#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baca fake chat di Instagram dulu
Sudah hampir seminggu lamanya Septian mengurus urusan pertambangan di Los Angeles, dan selama itu juga Arona bekerja sendirian mengurus berbagai dokumen di kantor. Sudah selesai dengan semua pekerjaannya, Arona akan merapikan ruangan Septian, menyusun segala dokumen yang ada di sana, menyortir dokumen mana saja yang sekiranya sudah tidak perlu di cek Septian lagi.
Saat jam makan siang, Arona juga selalu makan di kantin. Terkadang, Arona bertemu Seno di lift dan makan bersama laki-laki itu. Kadang juga, Arona turun ke bawah lebih telat, dan Seno menyusulnya ke lantai atas. Arona sempat bertukar nomor dengan Seno, laki-laki itu yang memintanya. Arona tidak masalah dengan itu, dengan adanya Seno, dia tidak terlalu sendirian di kantor. Arona menjadi memiliki teman bicara.
Mengenai Septian, laki-laki itu sudah tidak pernah menghubunginya lagi via telepon. Kata Stefin, Septian sudah pergi ke lokasi pertambangan. Bukan Arona yang bertanya, tapi Stefin sendiri yang memberitahunya. Stefin mengatakan mana tahu Arona ingin tahu keberadaan Septian. Dari semua isi pesan mereka, Stefin lebih sering membahas Septian, menyebutkan jika Septian memang sedikit buaya, tapi dia mencintai Arona. Sebagai balasan, Arona hanya mengelak secara halus, tidak mau terbawa kembali ke arus yang sudah lama dia putus.
Arona memarkirkan motor Vario 160 berwarna active matte blue miliknya di depan rumah Adit. Sesuai dengan apa yang Salma sarankan, Arona membeli motor untuk dirinya berangkat bekerja. Dan bertepatan hari ini dengan hari Minggu, yang mana dirinya libur, Arona memutuskan untuk berkunjung ke rumah Adit. Arona tidak pernah berkunjung lagi semenjak keluar dari rumah itu. Jadi, dia memutuskan untuk berkunjung mumpung hari ini Adit ada di rumah.
“Motor baru, Dek?” tanya Adit, menatap motor Arona. Laki-laki itu baru keluar dari dalam rumah dengan secangkir kopi di tangannya. Dia hanya memakai singlet dengan bagian bawah di tutupi sarung, khas bapak-bapak di hari libur.
Arona melepaskan helmnya, dan menyampirkannya di spion motor. Perempuan itu turun dari motor sembari menganggukkan kepalanya. “Iya, Mas. Baru aja tadi pagi di beli, di temanin sama Salma. Aku beli motor biar lebih gampang pas berangkat kerja, Mas.”