#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Part ini super panjang yaa Aku harap vote lebih banyak lagi dari sebelumnya
Jumlah kata : 2700+ kata
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baca fake chat di Instagram dulu
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Septian membuka sepatunya terlebih dahulu sebelum melangkah semakin masuk ke dalam apartemen Salma. Dia menaruh sepatunya di rak sepatu yang ada di sana. Kemudian, melangkah masuk, menatap ke arah ruang tamu yang di duduki oleh Arona. Wajah perempuan itu tertutup buku novel yang tengah dia baca dengan satu tangan di lipat di dada sebagai penopang.
“Lama banget__” Mata Arona melebar ketika dia menurunkan bukunya, dan menemukan Septian yang berdiri di sana, bukan Salma. “Salma ke mana, Sep?” tanyanya setelah rasa terkejutnya hilang.
Septian belum menjawab, dia melangkah mendekati Arona, dan duduk di sebelah perempuan itu. Arona tampak baik-baik saja, tidak sepertinya yang terlihat gusar karena perempuan itu mengabaikannya. “Salma keluar sama Bima. Mereka mau beli minuman.”
Arona menaruh bukunya di atas lipatan kakinya yang dia lipat di sofa. “Ngapain ke sini, Sep?”
Septian menatap Arona dengan tatapan setengah tidak percaya. “Kamu yakin nanya gitu ke aku, Rona?” tanyanya balik. Septian mengusap wajahnya pelan, kemudian menatap Arona frustrasi. “Aku chat enggak di balas, telepon aku enggak di angkat. Aku kira kamu marah banget sama aku, Rona.”
Arona terkekeh. Apa sefrustrasi itu jika teleponnya di abaikan? Tangan Arona terulur mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Kemudian melihat ada 15 panggilan dari Septian yang tidak dia jawab, dan ada 20 pesan masuk. Semua pesan itu hanya kata maaf yang di ulang oleh laki-laki itu. Aku minta maaf, Rona. Selain itu, Septian memohon agar Arona mengangkat teleponnya.
“Aku enggak marah, Sep. Kesal dikit aja.” Arona mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan ibu jari yang dia dekatkan, seakan memberi tahu Septian sedikitnya kekesalan yang dia rasakan kepada laki-laki itu.