#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arona melirik Septian yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu tampak damai dengan tabletnya. Saat ini, mereka sudah berada di dalam pesawat dari beberapa menit yang lalu, dan pesawat sudah mengudara. Tidak ada delay, pesawat mereka berangkat sesuai jadwal.
Arona menyandarkan punggungnya ke kursi, rasanya begitu nyaman duduk di kursi first class. Ini pertama kalinya Arona menaiki pesawat, dan berada di first class. Biasanya, dia duduk di kelas ekonomi. Saking tidak adanya kegiatan yang bisa Arona lakukan, dia mengambil majalah yang ada di dekatnya, dan membacanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Baca buku aja.” Septian menyembulkan kepalanya sembari memberikan buku kepada Arona. “Aku tahu kamu bakal bosan di pesawat.”
Arona menurunkan majalahnya, menatap ke arah Septian. “Enggak usah, ada maja__”
Belum sempat Arona menyelesaikan ucapannya, Septian sudah terlebih dahulu mengambil majalah yang Arona pegang. Kemudian, Septian menggantikan posisi majalah itu dengan buku. Kedua sisi buku dia selipkan di ibu jari dan telunjuk Arona. “Baca buku lebih seru. Itu buku favorit aku.”
Arona menatap ke arah buku yang kata Septian buku favorit laki-laki itu. Bastard in California. Begitulah judul buku tersebut, dan Arona membuka halaman pertamanya, di sana terlihat peringatan jika buku tersebut di anjurkan di baca untuk 18+. “Novel dewasa?” tanyanya, menatap Septian.
Septian mengangguk. “Iya, kayaknya. Aku baru baca halaman pertama aja. Aku enggak ada waktu buat baca buku di rumah.”
“Katanya buku favorit.”
Septian mengangguk lagi. “Favorit karena lihat dari blurb-nya.”
Arona mendengus. Bagaimana bisa sebuah buku menjadi buku favorit hanya karena blurb-nya saja. Arona suka membaca novel, apalagi novel genre dewasa, tapi dia tidak mau membaca novel yang akan mendistorsi otaknya untuk memikirkan hal-hal kotor. “Enggak maulah.” Arona mengembalikan buku itu kepada Septian.
Septian mengedikkan bahunya. “Yaudah kalau enggak mau.” Laki-laki itu menaruh buku itu di atas pembatas antara tempat duduknya dengan Arona. “Kalau nonton aja, mau?”