Bullshit!!

524 47 0
                                        

Chapter 26. Bullshit!!

"Kamu keluar dari ruangan aku, Chelsea," ucap Septian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Kamu keluar dari ruangan aku, Chelsea," ucap Septian. Laki-laki itu mengusap rambutnya, tubuhnya dia sandarkan ke kursi. Kepergian Arona tadi terlihat tidak baik-baik saja. Jelas, Arona melihatnya berciuman dengan Chelsea.

Chelsea menyandarkan bokongnya ke meja kerja Septian, menatap ke arah Septian dengan kedua tangan dia lipat di dada. "Aku kangen sama kamu, Sep. Terakhir kita ketemu pas aku mau berangkat ke Aussie, semenjak itu, kamu enggak pernah bisa di hubungi lagi."

"Kita udah putus."

"Sejak kapan?" tanya Chelsea. Dia merasa tidak pernah memutuskan hubungan di antara mereka. "Kita enggak pernah mengucapkan kata putus, Sep."

Septian menarik matanya menatap Chelsea. "Kepergian kamu ke Aussie aku anggap sebagai tanda kalau kita udah putus. Aku yakin selama di sana kamu pasti menjalin hubungan sama laki-laki lain."

"Ya, aku memang menjalin hubungan sama laki-laki lain. Itu karena kamu enggak bisa di hubungi, dan enggak pernah temui aku di Aussie." Chelsea mengakui jika dia bermain dengan laki-laki lain selama di sana. "Aku yakin kamu juga melakukan hal yang sama, Septian. Kamu pasti bermain sama wanita lain di sini. Jadi, kita impas. Sekarang, kita bisa kembali seperti semula."

"Aku enggak mau."

"Kenapa?"

Septian menatap Chelsea. "Aku udah anggap hubungan kita berakhir dari dua tahun yang lalu." Septian tidak mengatakan perihal Arona, takut Chelsea memberikan penjelasan yang akan membuat Arona semakin salah paham. Biar Septian yang akan menjelaskan semuanya kepada Arona tanpa campur tangan Chelsea.

Chelsea tersenyum miring. "Pantas aja kamu enggak bisa di hubungi. Kamu sengaja ganti nomor, kan?" tebaknya.

Septian terdiam. Dia memang mengganti nomornya, tapi bukan karena Chelsea, melainkan karena ponselnya di curi saat dirinya tengah mabuk. Saat itu Septian harus berurusan dengan polisi untuk melaporkan kehilangan, dan mengurus kembali segala rekening bank yang ada di ponsel lamanya. "HP lama aku hilang."

"Kamu pasti masih ingat nomor aku. Harusnya kamu hubungi aku, dan kasih kabar."

Septian tersenyum miring. Bagaimana bisa dia mengingat nomor Chelsea? Mengingat nama perempuan itu saja dia sudah syukur. Mantan kekasihnya bagaikan orang yang hanya sekedar lewat di hidup Septian. Laki-laki itu tidak terlalu memikirkan mereka, kecuali Arona. Jika menyangkut Arona, Septian tidak pernah berhenti memikirkan perempuan itu. Ini saja Septian masih merasa pusing saat memikirkan cara menjelaskannya kepada Arona.

"Aku harap kamu pergi dari ruangan aku, Chelsea. Aku lagi banyak pekerjaan. Kalau kamu enggak mau keluar, aku terpaksa panggil satpam."

"Yaudah, aku bakal pergi, tapi aku harap kamu temui aku di apartemen aku. Aku masih tinggal di sana. Kamu pasti udah rindu sama aku." Chelsea membenarkan posisi berdirinya. Kemudian, dia membungkukkan badannya, hendak mencium Septian, tapi laki-laki itu memalingkan muka.

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang