Jakarta Vs Los Angeles

522 34 0
                                        

Chapter 28. Jakarta Vs Los Angeles

Salma menghela napasnya ketika pertama kali masuk ke dalam kamar yang dia dapati adalah Arona tengah merenung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Salma menghela napasnya ketika pertama kali masuk ke dalam kamar yang dia dapati adalah Arona tengah merenung. Arona duduk di kursi dekat meja, memandangi buket yang pernah Septian berikan padanya. Mungkin, sudah ada dua jam lamanya Arona melakukan hal itu.

Dari pulang kantor, Arona langsung berhambur ke pelukan Salma, membuat Salma kebingungan dengan Arona yang menangis tiba-tiba. Salma yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengusap punggung Arona. Ketika sudah mulai tenang, baru Arona bercerita tentang hubungannya dan Septian yang kandas.

Salma berjalan mendekati Arona, mengusap bahu perempuan itu pelan. "Lo mau lihatin bunga itu sampai kapan?"

Arona menghela napas panjang. Dia duduk dengan memeluk kakinya sendiri, dan kepalanya dia taruh di lipatan tangannya. "Bentar lagi, Sal. Gue mau lihatin dulu sebelum gue buang. Cuma ini kenang-kenangan manis dari Septian."

"Kalau emang lo masih cinta, kenapa enggak bertahan lebih lama? Dia cuman ciuman aja, kan? Lo bisa anggap dia khilaf, dan maafin dia."

Arona tersenyum miring. "Masalahnya, dia ciuman sama mantannya, Sal. Bahkan, Septian enggak berniat ngejar gue, dia milih jaga perasaan mantannya. Lagian gue siapa, sih, Sal? Cuma tempat Septian buat main-main aja."

"Itu asumsi lo aja, Ron. Kenyataannya belum tentu kayak gitu."

Arona menoleh ke arah Salma. "Kenapa dia enggak ngejar gue pas gue lihat dia ciuman sama mantannya? Lo ingat pas gue marah, Septian langsung nyusul gue ke sini. Tapi tadi, dia enggak ada niat buat kejar gue sama sekali. Pas mantannya udah enggak ada, baru dia jelasin ke gue. Udah percuma, kan? Dari situ kelihatan kalau dia lebih mentingin mantannya dari gue."

Satu hal itu yang sangat Arona sayangkan. Masalah ciuman, Arona masih bisa terima. Laki-laki itu bisa saja khilaf seperti yang Salma katakan, atau benar Chelsea yang mencium Septian seperti pengakuan laki-laki itu. Tapi, jika dua hal itu benar, harusnya Septian mengejarnya, tidak membiarkannya keluar ruangan begitu saja. Di situ, Arona masih berdiri, menunggu reaksi Septian. Hanya saja, reaksi laki-laki itu terlihat tidak peduli dengan kehadirannya.

Salma mengusap-usap bahu Arona lagi. Turut prihatin dengan Arona, baru saja dia merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Dari awal, Salma sudah menduga jika hal seperti ini akan tiba. Ada masanya Septian kembali kepada dirinya yang semula, dan Arona sendiri yang akan terluka.

"Gue harus buang bunganya." Arona bangkit dari duduknya. Dia melepaskan satu per satu tangkai bunga mawar, kemudian meremukkan buket itu tanpa belas kasihan. Dia masih sedih untuk membuang semuanya, tapi melihat buket itu hanya akan membuatnya bertambah sedih.

"Mau jalan-jalan keluar enggak, Ron?" tanya Salma.

Arona menatap Salma, kemudian menggeleng. "Gue baik-baik aja, Sal. Gua jadi pacar Septian belum sampai seminggu, gue enggak akan galau hanya karena putus cinta."

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang