tidak terduga. Laki-laki itu memiliki kejutan yang bisa saja membuat Arona terkena serangan jantung dadakan. Seperti keputusan Septian yang membatalkan penerbangan mereka untuk kembali ke Jakarta, mengundurkan menjadi beberapa hari di Los Angeles. Septian mengatakan ingin menghabiskan waktunya bersama Arona di sana, mengunjungi berbagai tempat yang akan mengantarkan mereka ke dalam momen romantis.
Benar saja. Selama menghabiskan waktu di Los Angeles bersama Septian, Arona merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Laki-laki itu menunjukkan betapa dia serius ingin memulai hubungan dengan Arona. Tangan Septian tidak pernah lepas dari pinggang Arona selama mereka berjalan-jalan di sana, dan jika tidak bisa memegangi pinggangnya, maka Septian beralih menggenggam tangan Arona. Septian juga memijat kaki Arona saat mereka sudah sampai ke hotel, membantu menghilangkan penat setelah seharian berjalan-jalan.
Kenangan di Los Angeles terlalu indah. Arona tidak akan pernah lupa dengan waktu yang mereka habiskan di sana. Itu saja, Septian masih ingin berada di sana selama beberapa hari lagi, tapi Arona menolak. Banyak pekerjaan Septian yang tertinggal jika laki-laki itu terlalu sibuk menghabiskan waktu bersamanya. Laki-laki itu masih memiliki tanggung jawab kepada perusahaannya yang ada di Jakarta. Aji pun sudah beberapa kali menghubungi Septian, menanyakan kapan atasannya itu akan kembali.
Kebersamaan mereka di Los Angeles harus usai, dan kembali dengan rutinitas biasa, Arona sebagai asisten pribadi dari Septian. Arona cukup puas dengan beberapa hari yang dia habiskan bersama Septian. Saat bersama laki-laki itu, waktu terasa berputar begitu cepat. Jika dihitung dari awal mereka sampai di Los Angeles, sampai kembali lagi ke Jakarta, hampir seminggu mereka habiskan berdua saja.
Arona sudah berhasil di pikat oleh Septian. Waktu seminggu, hanya ada mereka berdua, saling melempar canda dan tawa. Makan bersama, berjalan-jalan bersama, bahkan tidur di ranjang yang sama. Septian menepati janjinya, dia tidak pernah sekalipun berbuat macam-macam, hanya memeluk Arona ketika tidur. Bahkan, laki-laki itu tidak ada menciumnya lagi, seperti menghargai status mereka yang belum resmi berpacaran.
Arona memulai harinya dengan sebuah senyuman bahagia, wajahnya berseri-seri menyapa pagi. Ketika berpapasan dengan beberapa karyawan lain di lobi kantor, Arona akan menyapanya dengan ramah, kenal atau tidak, dia tidak peduli. Harinya terasa begitu cerah, dan indah. Hidupnya menjadi berwarna semenjak ada Septian.
“Selamat pagi, Pak Aji,” sapa Arona kepada Aji yang sudah duduk di kursinya. Aji sudah menghidupkan komputer, dan banyak berkas yang menumpuk di atas mejanya.
Aji mengangkat kepalanya, tersenyum kepada Arona. “Pagi, Arona. Akhirnya kamu balik juga dari perjalanan dinas. Lancar di sana?” Pertanyaan Aji hanya sekedar basa-basi. Dia sangat tahu jika selama di sana, Septian dan Arona bersenang-senang, bukan bekerja.