#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baca fake chat dulu di Instagram
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Penerbangannya ke Los Angeles tidak bisa di tunda lagi. Perusahaan di sana benar-benar tengah di landa masalah, terutama di area tambang. Meskipun dalam kondisi pikiran yang kacau, Septian tetap harus meninggalkan Indonesia. Dia belum tahu kapan akan pulang karena permasalahan ini cukup rumit. Septian sudah berusaha membantu dari jarak jauh, tapi tetap saja Sidiq memintanya untuk datang langsung, dan mengunjungi area tambang yang berada di Cekungan Los Angeles, California Selatan. Sementara Sidiq yang akan menyelesaikan permasalahan di kantor.
Septian memijat pelipisnya, kepalanya terasa mau pecah. Pikirannya memiliki dua cabang antara Arona dan urusan perusahaan. Arona benar-benar tidak mau memikirkan ulang keputusannya tadi, perempuan itu bertekad mengakhiri semuanya. Septian tahu, semua salahnya, dia yang memberikan Chelsea kesempatan untuk meraih bibirnya.
Septian mengingat kembali bagaimana Arona tidak mau menatap ke arahnya. Sebelum dia meninggalkan kantor, Septian hanya bisa berpamitan dengan menatap Arona tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Septian keluar dari ruangannya tidak berapa lama setelah Arona keluar. Dia ingin membujuk perempuan itu lagi, tapi posisinya dia di kejar telepon dari Sidiq, dan karyawan yang ada di lokasi tambang.
“Tiket pesawatnya udah di pesan, Ji?” tanya Septian, menatap ke arah Aji.
Aji bangkit dari duduknya, menganggukkan kepala. “Sudah, Pak. Saya sudah pesan dua tiket pesawat ke LA jam 3 sore nanti.”
Septian menatap Arona, perempuan itu memandangi layar laptopnya, menyibukkan diri, dan tidak tertarik dengan pembicaraannya dengan Aji. Kemudian, Septian kembali menatap Aji. “Pesan tiket pesawat buat lo lagi, Ji. Lo yang temani gue, biar Arona urus yang di kantor sini.”
Aji tidak heran lagi, melihat bagaimana kecanggungan di sini kental terasa. Arona yang bungkam seribu bahasa, dan Septian yang tampak putus asa. “Oke, siap, Pak.”