#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arona tampak kurang bersemangat untuk berangkat ke kantor pagi ini. Dia masih memikirkan keadaan Septian, walaupun tahu laki-laki itu baik-baik saja, tapi dia ingin melihat kondisi Septian secara langsung. Andai saja Arona punya kehendak seperti itu, mungkin dia sudah memaksa Septian pulang ke Jakarta atau tidak, dia yang datang ke sana. Sayangnya, Arona tidak memiliki hak untuk melakukan semua itu.
Arona menghela napas panjang, kemudian berjalan gontai di lobi kantor. Bahkan, saat pintu lift hampir tertutup, Arona tidak berniat mengejarnya. Untungnya, ada Seno di dalam lift yang menahan pintu untuk Arona. Laki-laki itu tersenyum manis kepada Arona.
“Terima kasih, Sen,” ucap Arona, sedikit membungkukkan badannya. Dia berdiri di sebelah Seno.
Seno mengangguk, menutup kembali pintu lift, dan membantu menekan tombol lantai 10 untuk Arona saat perempuan itu tidak berniat menekan tombol lift. Seno menoleh ke samping. “Hari ini lagi buruk, ya?” tanyanya.
Arona menoleh, kemudian mengangguk sambil tersenyum tipis. “Sedikit buruk. Bukan harinya, sih, tapi suasana hatinya.”
“Lagi berantem sama pacarnya?” tebak Seno.
Arona tersenyum lagi, tapi kali ini kepalanya menggeleng. “Aku enggak punya pacar. Kalau suasana hati seseorang buruk, enggak selalu karena berantem sama pacarnya, kan?” Arona memang tidak berantem dengan pacarnya, tapi di kepalanya memikirkan Septian, mantan pacarnya, laki-laki yang masih menempati hatinya.
Seno mangut-mangut. “Iya, sih, hari buruk enggak selalu karena itu, tapi kebanyakan penyebabnya itu. Tapi, aku kira kamu udah punya pacar loh.” Seno belum pernah menanyakan status hubungan Arona karena mereka baru dekat beberapa hari ini. Akan tidak sopan jika langsung menanyakannya, tapi kali ini dia menggiring pertanyaan yang menuju ke arah sana.
Arona tersenyum tipis. “Baru putus, belum lama.”
Seno mangut-mangut lagi. “Oh, masih dalam masa melupakan, ya? Aku tunggu, deh.”
“Maksudnya?” tanya Arona, menatap Seno bingung.
Seno tidak menjawab, laki-laki itu tersenyum penuh arti sembari mengangkat bahunya. Bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka di lantai 7, lantai di mana ruangan Seno berada. “Aku duluan, ya,” pamitnya, melangkahkan kaki keluar lift.
Arona menatap Seno yang melemparkan senyum sembari melambaikan tangan kepadanya. Dia masih belum mengerti maksud ucapan Seno. Apa mungkin laki-laki itu menyukainya? Aih, tidak mungkin. Arona menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pemikiran itu. Memangnya Arona secantik apa sampai membuat Seno langsung jatuh hati padanya?