Septian punya caranya sendiri

778 55 2
                                        

Chapter 5. Septian punya caranya sendiri.

 Septian punya caranya sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

2335 kata
*****

Suara gelak tawa dari dalam rumah terdengar menyambut gendang telinga Arona yang baru saja sampai di rumah. Arona melihat jika ada motor lain yang terparkir di depan rumah, motor yang biasa di pakai oleh Adit ketika berangkat bekerja. Truk yang Adit bawa terparkir di depan perusahaan tempat Adit bekerja sebagai sopir truk. Dari rumah, Adit menggunakan motornya, motor Supra X miliknya yang sudah di pakai bertahun-tahun.

Arona melangkahkan kakinya memasuki rumah, mendapati Adit yang tengah bermain bersama Bian. Adit menggendong Bian di kedua tangannya, sementara tangan Bian mengepak seperti sayap. Bian biasa menyebut permainan ini dengan sebutan pesawat terbang, karena tubuhnya melayang di udara.

“Tante udah pulang!” sorak Bian yang pertama kali melihat kehadiran Arona. Bian tertawa lebar ke arah Arona. “Tante, aku terbang!” teriaknya girang.

Arona terkekeh geli melihatnya. Sementara Adit, laki-laki itu tertawa dengan napas terengah. Merasa lelah karena menggendong Bian dalam waktu lama. Adit menurunkan Bian. “Udah, Bian. Ayah capek. Kamu main mobil-mobilan aja lagi, ya.”

Bian mendesah kecewa. “Yah, Ayah.... Lebih seru main pesawat terbang.”

“Ayah kamu capek, Bian,” tegur Ratna. Perempuan itu baru kembali dari dapur dengan membawa sepiring makanan untuk Adit. “Ini, Mas makanannya.” Ratna memberikan piring itu kepada Adit.

Adit memegangi piringnya, lalu menatap ke arah Arona. “Udah makan malam, Ron?” tanyanya.

Belum. Arona belum makan malam. Arona melirik ke arah Ratna yang menatap tajam ke arahnya, baru setelahnya dia menatap Adit sambil tersenyum. “Udah, Mas. Tadi aku makan di luar.”

“Kamu mikirin diri kamu aja dulu, Mas. Arona dari luar, pasti udah makan dia mah,” sahut Ratna. Perempuan itu duduk di lantai, menemani Bian yang tengah bermain mobil-mobilan.

Adit menatap ke arah Arona sambil tersenyum. Dia mengerti kondisi Arona yang tidak dekat dengan Ratna. “Makan lagi, Ron. Ini Mbak kamu bikin makanan. Sayang kalau enggak di makan.”

Arona kembali tersenyum, lirikan matanya tertuju kepada Ratna yang terus saja menatapnya tajam. “Udah kenyang, Mas. Nanti kalau lapar, aku makan lagi.”

Adit mangut-mangut, mulai menyuap nasinya. “Habis interview tadi?”

Arona mengangguk. “Iya, Mas. Mulai besok aku udah mulai kerja.”

“Wah, selamat, ya.” Adit ikut senang mendengar. “Tadi Mas lihat motor di depan. Emangnya enggak kamu pakai?”

Arona melirik Ratna yang pura-pura tidak mendengar. Perempuan itu menyibukkan dirinya dengan Bian. Arona beralih menatap Adit lagi. “Aku naik bus aja, Mas. Biar enggak capek di jalan juga.”

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang