#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah jam makan siang usai, Septian tidak mau berbicara dengan Arona. Laki-laki itu sudah terlanjur di lahap api cemburu, membuatnya enggan untuk berbicara. Dia hanya berbicara dengan Arona saat perempuan itu mengantarkan dokumen ke dalam ruangannya. Hanya itu. Arona juga tidak berniat memberikan penjelasan kepada Septian, karena menurutnya tidak ada yang perlu di jelaskan.
Akibat dari Septian yang mendiamkannya, membuat Arona kehilangan fokus ketika berkendara di jalanan. Pikirannya yang berkecamuk, membuatnya terjatuh di jalanan, dan menimbulkan goresan di tubuhnya. Untungnya, saat itu jalanan sedang sepi, dan ada beberapa pengendara motor lain yang membantunya.
Arona menundukkan kepalanya, melihat lututnya yang masih berdarah. Tangannya juga sama, berdarah dengan beberapa luka goresan. Arona meringis ketika berjalan. Saat terjatuh tadi, dia tidak merasakan sakit sama sekali, dan masih bisa mengendarai motornya yang sedikit ringsek untuk sampai ke apartemen Salma. Namun, saat dia sudah sampai di parkiran apartemen, baru mulai terasa sakit. Seluruh tubuhnya bahkan terasa begitu pegal.
Arona menopang tubuhnya dengan bersandar ke dinding lift apartemen. Sesekali dia meringis dengan mata terpejam. Ternyata luka fisik juga menyakitkan, ya. Baik luka hati maupun luka fisik, keduanya sama-sama menyakitkan, dan Arona tidak suka keduanya.
“Lo kenapa, Ron?!” pekik Salma saat melihat Arona masuk ke dalam apartemen dengan kondisi tubuh penuh luka.
“Gue jatuh dari motor, Sal,” jawab Arona, melangkah mendekati sofa, dan mendudukkan bokongnya di sana. Ketika lututnya di tekuk pun, Arona merasa lukanya di tarik. “Sakit, anjing!” umpatnya.
“Lo enggak mau di bawa ke dokter aja?” tanya Salma. “Ini parah banget, Ron. Untung muka lo enggak kena.” Salma memperhatikan wajah Arona yang masih bersih tanpa luka.
“Lo malah mikirin muka gue. Kasih obat merah, nih, Sal. Perih, nih, kaki gue,” keluh Arona.
“Bawa Rumah Sakit aja, yuk!”
Arona menggeleng. “Luka gores doang, ngapain pakai ke Rumah Sakit.” Arona menatap Salma yang beranjak dari sofa, hendak mengambil kotak P3K. “Cepetan, Sal!”
“Sabar, Mbak. Ini baru ngambil kotak P3K,” ucap Salma yang tengah mengambil kotak P3K. Kemudian, membawa kotak itu ke dekat Arona duduk, menaruhnya di atas meja. “Lukanya belum di bersihin, kan?”
Arona mengangguk. “Belum. Tadi ada orang yang bantuin berdiriin motor gue aja. Mana motor gue ringsek, baru beli lagi.” Sangat di sayangkan motor barunya harus lecet.
“Malah mikir motor! Pikirin ini badan lo luka!” Salma sedikit menoyor kening Arona, membuat perempuan itu mengaduh.
“Sakit, Sal,” ringis Arona.
“Kepala lo enggak ke bentur, kan?”
Arona menggeleng. “Kayaknya enggak__Aww pelan-pelan.” Arona meringis kesakitan saat Salma membersihkan lukanya dengan kapas beralkohol.